Tentang Arti Cinta Dan Mengampuni


Aku bisa katakan bahwa perjalananku di Afrika adalah “sebuah pencarian” terhadap Tuhan. Aku kehilangan iman kepada Tuhan setelah beberapa kejadian yang sangat sulit aku terima. Aku rasa Afrika sangat cocok untuk kujadikan sebagai tempat pencarianku. Berbagai hal ekstrim terjadi di Afrika mulai dari perang, penyakit mematikan, pembantaian massal, kemiskinan dan lain-lain. Terus terang, sangat sulit bagiku mencerna bagaimana orang Afrika  bisa bertahan hidup dengan lingkungan sekejam itu. Seperti sebuah cuplikan dialog dalam film “Blood Diamond menggambarkan keadaan tersebut: “God has abandoned this place long time ago”. Banyak orang kehilangan iman kepada Tuhan setelah mengunjungi Afrika. Sebagian dari mereka mungkin berpikir jika Tuhan ada, kenapa Dia membiarkan semua kejadian yang mengerikan terjadi di sebuah benua yang bernama Afrika. Seperti pepatah orang Sudan: “Tuhan mungkin sedang tertawa ketika Dia menciptakan tanah ini.”

Agak aneh memang jika aku pergi ke suatu tempat dimana orang sering kehilangan iman kepada Tuhan pada saat aku sendiri kehilangan iman kepada Tuhan. Tapi, aku percaya tak ada yang kebetulan di dunia ini. Mungkin saja Tuhan menggerakkan hatiku untuk menjelajahi Afrika supaya mataku bisa melihat bahwa banyak orang yang pernah mengalami hal yang lebih berat dariku. Kakipun melangkah ke berbagai tempat di Afrika dimana aku bertemu orang-orang sederhana yang luar biasa. Salah satu dari mereka adalah Madame Seraphim, penjaga  Ntarama Genocide Memorial di Rwanda.

Ntarama Genocide Memorial di Rwanda adalah “rumah” bagi sekitar 25,000 orang korban genocide. Sebelum peristiwa genocide terjadi, memorial ini adalah sebuah gereja. Tak banyak orang yang datang ke memorial ini  kalau dilihat dari buku tamunya.  Suasana memorial sangat sepi saat itu karena aku satu-satunya pengunjung yang datang hari itu. Madame Seraphime menyuruhku berkeliling memorial dan juga masuk ke kuburan para korban genocide yang berisi ribuan tulang-belulang manusia. Aku bisa merasakan suasana yang sangat pilu dan sedih ketika memasuki tempat ini.

Madame Seraphim telah menungguku di ruang depan memorial setelah aku selelsai berkeliling. Dia menjelaskan beberapa hal tentang kejadian genocide di memorial ini (baca tulisanku yang berjudul: “Genocide Rwanda Dari Sudut Pandangku:Ketika Perbedaan Menjadi Sebuah Kesalahan”). Matanya berkaca-kaca ketika dia menceritakan kembali peristiwa genocide di gereja ini kepadaku. Dia juga bercerita tentang peristiwa pembataian yang dialaminya di sebuah sekolah Nyamata, tempat dimana dia beserta seluruh anggota keluarganya mengungsi. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri seluruh anggota keluarganya dibantai milisi interhamwe, milisi suku Hutu yang didukung oleh pemerintah Rwanda saat itu. Menurut pengakuan Madame Seraphim, hanya dia yang lolos dari pembantaian di kamp Nyamata tersebut.  Anak-anaknya, suaminya, ayah ibunya, saudara-saudara sekandungnya semuanya jadi korban pembantaian genocide. Dia bisa selamat karena melarikan diri dan bersembunyi di semak-semak sampai berhari-hari, dalam kondisi kelaparan dan terluka.

Aku hanya terdiam menyimak setiap kata yang dikeluarkan oleh Madame Seraphim karena ketebatasannya dalam berbahasa Inggris.   Madam Seraphim sangat fasih berbahasa perancis sehingga kata-kata yang dia tidak mengerti dalam bahasa Inggris akan dia katakan dalam bahasa Perancis dan juga bantuan dengan bahasa isyarat.  Suasana memorial yang sepi dan lengang membuatku lebih mudah membayangkan kisah genocide yang diceritakan oleh Madam Seraphim. Lubang-lubang bekas granat dan peluru dibiarkan begitu saja untuk memberikan pengunjung bayangan tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Baju-baju bekas korban genocide di Ntarama Memorial

Pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi kemudian bermunculan di kepalaku tentang perasaan Madam Seraphim sendiri menghadapi kekejaman-kekejaman yang pernah dia alami. Rasa ingin tahu membuatku ingin bertanya hal-hal yang mungkin mengingatkan dia terhadap masa lalunya yang pahit (aku harus minta maaf untuk itu).

“Madam Seraphim, do you forgive the killers who killed all your family?”  tanyaku dengan rasa penasaran.

“Yes, I forgive them,” jawabnya dengan mata yang masih berkaca-kaca.

“Don’t you have any hatred in your heart? Don’t you want to kill them too for a revenge?” tanyaku lagi dengan penuh rasa ingin tahu.

“No, God forgive them. I forgive them,” jawabnya mantap.

“After all this happened to you, do you still beleive in God?” tanyaku semakin mengarah kepada hal-hal yang bersifat pribadi.

“Yes, I still beleive in God,” jawabnya mantap yang sekaligus membuatku kagum akan imannya.

“Do you still go to church?” tanyaku lagi.

“Yes, I still go to church every week. I love God,”katanya dengan yakin.

Madam Seraphim di depan Ntrama Memorial

Terus terang aku tidak punya pertanyaan lagi untuknya. Mataku malah berkaca-kaca setelah mendengar ucapannya. Bahwa masih ada orang di muka ini yang punya hati seperti dia, itu adalah sebuah anugerah. Hanya orang dengan hati yang penuh kasih dan penyerahan hidup yang dalam kepada Tuhan yang bisa melakukan apa yang dia lakukan. Walaupun segala kekejaman dan kekejian terjadi dalam hidupnya, dia tetap belajar mengampuni orang yang melakukan kekejaman terhadapnya. Aku terus bertanya-tanya bagaimana bisa dia berkata dia mencintai Tuhan setelah segala kejadian mengerikan yang menimpanya? Betapa besar hati yang dimilikinya. Tuhan itu memang ajaib. Dia tidak mengirimkanku seorang pendeta atau hamba Tuhan yang sering terlalu banyak teori.  Tuhan cukup memberiku seorang wanita Afrika sederhana yang punya kesaksian hidup yang luar biasa untuk menggugah hati dan pikiranku. Sejak saat itu aku tidak lagi berpikir  jika aku punya beban hidup yang paling berat di muka bumi ini. Masih banyak dan terlalu banyak orang punya masalah dan beban hidup yang jauh lebih berat , tapi tetap mau mengucap syukur dan mencintai Tuhan. Bagaimana dengan Anda?

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting