Orang-Orang Bersenjata……..


Orang-orang  bersenjata otomatis adalah pemandangan yang sangat biasa di Afrika. Polisi bersenjata AK adalah pemandangan pertama yang kulihat ketika aku mendarati di pelabuhan Nuweiba di kawasan Gurun Sinai Mesir. Selanjutnya  aku harus membiasakan diri dengan berbagai pemeriksaan di setiap  checkpoint oleh polisi berpakaian sipil maupun yang berseragam.  Gurun Sinai yang pernah jadi ajang pertempuran antara Mesir dan Israel memang benar-benar dijaga ketat. Setiap persimpangan yang strategis selalu dijaga oleh para polisi dan tentara.

Pemandangan polisi dan tentara  Mesir yang berkeliaran dengan senjatanya tak hanya bisa dilihat di Sinai.  Kairo yang menjadi ibukota Mesir juga dijaga dengan ketat. Serangan bom memang bukan hal yang aneh di kota ini. Aku sempat dikejutkan oleh dua orang polisi berpakaian hitam ketika melewati sebuah jalan yang sepi dan tanpa lampu penerangan sedikitpun di kawasan Midan Tahrir.  Midan Tahrir  menjadi tempat berkumpulnya para traveler dari seluruh dunia. Luxor  juga tidak ada bedanya, apalagi kota ini pernah jadi sasaran kaum militan yang dikenal dengan ”Luxor Massacre”.  Aswan bisa dikatakan sedikit lega walaupun objek wisata penuh dengan polisi bersenjata. Setiap perjalanan yang dilakukan oleh turis asing di kedua kota ini harus  dengan konvoi yang dikawal oleh polisi bersenjata.  Mungkin karena dianggap kawasan berbahaya, setiap beberapa kilometer ada checkpoint yang dijaga milisi berpakaian khamis dan bersorban hitam dengan senjata shotgun di sepanjang jalan kedua kota ini. Kawasan Middle Egypt dimana kedua kota ini berada memang dikenal sebagai kantung-kantung para fundamentalis garis keras di Mesir.  Abu Simbel yang berada di kawasan paling selatan Mesir tidak ada bedanya dengan Luxor dan Abu Simbel. Bahkan bisa dikatakan sebagai tempat wisata yang dijaga paling ketat. Selain harus konvoi yang dikawal polisi bersenjata, setiap turis yang datang ke kota ini hanya boleh berkunjung beberapa jam saja. Pukul 2 siang Abu Simbel sudah tidak menerima turis lagi.

Bicara soal senjata, pada umumnya polisi dan tentara Mesir berseragam biasanya bersenjatakan senapan serbu (Assault riffle) varian AK baik itu AK-47, 56 dan desain terbaru varian AK yaitu AKM. Para polisi berpakain sipil bersenjata SMG MP-4 dan MP-5 buatan Hecler and Koch Jerman yang bisa disimpan di balik baju mereka. Tak perlu mengintip karena kadang-kadang polisi Mesir yang berpakaian sipil suka “show off” untuk menunjukkan jati diri mereka…….:-p.

Tanzania memang tak separah Mesir dalam urusan serangan bersenjata dan peledakan bom, tapi tetap saja polisi bersenjata varian AK berkeliaran di beberapa sudut kota. Setiap money changer dan bank juga dijaga oleh sekuriti yang bersenjata shotgun lengkap dengan jaket anti peluru.  Di Tanzania, tidak ada military checkpoint seperti yang ada di Mesir. Objek-objek wisata di Tanzania kebanyakan adalah objek wisata alam seperti taman-taman nasional. Taman-taman nasional di Tanzania selalu dijaga oleh polisi hutan yang juga bersenjatakan varian AK.

