Balada Senapan Tua…..


Cerita ini sudah lama terjadi, sekitar 9 tahun yang lalu di akhir masa perang sipil di Nepal. Setelah berhasil meloloskan diri dari amukan massa di perbatasan (baca: We will kill you!!), kami menuju Kathmandu dengan jip. Tadinya aku  berpikir tak akan mengalami “sesuatu yang heroik” karena perang sipil antara pasukan pemberontak Maoist dan tentara Nepal telah memasuki episode akhir. Kedua pihak yang terlibat konflik tersebut melakukan gencatan senjata karena wakil-wakil mereka sedang melakukan perundingan perdamaian. Aku jadi sedikit bersemangat setelah mendapatkan sedikit “thriller” di perbatasan yang mungkin saja bisa membuat kami terbunuh.

Gencatan senjata boleh berlangsung, tetapi kedua pihak yang bertikai tetap berjaga-jaga.  Jika perundingan tak berakhir dengan baik, kemungkin besar pertempuran akan berlanjut. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pos pemeriksaan militer di sepanjang perjalanan kami menuju Kathmandu. Ada sekitar delapan pos pemeriksaan militer yang harus kami lewati, dua diantaranya adalah pos pemeriksaan milik pemberontak Maoist. Aku sempat berpikir jika pemberontak Maoist akan meminta “sumbangan sukarela” sebesar $25 kepada kami seperti berita yang kudengar di kalangan traveler yang melewati pos pemeriksaan di wilayah mereka. Walaupun sifatnya “sukarela”, aku telah mendengar beberapa kejadian tak mengenakkan terjadi kepada traveler yang tak mau memberi sumbangan. Beruntung kebijaksaan yang dikeluarkan oleh pihak Maoist tersebut tidak berlaku lagi karena mungkin merasa mereka sudah berada di ambang kemenangan. Padahal, beberapa bulan sebelumnya ada teman traveler kenalanku yang datang ke Nepal harus rela “dipalak”.

Lee Enfield

Lee Enfield

Selama melewati pos-pos pemeriksaan militer ini, ada satu hal yang menarik perhatianku yaitu soal senjata yang dipegang oleh prajurit-prajurit di pos pemeriksaan. Tentara dan polisi pemerintah Nepal biasanya dipersenjatai sedangkan prajurit Maoist tidak membawa senjata. Walaupun bersenjata, aku tak merasa penampilan tentara dan polisi Nepal meyakinkan. Apalagi beberapa dari mereka masih menggunakan senapan super tua Lee-Enflied No 1 mk III buatan abad ke-19 yang dipakai oleh pasukan Inggris pada perang dunia pertama dan kedua. Senapan ini perlu dikokang setiap kali menembak. Orang boleh “mengejek” persenjataan TNI yang sudah tua, tetapi senjata tentara Nepal ini sudah kelewatan tuanya..:-p.

Apakah mungkin penyebab kekalahan tentara Nepal berperang dengan kaum komunis akibat kalah persenjataan dibanding lawannya kaum Maoist yang mendapat bantuan dari Tiongkok, aku pun tak tahulah. Yang jelas aku jadi sangat penasaran ingin mengetahui berapa umur dari senjata yang dipegang oleh tentara dan polisi Nepal itu.  Aku pun jadi iseng ingin bertanya.  Aku sudah mau berkomentar saja kepada seorang tentara di salah satu checkpoint militer soal senjata Lee-Enflied No 1 mk III yang dipanggulnya, tetapi Ben mencegahku. Dia takut kami dikemplang sama si tentara karena bisa dianggap “mengejek” senjatanya yang sudah tua renta itu….:-p. Ben memohon kepadaku supaya aku tak melakukannya. Kali ini aku pikir Ben lebih bijaksana dariku. Mungkin aku sudah kena tabok sama si tentara kalau aku tetap “iseng”…:-p.

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Photo: Wikipedia.

Advertisements