Pramugari-Pramugari Yang Cantik……..Indonesia.


Dunia jalan-jalan saat ini tidak bisa dilepaskan dari dunia penerbangan. Dengan berkembang pesatnya eknomi Indonesia, naik pesawat bukanlah barang yang mewah lagi. Aku masih ingat ketika pertama kali naik pesawat tahun 1991 karena lulus masuk ke ITB. Aku senang bukan main  karena  sebagai anak kampung, naik pesawat pastilah sebuah impian. Sebagaimana hal-hal yang kita lakukan dalam hidup untuk pertama kalinya, kesanku naik pesawat ini juga tak pernah kulupakan.

Aku masih ingat penumpang-penumpang di dalam pesawat sebagian besar adalah turis bule. Sumut memang masih booming tourism saat itu. Sebagian lagi adalah orang-orang Indonesia yang berpenampilan elegan. Di sebelahku adalah seorang ibu berpenampilan aristokrat Jawa dan sangat lembut ucapannya. Dia ditemani oleh putranya yang bisu tapi kelihatan sangat cerdas. Ibu ini yang tahu aku baru pertama kali naik pesawat berusaha ngobrol denganku yang tentu saja kubalas dengan baik walaupun dengan logat Medan yang masih kental. Si ibu mengucapkan selamat kepadaku karena aku masuk ITB.

Dari semua momen naik pesawat pertama kali, yang tentu saja tak kulupa adalah pramugari-pramugarinya. Aku sampai ngiler melihat betapa “cantek-cantek”  nih semua pramugari.  Maklumlah, aku dulu tinggal di kota kecil di pinggiran Medan sana yang bernama Pancurbatu.  Susah cari orang cantik kayak mbak-mbak pramugari itu….:-).  Aku jadi sedikit “GR” ketika salah satu pramugari yang kuanggap paling cantik begitu banyak menolongku dan bertanya segala hal yang kuperlukan dan menganjariku menggunakan peralatan makanan di pesawat. Mungkin dia tahu aku baru pertama kali naik pesawat. Senyumnya yang terkesan misterius tak pernah kulupa, bahkan sampai hari ini. Aku sampai pernah ingin bertemu dengannya kembali. Begitulah kuatnya kesan pertamaku terhadap pramugari cantik yang sangat menolongku saat itu.

Bertahun-tahun kemudian terutama ketika sudah lulus kuliah, naik pesawat bukanlah hal yang ajaib lagi bagiku. Terbang sana-sini karena pekerjaan adalah hal yang sangat biasa. Di Indonesia, kebanyakan aku  terbang dengan maskapai  penerbangan pemerintah yang memang diwajibkan perusahaan. Bedanya, kali ini aku tak lagi dilayani secara spesial. Semuanya jadi terkesan biasa saja sampai suatu hari aku terbang ke Surabaya, masih dalam rangka pekerjaan. Pesawat yang kutumpangi sangat sepi saat itu karena  bertepatan dengan lebaran hari kedua. Hanya ada beberapa tempat duduk yang terisi.

Seorang pramugari yang cantik berumur sekitar di pertengahan 30-an tiba-tiba memilih duduk di bangku sebelahku yang memang kosong setelah dia selesai melayani para penumpang. Karena mungkin jumlah penumpang yang sangat sedikit, dia jadi punya waktu untuk istirahat dan memilih duduk di sebelahku.  Aku tadinya diam saja dan berusaha tidur karena aku memang masih ngantuk berat, tetapi sepertinya mbak pramugari ingin mengajakku ngobrol dan tak lama kemudian kami pun terlibat obrolan.

“Mau kemana Mas, kerja ya?” tanya si pramugari

“Iya, saya kebetulan tidak merayakan lebaran sehingga dapat jadwal untuk kerja,” jawabku.

 “Kerja dimana? Kok libur-libur begini kerja?” tanya pramugari dengan rasa ingin tahu.

“Saya kerja di rig pengeboran minyak, mbak. Saya jadi supervisor di sana. Kerjanya sesuai jadwal, tidak mengenal tanggal merah,” jelasku.