Negara Afrika berikutnya yang kutelusuri setelah Tanzania adalah Malawi. Seperti Mesir, Malawi juga punya banyak  checkpoint yang dijaga tentara dan polisi, tapi tak bersenjata. Checkpoint ini bukan ditujukan untuk pemeriksaan teroris, tapi dalam rangka membasmi penyelundupan arang. Arang memang dilarang untuk diperjualbelikan di Malawi. Para polisi dan tentara Malawi  tidak pernah memperlihatkan senjata ketika melakukan pemeriksaan di checkpoint. Aku baru melihat polisi bersenjata berkeliaran ketika aku menelusuri “Central Market”,  kawasan yang dianggap paling berbahaya di ibukota Malawi, Lilongwe. Seorang polisi bersenjata senapan mesin kaliber besar FN FAL cal 30 buatan Belgia. Ukuran FN FAL yang besar dan panjang sangat kontras dengan ukuran tubuh polisi Malawi tersebut yang bertubuh kecil dan kurus kering.

Setelah dari Malawi aku singgah di Tanzania sebelum melanjutkan perjalanan ke Kenya. Kota pertama yang aku singgahi di Kenya adalah Mombasa. Tak banyak polisi dan tentara yang bersileweran di kota ini, tetapi setiap kantor-kantor penting terutama money changer dan bank dijaga sangat ketat. Selain pagar tinggi dan barikade, bank-bank ini juga dijaga oleh orang-orang bersenjata yang dilengkapi dengan jaket anti peluru. Senjata yang dipakai oleh para satuan pengamanan bank di Mombasa adalah senapan serbu varian AK dan shotgun.

Kenya yang saat itu masih dilanda kerusuhan benar-benar dijaga ketat oleh polisi dan tentara. Perjalananku dengan bus malam dari Mombasa ke Nairobi menjadi sebuah perjalanan yang melelahkan karena seringnya pemeriksaaan yang dilakukan oleh polisi dan tentara. Hampir setiap 10 kilometer ada pemeriksaan yang dilakukan oleh polisi dan tentara Kenya yang bersenjata varian AK.  Anehnya, Nairobi yang terkenal dengan perampokan bersenjata berat malah bebas dari polisi. Bank-bank dan money changer yang dijaga sangat ketat. Seperti di Mombasa, bank dan money changer diberi barikade dan pagar yang tinggi dan tentunya dijaga oleh sekuriti bersenjata varian AK dan shotgun.

Rwanda dan Uganda adalah dua negara Afrika yang tidak mempertontonkan aparat keamanan bersenjata di kota-kotanya. Di Uganda polisi jarang sekali terlihat. Kota Kampala dan Kigali bisa dikatakan dua kota sangat aman jika dibanding dengan Lilongwe, Dar Es Salaam, apalagi Nairobi. Perbatasan Uganda-Kenya dan Uganda-Rwanda juga hanya dijaga oleh tentara-tentara yang tidak bersenjata. Perbedaan Kampala dan Kigali adalah setiap sudut Kigali masih dijaga oleh polisi-polisi walupun mereka tidak bersenjata.

Aku rasa pemerintah Rwanda dan Uganda melakukan hal yang tepat. Banyak orang yang nervous melihat orang-orang bersenjata bersileweran di jalan. Polisi yang tanpa senjata akan membuat orang merasa aman. Rwanda hanya memperkenankan tentaranya membawa senjata di perbatasan terutama perbatasannya dengan Kongo. Seperti tentara-tentara dari negara Afrika lainnya mereka juga bersenjatakan senapan serbu varian AK. Aku bisa berkesimpulan bahwa negara-negara Afrika yang aku kunjungi semuanya menggunakan AK sebagai senjata pasukan infantri dan juga polisi. Selain murah, AK memang sangat mudah penggunaannya.

Entah sampai kapan Afrika dipenuhi oleh orang-orang bersenjata. Bila masih diberi kesempatan oleh Tuhan, aku berharap ingin melihat kota-kota di Afrika tidak lagi dipenuhi oleh orang-orang yang memegang senjata. Semoga saja…..

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi