Nonton Film Ala Uganda


Kampala, ibuk kota Uganda hanya punya satu mall yang setara mall besar di Jakarta, Garden City Complex. Dari 7 negara Afrika yang kujelajajahi, hanya Ugandalah yang punya mall paling megah. Suatu kali aku sempatkan nonton film di cineplex yang ada di mall ini. Kali ini aku sendirian saja karena aku memang tak punya  teman perjalanan tetap selama berada di Uganda. Sejak berpisah dengan temanku Tim di Tanzania, aku tidak punya teman untuk melakukan “sedikit kegilaan” seperti yang kulakukan di Tanzania dan Malawi. Nonton film mungkin salah satu wujud dari rasa frustasiku karena tak menemukan “sebuah wadah” untuk melepaskan hormon adrenalinku…..:-p.

Pasar Sentral Kampala

Nonton film di bioskop seharusnya biasa-biasa saja, tetapi di ibukota Uganda-Kampala memang ada sedikit pengecualian soal ini. Aku sudah membeli tiket dan bersiap masuk kedalam bioskop ketika tiba-tiba dua orang petugas sekuriti mall yang menjaga bioskop menghadangku. Mereka tidak memperbolehkanku masuk ke dalam bioskop dengan tas kameraku. Kamera dan tasku harus tinggal di tempat penitipan. Aku tidak pernah tahu ada tempat penitipan tas di bioskop. Sepertinya aku pernah nonton film di belasan negara, tetapi baru kali ini tas tidak diperbolehkan masuk ke dalam gedung bioskop. Tentu saja aku ngotot tak mau menyerahkan tas kameraku karena isinya adalah kamera dan lensa-lensa yang harganya mencapai puluhan juta. Negosiasi dan “rayuan maut” dengan nada memohon kulakukan supaya aku diberi pengecualian, tetapi petugas tersebut tetap pada pendiriannya. Melihat situasi yang tidak kunjung reda, petugas sekuriti yang lain ikut nyamperin. Sebelum suasana makin memanas, aku menjelaskan kepada mereka kalau aku sudah kehilangan PDA di Malawi dan juga hampir kehilangan paspor di Tanzania. Aku tidak mau kehilangan barang-barang lagi. Bukannya kalem, mereka malah makin marah.

“We are not Tanzanian or Malawian!!” kata salah seorang sekuriti.

Melihat suasana semakin memanas, aku tak punya pilihan lain rupanya selain menitipkan tas kameraku. Tidak ada gunanya juga ngotot. Daripada berantem dan nggak jadi nonton film, aku pun memilih ngalah. Kalau bukan di mall, mungkin aku sudah melakukan “kekonyolan”…:-p. Aku hanya berharap tasku beserta isinya utuh ketika dikembalikan. Kekhawatiranku memang sedikit berlebihan kali ini. Ketika selesai nonton film, tasku dan isinya dikembalikan dengan utuh. Tak ada barang yang hilang. Orang Uganda bukanlah orang Malawi atau Tanzania, seperti salah seorang petugas sekuriti itu bilang………..

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi
Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting