Traveling Keliling Rwanda: 4 Kisah Di Dalam 4 Bus


Bus bisa menjadi tempat yang menarik berbagi kisah. Ngobrol dengan orang yang duduk di bangku sebelah bisa menjadi obat untuk mengusir rasa  bosan dalam sebuah perjalanan yang panjang. Percaya atau tidak, Rwanda adalah negara dimana aku paling sering berbagi kisah dengan orang yang duduk di sebelahku di dalam bus. Lebih mereka yang berbagi kisah denganku. Setiap individu yang kutemui adalah seubah pribadi yang unik dan kisah mereka aku rasa cukup menarik untuk diceritakan.

Kisah pertama yang kudengar berasal dari Kim, seorang mahasiswa IT Korea yang menjadi sukarelawan di Rwanda. Dia duduk persis di sebelahku dalam perjalanan dengan bus dari kota Ntrama menuju Kigali, ibukota Rwanda. Seorang Korea di Rwanda sebenarnya membuatku merasa sedikit heran. Kok bisa dia bisa sampai disini karena jarang sekali ada traveler dari Korea dan Jepang mau masuk ke Afrika sampai sejauh ini. Tentu saja aku bertanya tentang keanehan tersebut. Kim rupanya punya alasan sendiri. Dia sebenarnya sedang “melarikan diri” dari wajib militer. Seperti diketahui, Korea Selatan secara defacto masih terlibat perang dengan Korea Utara karena tak pernah ada perjanjian damai. Karena hal tersebut, setiap laki-laki Korea yang berumur 18-40 tahun wajib mengikuti pelatihan militer dengan beberapa pengecualian. Salah satunya adalah dengan menjadi sukarelawan di negara-negara paling miskin di dunia selama tiga tahun. Kim memilih menjadi sukarelawan daripada ikut dalam wajib militer dengan aturan yang ketat. Hm, tak semua laki-laki bertipe “macho man” rupanya……:-)

Bus Yang Membawaku Ke Berbagai kota Di Rwanda

Bus Yang Membawaku Ke Berbagai kota Di Rwanda

Orang berikutnya yang berbagi cerita dengaku di dalam bus adalah seorang anak muda Rwanda dari suku Tutsi yang punya nama sedikit ajaib, Aphrodisiac. Kata tersebut berasal dari bahasa Yunani yang berarti “makanan pembangkit gairah seks”. Aku tak tahu apa yang ada dalam pikiran orang tuanya ketika memberikan nama tersebut. Dasar orang tua gendeng!!!! Aku tak merasa heran jika kelakuan Aphrodisiac tak jauh-jauh dari namanya. Sepanjang perjalanan dari Ruhungeri menuju Gisenyi, dia mengajariku banyak kata-kata dalam bahasa Tutsi yang  yang berurusan dengan seksualitas…..:-p. Sayang, aku melupakan semua “ajarannya” yang sedikit sesat tersebut…..:-).

Kelakuan Aphrodisiac mengajariku berbagai kata-kata jorok dalam bahasa Rwanda adalah salah satu sisi. Di sisi yang lain Aphrodisiac adalah seorang yang punya cita-cita yang tinggi. Aphrodisiac punya cita-cita jadi Insinyur elektro dan bukan jadi produser film porno. Menurut pengakuan Aphrodisiac, dia sedikit punya masalah untuk mewujudkan cita-cita  tersebut karena keluarganya tidak punya cukup uang untuk membiayai kuliahnya di peguruan tinggi. Hal inilah yang menyebabkan dia pergi ke Gisenyi, untuk bertemu dengan neneknya yang kaya. Selain minta restu untuk masuk perguruan tinggi, Aphrodisiac juga mau meminta  uang untuk biaya uang kuliah. Mudah-mudahan Aprhodisiac berhasil “merayu” neneknya..:-)

Dalam perjalan pulang dengan bus dari Gisenyi ke Kigali, aku duduk bersebelahan dengan seorang guru bernama Franciscus yang juga berasal dari suku Tutsi. Dia sedang berusaha mengambil program master untuk meningkatkan karirnya sebagai guru.  Sepanjang jalan  Fransiscus menceritakan pengalamannya mengungsi ke Burundi pada saat “war time” atau yang lebih dikenal di dunia sebagai “Rwanda Genocide”. Aku hanya duduk mendengarkan ceritanya tanpa banyak berkomentar. Cerita tentang pengungsiannya ke Burundi cukup membuatku tidak merasa bosan selama 4 jam perjalanan dari Gisenyi ke Kigali.  Banyak orang Rwanda yang sangat menderita akibat genocide tersebut, tapi Franciscus dan keluarganya sangat beruntung. Neneknya yang orang Burundi membuat keluarganya leluasa pergi ke Burundi yang didominasi oleh suku Tutsi. Franciscus dan keluarganya kembali ke Rwanda setelah Kagame, pemberotnak Tutsi yang sekarang menjadi Presiden Rwanda mengambil alih kekuasaan. Tidak ada keluarga dekat Franciscus yang tewas dalam peristiwa genosida tersebut. Sebuah kisah hidup yang sangat berbeda dengan kisah hidup kebanyakan orang Tutsi lainnya yang kehilangan banyak anggota keluarga dalam perisitwa yang sama.  

Orang terakhir yang “menemani” dan berbagi kisah denganku di dalam bus adalah Mathias, seorang pengusaha. Kami menumpang bus yang sama dalam perjalanan pulang dari kota Butare menuju Kigali yang juga menjadi perjalanan terakhirku di Rwanda. Sebagai pengusaha, Mathias mengaku punya perusahaan kontraktor di Kigali. Dengan sedikit “sombong”, Mathias mengaku membangun beberapa gedung-gedung yang sekarang berdiri tegak di Kigali. Ketika kutanya kenapa dia naik bus akalu dia memang seorang pengusaha kaya, Mathias hanya menjawab mobilnya sedang diperbaiki di bengkel. Bisa aja “ngelesnya”…..:-p.  

Berbeda dengan Fransiscus dan Aphrodisiac, Mathias adalah seorang Hutu. Hal ini membuatku tergelitik soal  pendapatnya soal Rwanda sekarang. Mathias tidak menunjukkan sikap yang negatif. Dia malah sangat suka dengan Rwanda sekarang walaupun dipimpin oleh seorang presiden yang berasal dari suku Tutsi. Menurutnya, kebijakan pemerintah sekarang membuat orang-orang Rwanda lebih bersatu daripada sebelumnya. Jika sebelumnya asal suku wajib disebutkan dalam KTP (ingat jaman orba…:-p), sekarang kebijakan tersebut dihapus.  Mathias juga merasa lebih senang disebut sebagai orang Rwanda, bukan orang Hutu. Seperti yang dikatakannya kepadaku sebelum kami berpisah, “This is not “war time” anymore. I am a Rwandan and I am proud to be one.”

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting