Mencari Penginapan Atau Hotel Tanpa Reservasi (“Go Show”)


Mencari penginapan atau hotel tanpa reservasi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam perjalananku yang sebagian besar tanpa rencana. Alasanku sederhana saja, karena aku tak punya rencana dalam perjalanan-perjalananku. Selain itu, aku memang tak pernah ambil pusing soal dimana aku harus tidur. Toh, aku juga hampir tak pernah ada di kamar selama melakukan perjalanan kecuali malam hari.

Buku panduan adalah alat terakhir bagiku untuk mencari penginapan dengan cara seperti ini karena sering sekali rekomendasi yang diberikan tidak sesuai dengan kenyataan dan penginapan sudah penuh oleh traveler-traveler yang percaya kepada rekomendasi buku panduan. Aku lebih mempercayai traveler-traveler nyentrik yang kutemui di jalan yang kebetulan pernah singgah ke kota yang aku akan tuju. Biasanya apa yang dikatakan oleh mereka lebih realistis daripada rekomendasi buku panduan. Selain traveler-traveler yang kutemui,  beberapa website internet seperti agoda, hostelbookers, wikitravel juga menjadi acuanku karena website ini menaruh statistik dan komentar dari para traveler yang pernah menginap di hotel atau penginapan yang ada dalam website.  

Aku pernah mencari penginapan dengan cara “go show” di berbagai negara di dunia mulai dari Indonesia sampai negara-negara di Afrika sana. Sebagian besar dari pengalamanku mencari penginapanku ini biasa-biasa aja, apalagi kalau mencarinya di siang hari dan di kawasan yang sangat turistik seperti Lijiang di Cina, Dahab di Mesir atau Istanbul di Turki. Menjadi sedikit “seru” ketika harus mencari penginapan di suatu kota atau tempat yang tak dikenal sebagai kawasan turis saat tengah malam dan tak ada orang yang kukenal. Aku pernah mengalami hal seperti ini di Kampala di Uganda dan Mbeya di Tanzania. Ada rasa ragu dan juga sedikit gentar, tapi semua itu membuat adrenalin semakin terpacu. Walaupun aku suka memacu adrenalin, tapi aku tak suka melakukan kekonyolan. Aku tak akan nekad berjalan kaki sendirian (walaupun akhirnya aku jalan kaki juga sendirian di tengah malam menyusuri beberapa bagian kota ini setelah aku cukup mengenalnya). Aku lebih memilih naik taksi dann bersiap dengan kemungkinan yang terburuk jika supir taksi berusaha mengerjaiku.

Satu keuntungan mencari penginapan atau hotel dengan cara “go show” adalah aku langsung bisa melakukan survey di tempat. Biasanya toilet lah yang paling pertama kuperiksa karena jika toilet tak bersih, aku yakin penginapan tersebut tak perduli soal kebersihan. Soal kasur yang terlalu keras dan hal-hal minor lainnya tak begitu bermasalah bagiku. Selama perjalananku di berbagai tempat di bumi ini aku pernah tidur di tempat yang lebih buruk seperti di pasar, lantai bus, emperan, dan sebagainya.

 “Fully booked” adalah masalah yang paling sering terjadi jika mau mencari hotel dengan cara “go show”. Aku pernah mengalaminya di Kairo dan Udon Thani di Thailand. Pengalamanku di Udon Thani taklah seburuk di Kairo. Di Kairo, aku terpaksa berjalan kaki berjam-jam mencari penginapan sambil menggendong ransel di punggung. Aku benar-benar gempor karena lokasi penginapan di Kairo terutama di Midan Tahrir biasanya terletak di lantai paling atas sebuah bangunan apartemen tua yang lift-nya sebagian besar rusak. Seringkali aku harus menaiki tangga sampai 10 lantai dengan beban ransel di punggung seberat hampir 15 kilo. Benar-benar sebuah mimpi buruk…:-p.

