Wajah-Wajah Teman Seperjalananku dan Kisah-Kisah Mereka


Pada awal-awal blog ini dibuat, aku sudah memberi tahu tentang gaya travelingku yang lumayan “nyeleneh” dalam tulisan yang berjudul “Travel,  My Style. Demikian juga ketika mencari teman jalan, aku juga lebih sering menggunakan metoda “nemu di jalan”. Kalau cocok ya langsung jalan. Kalau nggak cocok atau beda tujuan ya bubar. Sebagian besar teman seperjalananku memang laki-laki walaupun ada sebagian perempuan. Perbandingannya mungkin sekitar 60:40. Jangan berpikir yang bukan-bukan dulu kalau punya teman perjalanan perempuan…:-).

Memilih teman yang baru kenal untuk share baik uang maupun ruangan haruslah berhati-hati juga. Jangan sampai ketipu, kena jebak, dirampok, dan mungkin saja hal-hal yang lain yang lebih fatal. Common sense atau akal sehat penting digunakan untuk memilih teman seperjalanan. Syukurlah, hampir semua teman seperjalananku orang baik-baik dan tak pernah bertemu psikopat….:-p. Walaupun terjadi perbedaan pendapat, kami bisa tetap berdamai dan berteman. Bahkan, ada sedikit kisah romansa yang terjadi dengan teman seperjalananku (yang bergender perempuan tentunya….:-p). Hayo yang mana…..?

Aku akan mulai dengan seperjalananku ketika mendaki Kinabalu. Awalnya, aku bersama Daniel, seorang insinyur elektro asal Swiss yang kerja di Singapura. Dalam perjalananan ke Laban Rata, bertemulah kami dengan Profesor Peta dan istrinya. Keduanya sudah berumur menjelang 70 tahunan tapi masih nekad mendaki Kinabalu sampai ke puncak. Aku bercerita tentang kisah mereka dalam tulisan berjudul “Orang-Orang Tua Yang Punya Nyali”

Prof Peta, His Wife, Me and Daniel

Prof Peta, His Wife, Me and Daniel

Selanjutnya aku mau bercerita tentang seperjalananku di Hongkong bernama Henry dan istrinya Alice. Keduanya sebenarnya asli Hongkong tapi kemduain beremigrasi ke Kanada dan menjadi pengusaha disana. Setelah pensiun dan merasa telah memberi yang terbaik kepada semua anak-anaknya, kedua pasangan ini pun melakukan perjalanan keliling dunia. Keduanya datang ke Hongkong hanya untuk bernostalgia dan ingin bertemu teman-teman lama. Satu hal yang paling kusuka dari Henry adalah kebiasaannya mentraktirku kemanapun kami pergi. Aku bisa menghemat pengeluaranku tentunya…..:-). Mereka juga senangpergi denganku karena merasa aku bisa dijadikan teman ngobrol. Sebenarnya aku punya teman satu lagi, Hisayo cewek asal Jepang. Aku menceritakan kisahku dengan mereka dalam tulisan yang berjudul “Hongkong:Tentang ex-WNI, TKW, Pasangan Pengusaha Pengelana, Pria Jerman Yang Kesepian, dan Seorang Gadis Jepang”. Aku tak akan menampilkan foto Hisayo disini….:-)

Henry dan Alice

Henry dan Alice

Teman seperjalananku berikutnya adalah anak muda asal Swiss yang baru lulus kuliah bernama Todd. Kami bertemu ketika sedang melakukan perjalanan di Vietnam untuk pertama kalinya. Sebenarnya aku punya teman-teman perjalanan lain dari perjalanan-perjalananku sebelumnya di  Kamboja dan Thailand.  Sayang, semua foto mereka hilang ketika laptopku crash. Ada ratusan foto yang hilang….:-(. Dari perjalananku di Asia Tenggara, ada satu yang masih berhubungan sampai sekarang yaitu Jason Park yang insinyur lulusan Jerman.

Todd

Todd

Berikutanya, aku mau cerita teman-teman perjalananku ketika menyusuri Tiger Leaping Gorge. Awalnya aku hanya berteman dengan salah satu dari mereka, Dannny yang berasal dari Amerika. Tetapi, Dannny kemudian memperkenalkanku dengan teman-temannya ketika kami sampai di Lijiang. Ada  Suzia dan pacarnya Rasmus asal Swedia serta French dengan pacarnya Paul asal Australia.  Salah satu hal yang menarik tentang Danny adalah keparanaidannya soal obat-obatan di Asia. Dia membawa obat satu kantong kresek gede dalam perjalanannya. Dia jadi bahan candaan kami gara-gara obat ini. Maklumlah, dia baru pertama kali ke Asia. French punya darah Indonesia dan bahasa Indonesianya cukup lancar. Hal lain yang membuatku sering tertawa adalah soal Suzia yang jauh lebih galak daripada pacarnya Rasmus. Cewek Viking ini juga pernah ribut denganku karena aku tak menuruti kata-katanya…..:-p. Aku berpisah dengan mereka di Shangrilla (Zhongdian).

Bersama Adam (Pemilik Restoran), Daniel, French, Rasmus, Suzia dan Paul

Bersama Adam (Pemilik Restoran), Danny, French, Rasmus, Suzia dan Paul

Sebenarnya dalam perjalanan ke Shangrilla, aku bertemu mahasiswa hippie asal Kanada bernama Matt tetapi aku tak punya fotonya. Kami sempat jalan bareng di kota ini. Di kota ini aku berpisah dan bertemu dengan teman-teman baru ketika melanjutkan perjalanan ke Lhasa, Tibet.  Aku berteman dekat dengan dua orang teman satu dormitory, Jake dan Jordan terutama dalam urusan minum bir. Jake seorang pemain rugbi asal Australia dan Jordan seorang “dokter gila” asal Selandia Baru. Kisah Jake dan Jordan aku ceritakan dalam tulisan “Jordan Dokter Gendeng”

Jake

Jake

Selain Jake dan Jordan, ada juga Ben, Vivian, dan Jerry. Kami berempat menyusuri Tibet dan Nepal. Bisa dibayangkan apa yang terjadi ketika empat orang lulusan dari perguruan tinggi terkemuka di tiap negaranya. Diskusi dan perdebatan yang panjang. Tapi, perdebatan lebih banyak didominasi oleh Ben dan Vivian. Ben lulusan Stanford, Vivian lulusan Berkeley, Jerry lulusan University of Shanghai dan aku dari ITB.  Satu hal lagi yang menarik adalah kami hampir dipukuli orang di perbatasan Nepal-Tibet. Aku sudah pernah menceritakannya dalam tulisanku yang berjudul “We Will Kill you!!”

Ben, Vivian, Aku, dan Jerry ber-selfie ria

Ben, Vivian, Aku, dan Jerry ber-selfie ria

Di Yordania, aku melakukan perjalanan bersama Eouin, seorang konsultan IT dari Dublin, Irlandia. Tak ketinggalan juga Jean Paul, seorang “old crack” dalam dunia traveling. Dia bekerja sebagai wartawan di Luxembourg. Kisah-kisah perjalanan gilanya dengan motor dan quartz di berbagai bagian dunia yang penuh konflik pada tahun 70-an dan 80-an terutama di Afrika dan Amerika Selatan sangat menginspirasiku. Walaupun banyak melewati negara-negara yang penuh konflik, tak satu peluru pun yang pernah menyentuhnya. Perjalananku dengan mereka kuceritakan dalam tulisan berjudul “Petra, Perjalanan ke Ribuan Tahun Yang Silam”

Jean Paul and Oeuin

Jean Paul and Eouin di Petra

Selanjutnya adalah Park dan Kwan asal Korea yang menjadi teman seperjalananku di Dahab, Mesir.  Aku belum bercerita tentang kisah mereka di blog ini, tapi aku menceritakannya dalam bukuku yang katanya bakal terbit dalam waktu dekat…:-). Kwan cukup gila walaupun kelihatan terpelajar. Dia keliling Timur Tengah untuk belajar cara membuat felafel, kofta, kebab, dan makanan Timur Tengah lainnya. Katanya dia mau buka restoran di Seoul sana.  Soal kegilaan tak perlu kuceritakan disini biar bikin penasaran….:-).

Kwan Silhouete

Kwan Silhouete

Selama di Mesir, aku jalan bareng Katsumoto yang tampangnya mirip bintang film Jepang, tapi dia tak pernah mengakuinya. Dia tipikal anak muda Jepang yang doyan traveling dengan gaya yang sangat minimalis….:-). Selain dia, ada teman satu felucca Lisa asal Amerika yang traveling bersama adiknya, Marry. Mereka berdua bekerja sebagai perawat. Keduanya hampir terlunta-lunta di Mesir karena bagasi mereka hilang di pesawat.

Bersama Lisa, perawat asal Colorado di dalam perjalan Felucca menuju Kom Ombo

Bersama Lisa, perawat asal Colorado di dalam perjalan Felucca menuju Kom Ombo

Di Pulau Zanzibar, semua teman jalanku adalah perempuan. Sebuah keberuntungan yang tiada taranya….:-). Ada Karen, Malen, Sarah, dan Anna. Anehnya ke-empat cewek ini semua berprofesi sebagai perawat. Aku sungguh-sungguh “dirawat” dengan baik oleh mereka…..:-p. Sayang aku tak punya foto Karen walaupun kami sempatkan foto bareng sebelum berpisah dengannya.

Marleen, Sarah, dan Anna

Marleen, Sarah, dan Anna

Di Dar Es Salaam Tanzania, aku berteman dengan Tri, orang Amerika keturunan Vietnam dan Jane, cewek Amerika yang melanjutkan perjalanan denganku di Arusha. Dengan Jane yang ikuta denganku bersafari di Serengeti, Ngorongoro, Lake Manyara, beradu pendapat adalah hal yang biasa. Sebuah ikatan pertemanan yang aneh….:-). Aku tak tahu dimana Jane berada sekarang, tetapi Tri masih menjadi teman di FB. Tri bekerja sebagai konsultan IT di Chicago.

Tri

Tri di Seaclife

Jane

Jane

Dalam perjalananku di Malawi, aku punya banyak teman jalan.  Salah satunya adalah Thomas, seorang pengusaha kafe asal Jerman. Sifatnya sangat tenang sehingga aku menjulukinya “The Good German”. Bahkan, aku sempat khawatir dia seorang psikopat karena hampir tak punya emosi. Walaupun dengan sedikit bercanda mengatakn dia mirip psikopat, rasa khawatirku tetap ada ketika aku sekamar dengannya dan Tim, temanku asal Amerika ketika kami sharing kamar di Lilongwe, Malawi..:-p.

Thomas

Thomas

Tim adalah teman perjalananku di Tanzania dan Malawi. Kami mengalami malam-malam yang gila yang levelnya mungkin sedikit dibawah film “Hangover”…:-p. Semoga kisah kami di Afrika tak banyak disensor ketika bukuku terbit…..:-). Tim bekerja sebagai konsultan IT dan tinggal di Perth. Sampai sekarang kami masih berhubungan dengan email dan sesekali saling telpon. Dia tak bisa melupakan segala kegilaan yang kami lakukan. Dia menganggapku mengajari dia banyak hal. Dia yang tadinya sangat takut berkeliaran di tempat-tempat yang asing menjadi orang yang lebih nekat ketika bergaul denganku. Tadinya tak berani naik bus di Afrika, Tim malah nekat menyusuri lorong-lorong gelap di kota Dar Es Salaam, Mbeya, Nkhata Bay, dan Lilongwe bersamaku. Dia menjadi percaya diri ketika aku mengajarinya bagaimana melumpuhkan lawan dengan cepat jika kami harus bertarung dengan orang ingin mencelakai kami…..:-).Aku sedikit menceritakan perjalanan kami dalam tulisan “Orang Paranoid Dan Orang Gila”

Tim

Tim di Nkhata Bay

Last but not the least, adalah teman jalan yang harus memakai janji “Till death do us part”. Kalau ini nemunya jelas “bukan di jalan”…..:-p. Yup, siapa lagi kalau bukan istriku sendiri. Dia yang sedari kecil menjelajahi Eropa, Australia, Jepang dalam sebuah perjalanan yang serba teratur dan tinggal lama di Amerika menjadi sedikit shock ketika mengikuti cara jalan-jalanku yang nyeleneh dan tanpa rencana. Aku bisa mengajaknya jalan di beberapa negara Indocina dengan syarat hotelnya harus minimal Bintang 3. Padahal, selama ini kalau jalan, aku selalu tinggal di dormitory. Banyak drama dan kelucuan-kelucuan yang terjadi. Mungkin suatu saat, aku bisa menulis kisah perjalanan kami dengan segala dramanya….:-)

Me and wife

Me and wife

Sebenarnya, ada belasan teman-teman jalanku yang lain. Sayangnya, aku tak bisa punya foto mereka karena aku memang tak suka narsis. Ketika aku mengunjungi suatu negara, aku lebih tertarik memotret keindahan negara tersebut. Mungkin, bagi yang doyan travel solo, tulisan ini bisa menjadi inspirasi untuk mencari teman jalan yang baik. Tak perlu malu untuk memulai sebuah percakapan atau obrolan walaupun tidak mendapat respons yang baik ketika mengajak berteman. Aku sendiri pernah mengalaminya beberapa kali. Aku juga pernah mengalami perlakuan rasial yang tidak mengenakkan dari beberapa traveler bule. Ada juga yang bersikap ketus. Tak perlu marah kalau mereka tak kelewatan. Tinggalkan saja karena masih banyak orang di luar sana yang mau dijadikan teman. Tapi, kalau mereka “jual”, jangan pernah takut untuk “membeli”.

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Foto: Jhon Erickson Ginting.

 

Advertisements