Ketika mendengara jawabanku, si mbak pramugari cantik ini langsung melihatku dengan tatapan dan senyum yang sedikit menggoda. Aku tentu saja jadi penasaran apa yang sedang dipikirkan olehnya mengenai pekerjaanku.

“Kok senyumnya gitu mbak?” tanyaku penasaran.

“Ah nggak……katanya di rig-rig pengeboran di tengah laut itu sering disedain cewek-cewek ya?” tanya di mbak pramugari.

 “Siapa yang bilang mbak?” tanyaku.

“Teman saya. Dia juga kerja di perminyakan. Katanya seperti ini,” jelas si mbak pramugari.  Bener nggak sih mas?”

Pertanyaan seperti ini bukanlah hal yang mengherankan bagiku karena sudah beberapa kali sebelumnya aku ditanya seperti ini. Aku tahu beberapa teman di dunia perminyakan suka melebih-lebihkan dunia pekerjaan kami seakan-akan orang yang kerja di sana nakal-nakal (padahal iya…:-p). Aku pun terpaksa menjelaskan sekali lagi betapa seriusnya pekerjaan kami kepada mbak pramugari yang cantik ini.

“Pekerjaan  kita sangat serius mbak dan tidak mentolerir kesalahan karena urusannya nyawa.  Semua orang yang tak berkepentingan dilarang masuk ke lokasi pekerjaan kami,” jelasku.

“Ah nggak percaya karena ada beberapa teman saya di perminyakan yang ngomong seperti itu,” ucapnya dengan senyum yang sedikit nakal.

“Wah sering nongkrong bareng orang minyak ya mbak?” tanyaku menggoda kali ini. Si pramugari hanya tertawa dan mengangguk mengiyakan. Wah, ternyata banyak teman-teman sejawatku  selama ini  kerjaannya ngegodain pramugari-pramugari. Telat gua…..hahaha.

Sampai pesawat turun dan kami berpisah, si mbak pramugari tetap tak percaya dengan penjelasanku. Dia bahkan sedikit menggodaku  dengan berucap, “Jangan nakal ya…….”

Bah……puyeng aku!!!! 

Nah….suatu saat aku balik ke kampung. Karena maskapai penerbangan pemerintah yang biasa kupakai tiketnya sangat mahal, aku terbang dengan pesawat “budget airline” milik Indonesia.  Jika sebelumnya aku bercerita tentang keramahan dua pramugari, kali ini aku bercerita tentang hal yang sebaliknya. Dari pertama masuk ke dalam pesawat, aku sudah sangat heran karena tak ada sapaan selamat datang seperti biasanya. Wajah para pramugarinya memang cantik-cantik, tetapi “jutek” setengah mampus. Sungguh pengalaman yang tidak mengenakkan. Menurutku, walaupun termasuk kategori “budget airlines” yang sebagian besar penumpangnya  membawa kardus-kardus Indomie, tetapi tak sepatutnya para pramugari tersebut bersikap “jutek” seperti itu. Mereka tetaplah penumpang yang harus dilayani dan sedikit senyum ramah dari para pramugari cantik itu akan membuat hari para penumpang lebih senang.

Pengalamanku naik pesawat “budget airline” bukanlah hal baru karena aku sudah terbiasa dengan Airasia dan Tiger Air di awal-awal berdirinya, tetapi  naik “budget airline” milik Indonesia  memang baru pertama kali. Jadi, aku tak menyadari jika di dalam pesawat tak ada makanan dan minuman yang dijual. Ketika aku merasa haus setelah satu jam di pesawat, aku berusaha menyapa salah satu pramugari untuk mencari tahu jika dia punya air minum lebih, tetapi sang pramugari pura-pura tak mendengar sepertinya. Aku memanggil beberapa kali, tetapi tak ada respons. Aku kesal setengah mati karena terpaksa menahan haus.  Untunglah aku hanya membeli one way ticket saja sehingga aku tak mengalami pengalaman pahit yang sama ketika balik ke Jakarta.  

Saat aku keluar dari pesawat, otak isengku pun kumat. Ketika melewati dua pramugari yang berjaga di pintu, aku pura menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal dengan jari tengahku. Semoga para pramugari jutek dan sombong  dan “jutek” itu melihatnya……..:-)

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: www.thisismoney.co.uk