Suatu Hari Di Irak: “Nobody shoot us today”


Tak pernah terlintas dalam pikiranku jika saat perang berkecamuk dengan ganasnya di Irak pada tahun 2007, aku akan bekerja disana. Semua orang bilang aku orang gila saat itu. Tahun 2007 memang salah satu tahun paling kelam bagi pasukan sekutu pimpinan Amerika Serikat. Di tahun inilah kematian tentara Amerika di Irak mengalami puncaknya sejak invasi Amerika pertama kali ke negara ini pada tahun 2003. Serangan bom dan IED (Improved Explosive Device) adalah cerita sehari-hari. Menurut perusahaan yang merekrutku, aku tak perlu merasa khawatir dengan kondisi perang di Irak karena aku akan dikawal oleh pasukan bersenjata selama bekerja disana. Selain itu Irak Utara tempat aku bekerja bukanlah “daerah konflik” seperti di Baghdad dan Falujjah.

Hari yang kunantikan untuk pergi ke Irak pun tiba setelah satu bulan aku hanya bengong di kantor pusat kami di Ankara, Turki. Sebelum berangkat seorang pegawai bagian personalia menyerahkan sebuah surat kepadaku untuk ditandatangani. Isi surat itu adalah sebuah perjanjian yang memastikan bahwa selama bekerja di Irak, aku tidak boleh menceritakan segala kegiatan yang kulakukan kepada siapapun, tidak boleh membawa kamera, tak boleh menaruh foto-foto orang yang bekerja disana ke internet, dan sebagainya. Aku tidak punya masalah dengan syarat-syarat yang harus kuikuti kecuali syarat dimana aku tidak boleh membawa kamera. Syarat ini sedikit membuatku putus asa karena selama berada di Irak aku tidak akan bisa menyalurkan hobi fotografiku.  Tapi, apa boleh buat. Demi pergi Irak aku rela menandatangi surat perjanjian tersebut.

Aku berangkat bersama seorang teman kerjaku dari Belanda melalui Istanbul dengan pesawat dari salah satu maskapai penerbangan swasta Turki yang namanya sangat sulit untuk dieja oleh lidahku….:-p. Maskapai ini adalah satu dari tiga maskapai yang berani melayani jalur ke Irak Utara saat itu. Dua maskapai lainnya berasal dari UAE dan Austria (Austrian Airways). Biasanya, perusahaan kami memilih Austrian Airways yang melayani penerbangan langsung dari Viena ke Sulaymania. Tapi, pihak Austrian Airways menutup jalur penerbangannya sampai waktu yang tidak ditentukan karena adanya “insiden penembakan” terhadap salah satu pesawat mereka yang sedang mendarat di Sulaymaniah beberapa waktu sebelumnya. Insiden itu sendiri memang sedikit simpang siur dan akupun tidak pernah tahu kebenarannya. Ada yang bilang bahwa insiden penembakan tidak pernah terjadi. Austrian Airways rupanya punya pendapat yang berbeda dan tetap percaya bahwa pesawat mereka ditembak dengan peluncur roket (RPG) oleh gerilyawan.

Pesawat yang membawa kami ke Irak adalah jenis MD-80 dengan jarak tempat duduk yang super sempit sehingga untuk menggerakkan kaki saja adalah sebuah perjuangan. Aku yang hanya bertinggi badan 175 cm sudah sangat menderita, apalagi teman Belandaku yang punya tinggi 185 cm. Dengkulnya pasti jauh lebih menderita daripada dengkulku. Sebisa mungkin kami menikmati perjalanan dengan suasana yang sedikit darurat tersebut. Kami berdua  berusaha tidur sepanjang perjalanan. Satu hal yang sedikit susah untuk dilakukan karena orang-orang Irak ngobrol terus dengan suasa keras sehingga suasana di dalam pesawat mirip pasar malam.

Keheningan terjadi beberapa saat sebelum pesawat mendarat di Sulaymaniah. Suasana di dalam pesawat benar-benar sepi kayak kuburan, hanya suara mesin pesawat yang terdengar. Ketegangan terlihat di wajah setiap orang. Aku jadi heran kenapa semua penumpang menjadi tegang padahal beberapa menit yang lalu mereka masih sangat heboh.

Aku bertanya kepada temanku, “Why do those people suddenly very quite, man?”

“They are nervous. We are going to landing,” jawab temanku enteng.

Jawaban temanku memang masuk akal. Hampir setiap penumpang pesawat terbang akan “nervous” setiap kali pesawat lepas landas atau mendarat. Biasanya setelah pesawat mendarat, penumpang akan terlihat lebih rileks dan terkadang ada yang bertepuk tangan. Tapi, anehnya hampir seluruh penumpang di dalam pesawat kami masih tetap diam setelah pesawat mendarat. Aku memperhatikan wajah-wajah mereka juga masih terlihat sangat tegang.  Terus terang aku jadi heran dan bertanya kenapa. Baru saja aku mau bertanya kepada temanku, tiba-tiba tepuk tangan dan teriakan tanda bahagia pun membahana di dalam pesawat tepat saat roda pesawat berhenti bergerak.

“What is wrong with these people?” tanyaku kebingungan.

 “Ah…nothing. Maybe, because nobody shoot us today,” jawab temanku kalem.

Mungkin maksud temanku hanya bercanda menjawab demikian, tetapi jawabannya tetap saja membuatku tersenyum kecut.  Dengan perasaan campur-aduk aku keluar dari pesawat. Aku hanya punya satu harapan ketika mendaratkan kakiku di Irak, yaitu bisa keluar dari negara ini dalam keadaan hidup…..:-)

Cerita Perjalananku di Irak lainnya:

Wanita Paling Berani Yang Pernah Kutemui

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi