“Curhat” Seorang Wanita Traveler Di Masa Tua….


Cerita ini adalah sepotong kisah perjalananku di Mesir yang terjadi ketika aku melakukan konvoi dari Aswan menuju Abu Simbel di Lower Egypt atau Selatan Mesir. Seperti diketahui, pada jama Hosni Mobarak berkuasa, turis atau traveler atau apapun namanya tak diperbolehkan melakukan perjalanan sendirian menyusuri Middle dan Lower Egypt dari Luxor sampai Abu Simbel karena rawannya situasi di sana. Hanya penduduk lokal yang diperbolehkan.

Aku berangkat bersama dua temanku asal Jepang, Katsumoto dan Nakamoto. Katsumoto seorang cowok anak kuliahan yang baru lulus dan bergaya sangat modern dan terkesan metroseksual. Tetapi, seperti traveler-traveler Jepang pada umumnya yang sangat minimalis, Katsumoto hanya membawa satu ransel kecil untuk perjalanan selama tiga bulan di Afrika Utara dan Timur Tengah. Sedangkan Nakamoto, ada seorang wanita Jepang yang cukup cantik dan sudah bekerja. Seperti wanita Jepang pada umumnya, Nakamoto terkesan malu-malu….:-).

Konvoi kami baru tiba di Abu Simbel Temple menjelang pukul 8.00 pagi karena keterlambatan beberapa peserta konvoi. Ada belasan bus dalam konvoi yang dikawal oleh beberapa mobil polisi.  Kawasan Abu Simbel Temple yang tadinya sepi kini hiruk-pikuk oleh kehadiran ratusan turis dari berbagai negara.

Abu Simbel Temple sebenarnya adalah kuil yang megah apalagi kuil ini langsung di pahat dari sebuah bukit. Rames II adalah Firaun Mesir yang memerintahkan pembangunan kuil ini. Sebagai informasi, kuil ini pernah menjadi tempat lokasi syuting film The Mummy 2. Walaupun megah, hanya setengah jam aku benar-benar menikmati kuil ini sambil motret sana-sini. Selebihnya, aku memilih bergabung dengan Katsu dan Nakamoto yang sedari tadi duduk di bebatuan di depan kuil dengan wajah bosan. Tentu aku gunakan kesempatan untuk sedikit flirting dengan Nakamoto yang membuatku jadi bulan-bulanan Katsu……:-p.

Kontemplasi (Contemplation)

Kontemplasi (Contemplation)

Obrolan yang penuh flirting dan celaan  antara aku, Katsu, dan Nakamoto harus berakhir ketika supir memanggil rombongan kami untuk kembali ke dalam bus. Setiap rombongan konvoi hanya diberi waktu dua jam berada di Abu Simbel. Ketika kami kembali, bus rupanya sudah dipenuhi oleh anggota rombongan yang memilih tempat duduk secara acak sehingga tempat duduk kami menjadi terpisah. Nakamoto mendapatkan bangku yang paling depan, sedangkan aku duduk di bangku paling belakang bersama Katsu.

Di sebelah kananku dan Katsu, duduk seorang wanita bule paruh baya yang langsung saja mengajak kenalan, Margareth namanya. Margareth terus terang berkata kepada kami berdua jika dia memang sengaja ingin mencari teman ngobrol daripada bengong selama perjalanan. Dia tidak bohong soal ucapannya. Sejak awal perkenalan, Margareth tidak berhenti ngobrol dengan kami sampai Katsu yang duduk di sebelah kiriku tak tahan dan memilih tidur. Aku bisa bilang 80% percakapan kami didominasi oleh Margareth. Sengaja aku membiarkan dia mendominasi pembicaraan karena sepertinya memang perlu baginya untuk sekedar melepas “uneg-uneg”.

Sebagai seorang pensiunan pegawai kantor pos di Genewa, Swiss yang memilih tidak menikah. Margareth pasti merasa kesepian di masa tuanya. Dia mengakuinya langsung kepadaku.

“Once, I feel so lonely,” ucapnya. I tried to get rid of it by traveling the world. But, it was still not enough.”

“So, what did you do?” tanyaku.

“I found a way. I make my house full of people by making it up as homestay for young travelers from Asia,” jawabnya. “Some students from Asia also stay in my house.”

“Why not westerners?” tanyaku pensaran.

“Because they are as individualistic as me. I did it once, but those western students not even say hello to me during their stay,” jawabnya.

“What is something different about Asian students?” tanyaku lagi.

Asian students are very welcome and also respect older persons,” jawabnya. They make me as their foster parents.” 

“Oh, I see.

Dunia ini memang penuh dengan orang-orang yang kesepian. Aku sudah terlalu sering bertemu dengan orang-orang seperti Margareth dalam perjalananku, traveling ke banyak tempat di dunia untuk mengisi kesepian mereka, walaupun aku belum pernah bertemu dengan orang yang begitu terus-terang tentang kesepiannya seperti Margareth.  Tanpa bermaksud menghujat, kebanyakan dari mereka berasal dari Eropa yang makmur. Kemakmuran hidup membuat orang semakin individualistis dan anti sosial. Sayangnya, Tuhan tidak menciptakan manusia itu untuk hidup sendirian sehingga keinginan bersosialisasi selalu “mengganggu” nurani seseorang. Begitu pula dengan Margareth. Untunglah dia punya cara bersosialisasi yang unik untuk mengatasi kesepiannya dengan cara yang lebih bermanfaat dan berguna bagi orang banyak. Sebuah cara yang elegan untuk mengusir kesepian.

Margareth tak hanya berbagi cerita denganku. Dia juga memintaku untuk memperbaiki kameranya yang rusak setelah melihat kamera Nikon D-70s milikku dengan lensa yang besar. Dia merasa sedih karena tak satupun gambar yang bisa diambilnya selama berada di Abu Simbel karena kameranya rusak. Aku mengutak-ngatik sebentar kamera poket Canon Margareth, tapi aku tak menemukan kerusakan. Dia sangat gembira ketika kameranya bisa digunakan kembali.  Sebagai rasa terima kasih dia mengundangku pergi ke Swiss. Dia menawarkan rumahnya sebagai tumpangan jika aku jalan-jalan ke Swiss. Melihat gaya travelku yang rada urakan, mungkin Margareth harus menunggu dalam waktu yang lama. Swiss bukanlah negara pilihanku bertraveling. Margareth memberi alamat email dan rumahnya sebagai tanda bahwa dia serius mengundangku untuk berkunjung.

Tak terasa cerita Margareth menemaniku selama perjalanan walaupun Katsu lebih memilih tidur. Margareth baru berhenti ketika kami singgah di bendungan Aswan. Sayang,  dalam perjalanan menuju Philae Temple selepas bedungan Aswan, Margareth tak lagi duduk di sebelahku sehingga aku tak lagi mendengar kelanjutan dari ceritanya. Aku sama sekali tak keberatan jadi tumpahan curhatnya karena aku pikir adanya aku memang perlu mendengarkan. Selain itu aku memang perlu belajar dari orang-orang tua seperti dia yang terlebih dahulu mengeyam asam garam kehidupan.

Terus terang, cerita Margareth tentang kesepiannya menggugahku untuk mulai berpikir tentang hidup menikah. Orang mungkin bisa tahan dengan begitu banyak percobaan dan halangan tetapi belum tentu bisa mengatasi masalah kesepian dan perasaan tak dibutuhkan. Sebab, seperti Mother Theresa pernah bilang,” Kesepian dan perasaan dikucilkan adalah penyakit yang paling mematikan…….

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting