Elephantine Island, Kampung Orang Nubia


Sebelum aku pergi ke Aswan, aku hanya tahu soal bendungannya yang besar. Aku masih ingat ketika duduk di bangku SMA, bendungan Aswan menjadi salah satu topik dalam pelajaran sejarah dunia. Setelah menjejakkan kaki di Aswan, aku baru sadar kalau Aswan rupanya bukan hanya soal bendungan. Ada sedikit yang kurang dari pelajaran sejarah dunia SMA tentang Aswan karena buku-buku tersebut tak sedikitpun menceritakan peradaban orang Nubia, suku yang mendiami Aswan sejak ribuan tahun yang lalu. Padahal, peradaban Nubia sama tuanya dengan peradaban Mesir. Kemajuan peradaban mereka bisa terlihat dari situs-situs purbakala yang mereka bangun. Sayang, banyak dari situs-situs Nubia dan perkampungan-perkampungan mereka “ditenggelamkan” oleh pembangunan bendungan Aswan.

Bendungan Aswan

Orang Nubia kuno dikenal sebagai suku yang jago perang terutama dalam memanah. Sejak jaman sebelum Masehi, orang Nubia sudah berprofesi sebagai tentara bayaran. Selain jago berperang mereka juga pintar berdagang. Karavan-karavan mereka menguasai perdagangan di daerah yang sekarang menjadi negara Mesir dan Sudan. Kerajaan Nubia juga pernah menaklukkan kerajaan Mesir kuno. Kejayaan peradaban Nubia mulai menurun ketika bangsa Arab melakukan ekspansi ke wilayah ini dan memperkenalkan agama Islam. Kerajaan Nubia terakhir runtuh di tahun 1898.

Secara fisik orang Nubia persis seperti orang Afrika yang pada umumnya berkulit hitam. Perbedaannya mungkin terletak pada rambut mereka yang tidak sekeriting orang Afrika. Beberapa dari mereka bahkan punya rambut lurus. Aku tidak tahu apakah rambut mereka yang lurus itu natural atau karena “rebonding” di salon….:-p.

Pulau Elephantine adalah salah satu satu pulau diantara beberapa pulau-pulau kecil yang bertebaran di tengah sungai Nil. Hasan, salah satu staf Hotel Keylani tempat aku menginap menganjurkanku datang kesini untuk melihat sisa-sisa peradaban orang Nubia. Untuk mencapai pulau ini, biasanya para turis menyewa felucca (perahu layar tradisional Mesir) untuk meyebrang. Harga sewa perahu sekitar 25 pound sekali jalan tergantung cara menawar. Aku lebih memilih naik ojeg perahu yang jauh lebih murah. Ojeg perahu disini menggunakan perahu biasa dengan mesin tempel. Ojeg perahu biasanya dikhusukan untuk orang lokal dengan harga 0.5 pound sekali nyebrang. Usahaku naik ojeg perahu ini sempat tersendat gara-gara si kapten kapal minta ongkos lebih dengan alasan solar yang dipakainya disubsidi oleh pemerintah dan sebagai orang asing aku tidak termasuk sebagai orang yang disubsidi. Dia protes sambil ngomel-ngomel kepadaku. Dengan sengit dia minta 5 pound, tapi aku berhasil menawarnya menjadi 3 pound…..:-)

Aku berharap bisa melihat sisa-sisa kejayaan peradaban Nubia di Elephantine tapi aku hanya melihat sebuah perkampungan yang terkesan kumuh. Banyak rumah-rumah tradisional Nubia yang terbuat dari tanah liat seperti dibangun seadanya dan tidak dicat. Sampah juga berserakan dimana-mana. Jelas tidak ada sisa-sisa peradaban yang hebat di kampung ini. Aku mulai menyusuri jalan-jalan tanah yang berdebu berkeliling kampung. Kampung Nubia ini terlihat sepi, mungkin sebagaian besar orang sedang berkerja. Hanya ada beberapa orang tua dan anak-anak yang melihatku dengan pandangan rasa ingin tahu yang dalam. Mereka pasti berpikir ngapain juga “orang gila” ini nyasar masuk ke kampung mereka. Kampung mereka jelas-jelas bukan daerah turis. Walaupun tidak menyimpan sisa-sisa peradaban Nubia seperti yang diceritakan, aku sempat menemukan hal yang menarik di sini. Sebagian rumah di perkampungan ini menyediakan air minum di halamannya yang ditaruh di dalam gentong (kendi). Tradisi seperti ini adalah salah satu budaya orang Indonesia yang semakin hilang. Terakhir kali aku menemukan rumah yang menaruh air minum di halaman mungkin ketika aku masih duduk di bangku SD. Aku tidak pernah berharap kalau aku menemukan tradisi seperti ini di kampung orang Nubia yang ribuan kilometer jauhnya dari Indonesia.

Puas menyusuri kampung Nubia aku berjalan menuju Museum Nubia yang terletak di salah satu bagian pulau. Akhirnya aku bisa juga menemukan juga sisa-sisa peradaban Nubia walaupun hanya di museum. Tapi, ada hal yang sedikit mengganjal ketika aku akan membeli tiket masuk ke museum. Harga tiket masuk yang seharga 7.5 EP menjadi 10 EP dengan alasan dari penjual tiket kalau mereka tidak punya uang kembalian 2.5 EP (Pungli ternyata tak hanya berlaku di Indonesia…..:-p). Aku sempat menunggu selama 1 jam dengan harapan ada orang yang datang membeli tiket pakai uang pas. Beberapa turis memang datang membeli tiket masuk, tetapi para penjual tiket tetap memberiku alasan yang sama. Aku tetap tak mau ngalah. Akhirnya aku memilih  kembali ke Aswan dengan ojeg perahu. Sampai di hotel, aku langsung protes kepada Hasan.

“Hasan…..I didn’t found any interesting things in Elephantine,” protesku kepada Hasan.

“Maybe you didn’t really explore the island, brother, “ jawab Hasan kalem.

Aku hanya manggut-manggut mendengar jawaban Hasan sambil berlalu menuju kamarku. Hasan memang benar, aku memang tidak berusaha mengeksplorasi Pulau Elephantine karena selain museum disana ada Temple of Khnum dan beberapa reruntuhan kuil kuno. Dan, aku baru menyadarinya setelah membaca brosur di hotel…..:-p.

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi