Cerita Supir Taksi Di Berbagai Negara


Aku sebenarnya sudah malas menulis walaupun masih banyak sekali cerita yang bisa kutulis di blog ini. Banyak alasannya, salah satunya adalah rasa bosan.  Lagian, sudah setahun ini aku tak pergi kemana-mana karena sibuk dengan urusan bisnis yang belum juga “pecah telor”. Aku sempat berpikir untuk menutup saja blog ini. Tapi, mungkin masih ada teman-teman yang ingin membaca cerita-cerita perjalananku. Aku pikir tak ada salahnya menulis lagi. Kali ini aku ingin bercerita tentang para supir taksi di berbagai negara yang pernah kukunjungi. Tak melulu soal tipu-tipu supir taksi, tapi juga soal hal-hal lain yang menggugah hati dan juga membuat bibir tersenyum.

Taxi-Coco-Cuba

Taxi-Coco-Cuba 

Sebagai traveler, taksi bukanlah kendaraan favoritku. Aku lebih senang menggunakan kendaraan umum walaupun kondisinya buruk (asal aku dapat tempat duduk….:-p) Alasannya, di kendaraan umum aku bisa berinteraksi dengan banyak orang dan merasakan langsung denyut nadi kehidupan di sebuah kota atau negara. Tapi, naik taksi dan berurusan dengan supir taksi bisa menjadi sebuah “seni” yang mungkin keruwetannya melebihi sesaknya penumpang di dalam bus….:-). Kalau lagi apes ketemu supir taksi jahil ya sudah hampir pasti dikadalin, tetapi jika ketemu supir taksi yang baik hati segal informasi bisa didapat dengan lebih mudah dan jauh lebih detail daripada info buku panduan yang terkeren sekalipun baik yang legal maupun ilegal….:-).

Supir Taksi Mesir

Taksi di Kairo ketika aku berada di Mesir 6 tahun yang lalu sebagian besar adalah taksi reot karatan yang bisa bikin tetanus. Tak ada argometer dalam taksi. Semua urusan ongkos diselesaikan dengan proses tawar menawar. Dua kali aku pernah naik taksi di Kairo, yaitu ketika aku tiba saat subuh di kota ini dan saat aku menuju bandara di malam terakhirku. Aku mendapat pengalaman yang hampir sama dengan supir taksi. Dua-duanya meminta tambahan ongkos di tengah perjalanan walaupun sudah ada kesepakatan harga sebelumnya.  Kalau tak dikasih, keduanya ingin menurunkanku di tengah jalan. Benar-benar supir taksi sialan….:-p

Selain di Kairo, aku juga pernah naik taksi di Dahab. Kali ini aku bukan mau komentar soal supir taksinnya, tapi soal taksinya yang mirip dengan mobil petugas kamtib di Jakarta….:-)

Supir Taksi Turki

Aku pernah tinggal di Ankara Turki dan punya supir taksi langganan. Aku tak pernah ditipu oleh supir taksi di kota ini. Mungkin karena tampangku yang mirip orang Turki dan juga aku mampu berbahasa Turki saat itu.  Orang Turki bisa dibilang punya “pride” yang tinggi. Sekali waktu aku pernah sedikit protes pada seorang supir taksi karen merasa dia membawaku berputar-putar. Sang supir taksi yang masih berusia muda ini rupanya tersinggung dengan ucapanku. Dia pun mengembalikan sebagian ongkos yang kuberikan sesuai dengan yang tertera di argometer.  Aku menolak karena merasa itu adalah haknya, tapi sang supir taksi mendesakku sampai aku terpaksa menerimanya. Dia ingin menunjukkan bahwa dia adalah orang yang jujur. Aku jadi sedikit menyesal karena sudah sedikit cerewet…:-p.

Pengalamanku di Ankara dengan supir taksi ternyata tak sebaik teman sekantorku orang Malaysia. Dia malah beberapa kali kena tipu,  salah satunya dengan supir taksi langgananku. Hm….aku tak mengerti ada apa dengan temanku. Kenapa supir taksi yang sama memperlakukan dua orang dengan sangat berbeda? Mungkin hanya temanku orang Malaysia itu yang bisa menjawabnya.

Supir Taksi Yordania

Pengalaman pertamaku dengan supir taksi di Yordania bukanlah pengalaman yang menyenangkan karena sang supir taksi berusaha menurunkanku di sebuah hotel yang tak jelas, padahal aku sudah bilang padanya soal alamat dan juga nama hotel yang kutuju. Walaupun begitu, aku tak kapok naik taksi di Yordania karena taksi di sana sudah modern, punya argometer yang jelas.

Aku pernah dimarahi oleh supir taksi di Yordania karena sang supir merasa aku membanting pintu dengan keras, padahal aku merasa menutup pintu dengan biasa saja. Dia pikir aku marah padanya. Aku sempat bingung ketika dia ngomel-ngomel kepadaku dengan bahasa Arab. Daripada terjadi bentrokan, aku pun akhirnya minta maaf dan bilang padanya aku tak sengaja melakukannya. Terus terang, aku menutup pintu dengan biasa saja. Setelah taksi berlalu, aku pun sadar jika taksi yang barusan kunaiki bermerek Mercedea Benz. Aku pun bisa mengerti kenapa supir taksi tadi marah-marah. Mercy gitu loh…..

Supir Taksi Malawi

Malawi adalah salah satu negara termiskin di dunia, tetapi jangan dikira negara ini tak punya taksi. Ketika melintas perbatasan darat dari Tanzania dan masuk ke wilayah Malawi, aku dan seorang temanku sedikit terkejut karena begitu keluar dari imigrasi Malawi karena ada Mercy Tiger yang lagi nongkrong dengan dua orang anak muda. Salah satunya hanya berpakaian ala kadarnya, dengan celana pendek dan kaos kutang. Ternyata keduanya adalah calo dan supir dari Mercy Tiger. Mobil ini dijadikan taksi oleh mereka untuk mengantar pelintas batas ke kota-kota berikutnya di Malawi. Suasana di perbatasan sangat sepi saat saat itu karena Malawi bukanlah negara tujuan turis. Kalau boleh dibilang, suasananya tak jauh dari gambaran film-film tentang perang di Afrika….:-p.

Anak muda yang berpakaian rapi dan pintar berbahasa Inggris adalah calo yang berurusan dengan kami, sedangkan anak muda yang hanya bercelana pendek dengan kaos kutang sebagai supir. Setelah debat cukup panjang, kami pun sepakat dengan ongkos yang ditawarkan. Sesaat kami berpikir bahwa hanya kami berdua yang menjadi penumpang. Ternyata kami salah karena taksi Mercy Tiger yang kami naiki adalah sharing taksi. Sialnya, karena keterbatasan bahasa Inggris sang supir tak berkata apa-apa ketika dengan cuek membelokkan taksinya keluar dari jalur jalan raya menuju ke sebuah perkampungan yang melewati hutan. Dia meninggalkan kami begitu saja di dalam taksi ketika sampai di perkampungan. Aku dan temanku tentu saja sedikit paranoid. Untunglah beberapa saat kemudian, seorang ibu-ibu gendut berwajah ramah masuk ke dalam taksi. Kami pun bisa bernafas lega. Tadinya kami sempat berpikir bakal dijadikan korban penculikan…..:-p.

Oh ya, sang supir taksi yang cuma bercelana kolor ini menaikkan tiga orang penumpang lagi. Salah satu dari tiga penumpang baru ini membawa sepuluh ekor ayam. Dua penumpang termasuk yang membawa ayam duduk di bangku belakang bersamaku sedangkan satu lagi duduk di depan bersama temanku. Terpaksalah aku harus “menderita” duduk berhimpit-himpitan dengan tiga orang yang salah satunya adalah Si ibu gendut yang pantatnya menguasai sebagain besar bangku membuat kami…:-p. Dan, tentu saja dengan sepuluh ekor ayam. Sepanjang perjalanan aku sibuk melihat ke arah sepatuku untuk memastikan ayam-ayam tersebut tidak berak di sepatuku…..:-p.

 Supir Taksi Malaysia

Aku pernah tinggal dua tahun di Kuala Lumpur. Tadinya aku berpikir kota ini lebih modern dari Jakarta termasuk urusan taksi, tetapi sepertinya mental supir taksi di Kuala Lumpur terutama yang suka nongkrong di kawasan Bukit Bintang tak jauh berbeda dengan supir-supir “taksi bodong” di Jakarta yang tak mau memakai argometer . Sudah entah berapa kali aku ke kawasan ini, tetapi setiap kali naik taksi, sang supir sudah mematok harga terlebih dahulu. Tak pernah mau memakai argometer.  Ternyata………:-)

Supir Taksi Vietnam.

Kecuali May Linh dan Vinasun, taksi-taksi di Vietnam adalah sebuah jaringan mafia sangat tersusun rapi mulai dari bandara. Aku selalu menikmati perdebatan dan saling memaki dengan supir-supir taksi Vietnam yang doyan tipu-tipu. Entah kenapa, aku seperti kecanduan “dijebak” oleh mereka karena sudah saking seringnya mau dikadalin…..:-).

Supir Taksi India

Aku dan seorang temanku melakukan wawancara kerja di Mumbay India ketika aku mengunjungi negara ini. Setelah wawancara selesai, aku dan temanku memutuskan keliling Mumbay dengan menyewa taksi yang modelnya persis dengan model taksi di Mesir. Supir taksinya seorang bapak tua berbadan kurus dengan kumis tebal dan wajah yang terlihat polos. Tak susah bernegosiasi dengannya karena dia langsung sepakat dengan harga yang kami tawarkan. Tadinya aku sempat berpikir dia bakal meminta uang tambahan setelah tur keliling kota kami selesai, tetapi bapak supir ini diam saja dan hanya menerima ongkos sesuai yang kami sepakati. Kalau dihitung-hitung dengan argometer taksi di Jakarta, mungkin ongkos kami sudah bisa mencari ratusan ribu rupiah karena kami menaiki taksinya hampir tiga jam. Terkadang Tuhan “menghukum” kita yang suka berprasangka buruk dengan memperlihatkan kejujuran orang-orang yang kita sudah curigai terlebih dahulu…:-)

Pengalamanku yang manis dengan supir taksi Mumbai ternyata jauh berbeda dengan supir bajaj. Beberapa kali naik bajaj, dua kali aku dikadalin. Salah satu supir malah kelewat gila. Dia sampai mutar-mutar dua kali, melawan arus, dan hampir tabrakan dengan mobil gara-gara ingin mendapatkan uang lebih….What an asshole….!!!

Banyak lagi mungkin cerita-cerita dengan supir-supir taksi di berbagai negara yang lain. Tapi, mungkin hampir sama kejadiannya dan mungkin sudah terlalu klise untuk kuceritakan seperti supir taksi di Thailand doyan memberi “iklan” kepada penumpang dan menjadi sales untuk klub-klub erotis atau supir-supir taksi di Tanzania, Kenya, dan negara-negara Afrik lainnya tak ada yang pakai argometer dan kalau melihat calon penumpang sedang terdesak pasti menaikkan ongkos….:-p. Semoga cerita soal supir taksi di atas tak terlalu membosankan untuk dibaca….:-)

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: http://www.epidemicfun.com/2010/30-most-unusual-taxis-from-around-the-world/