Selain masalah “fully booked”, faktor bahasa pun bisa membuatku harus “olahraga ekstra keras” mencari penginapan yang kutuju. Ini pernah terjadi di Kunming ketika pagi-pagi buta aku tiba di kota ini 6 tahun lalu tanpa informasi sedikitpun gara-gara terlalu tergantung dengan buku panduan yang kubawa.  Sialnya buku panduanku “dirampas” oleh petugas imigrasi Cina di perbatasan Cina-Vietnam gara-gara buku panduan itu tak menaruh Taiwan sebagai bagian dari Cina. Untung saja pagi itu ada seorang ibu yang berjualan peta lagi nongkrong di pinggiran jalan dekat terminal. Aku pun membeli peta Kunming darinya. Tapi, peta yang kubeli itu tak juga banyak menolong karena tak ada informasi sedikitpun soal penginapan murah. Aku pun berusaha mencari warnet untuk mendapatkan informasi soal penginapan murah di Kunming. Masalahnya, tak ada saatupun orang yang menjawab pertanyaanku soal warnet dan hotel di sekitar kawasan terminal bus Kunnming karena keterbatasan bahasa. Semua orang yang kutanya selalu menghindar dan berlalu sambil menunjukkan wajah bingung atau menggelengkan kepala.  

Hampir putus asa, aku kemudian pergi ke Universitas Kunming yang kebetulan ada di peta dengan asumsi bahwa di sekitar universitas pasti banyak warnet dan mahasiswa yang bisa berbahasa Inggris. Asumsiku tak salah karena aku bisa menemukan warnet disana dan para mahasiswa yang dengan senang hati menunjukkan cara menuju penginapan yang telah kupilih di internet. Saat itu, pilihanku jatuh kepada “The Hump Guesthouse” yang terletak persis di alun-alun kota Kunming.

Dengan menumpang bus yang direkomendasi oleh mahasiswa yang kutanya, aku menuju “The Hump”. Sialnya, aku tak bisa menemukan penginapan tersebut. Bertanyalah aku lagi kepada orang-orang lewat yang sebenarnya sia-sia saja karena seperti sebelumnya, semua orang hanya menghindar dan menggelengkan kepala. Karena tak tahu cara apalagi yang kulakukan, aku hanya berputar-putar di sekitar pusat kota dan bertanya kepada setiap orang yang lewat. Selama lima jam aku berputar-putar dan puluhan orang sudah kutanya, semua hanya menggeleng dan mengindar. Pertolongan datang ketika aku menyapa seorang gadis muda dan “Eureka!!!! Dia bisa berbahasa Inggris.  Dengan senang hati dia mengantarku menuju “The Hump” and you know what?!! “The Hump” hanya sekitar 20 meter dari tempat aku pertama aku turun dari bus…:-p.

Pengalamanku di Kairo dan Kunming memang menyebalkan tapi tak ada pengalaman yang lebih menyebalkan ketika aku mencari hotel dengan cara “go show” dengan dua orang traveler Korea yang baru saja menjadi temanku di Dahab. Aku terpaksa berjalan berjam-jam mengikuti mereka mencari penginapan hanya karena masalah perbedaan harga sebesar 1.5 Dollar per malam. Begonya aku ikut saja dengan mereka karena ingin tahu seberapa murah mereka akan menawar hotel. Perlu diketahui, harga $ 5.0  per malam untuk triple room adalah harga yang amat mahal bagi kedua teman Koreaku ini. Perjalanan mencari penginapan baru berakhir kita kedua orang Koreaku ini mendapatkan penginapan seharga $ 3.8 per malam untuk triple room. Sial!!!

Kebiasaanku tidak memesan kamar tetap menjadi “SOP” dalam perjalananku sampai aku menikah. Istriku yang terbiasa traveling dengan keluarganya menggunakan jasa travel agent sulit menerima ide spontanitasku dalam soal penginapan. Dia bisa menerima ide gilaku traveling tanpa rencana, tapi tidak dalam urusan penginapan. Aku “terpaksa” mengucapkan selamat tinggal kepada hobiku mencari penginapan dengan cara “go show”. Namanya juga orang menikah, harus ada kompromi……:-)