Eksotisme Kathmandu: Kuil, Ganja, Dan Peninggalan Para Hippie…….


Perjalanan empat jam dari  Khodari di perbatasan Tibet-Nepal menuju Kathmandu bisa dibilang tanpa insiden walaupun aku dan ketiga teman seperjalananku (Ben, Vivian dan Jerry) harus melewati  sekitar 8 pos militer sepanjang perjalanan, termasuk dua pos militer yang dimiliki oleh pasukan komunis. Nepal memang masih dilanda perang sipil saat itu  walaupun telah memasuki babak akhir. Perundingan yang semakin berpihak kepada Partai Komunis Nepal membuat kami tak menjadi “korban palakan”. Biasanya, setiap turis yang melewati pos militer pasukan komunis akan “dipalak” $25 dollar sebagai “sumbangan sukarela, seperti yang dialami temanku asal Irlandia setahun sebelumnya.

“Pemandangan Menarik Dalam Perjalanan Dari Khodari ke Kathmandu

Kami berempat langsung menuju kawasan Great Thamel ketika tiba di Kathmandu. Ben yang punya buku Lonely Planet  memberi rekomendasi soal penginapan. Dia memilih sebuah hostel di kawasan Thamel yang dekat dengan pasar tradisional karena suasananya lebih tenang.Aku dan Jerry tak keberatan dengan pilihan Ben. Seperti biasa aku lupa nama penginapannya. Maklum saja, aku  bukanlah orang yang terlalu suka repot dengan urusan penginapan.

Sebelum bercerita tentang perjalananku di kota ini, aku mau bercerita sedikit soal kota Kathmandu dan orang-orang yang terkenal yang pernah datang kesini. Bisa dibilang kota ini dipopulerkan oleh kaum hippie yang di tahun 60-an dan 70-an sedang dilanda romantisme menempuh kembali perjalanan darat dari Eropa ke Asia melalui “Jalur Sutera” yang kemudian dikenal dengan “hippie trail”.  Kathmandu adalah kota terakhir dalam jalur “hippie trail” tersebut. Tak seperti turis lainnya yang kebanyakan travel dengan group tour melalui jasa travel agent, para kaum hippie hanya menenteng ransel dan melakukan perjalan secara indpenden. Sejak saat itu, istilah “backpacker” pun disematkan kepada kaum hippie ini dan istilah ini populer sampai sekarang.Kathmandu seakan menjadi tempat bagi para hippie untuk mengekspresikan kebebasan.Ganja dan seks bebas menjadi keseharian dan tak ada larangan yang jelas di kota ini mengenai dua hal tersebut. Beberapa nama terkenal pernah singgah di kota ini seperti Bob Marley, Bob Dylan, Jimmie Hendrix, dan pasangan Tony/Maureen Wheeler si pendiri Lonely Planet. Tony dan Maureen Wheeler adalah hippie yang jeli melihat peluang bisnis.Jika para hippie lain sibuk mabuk dan lupa daratan, mereka malah membuat buku panduan perjalanan yang sekarang dikenal dengan Lonely Planet.Buku pertama Lonely Planet yang terbit berasal dari pengalaman perjalanan mereka menyusuri “hippie trail” yang dimulai dari London.

Kawasan Great Thamel Dengan Latar Belakang “Monkey Temple”

Selesai check in kami berjalan kaki menuju Durbar Square yang hanya berjarak sepelemparan batu dari penginapan.Durbar Square ini adalah tempat berkumpulnya beberapa kuil-kuil pemujaan. Kami berkenalan dengan seorang tour guide lokal di tempat ini yang akhirnya kami sewa setelah dia membujuk Ben dengan berbagai macam alasan yang cukup masuk akal. Ben memang ingin tahu sejarah Durbar Square. Kumar, nama guide itu memang memberikan banyak informasi soal Durbar Square termasuk “sisi lain” dari Durbar Square ini yang tak diketahui oleh banyak orang. Yup, aku memang pernah mendengar selentingan bahwa tempat ini pernah menjadi tempat para hippie menikmati ganja dan berbagai jenis narkotika.Kumar memang membenarkan hal tersebut. Dia lalu menunjukkan salah satu kuil yang menjadi tempat para hippie menikmati ganja, sampai-sampai nama kuil ini berubah nama menjadi “hippie temple”. Menurut Kumar, “hippie temple” adalah salah satu tempat favorit Bob Marley untuk mencari inspirasi bagi lagu-lagunya sambil mabok ganja. Soal kebenararan cerita ini, aku pun tak pernah tahu.

Durbar Square Kathmandu

Kegiatan menghisap ganja di “hippie temple masih dilakukan sampai sekarang walaupun ganja telah menjadi barang yang  illegal di Nepal. Pemerintah  Nepal tak benar-benar mau menghilangkan tradisi “ngegele” ini. Mungkin karena pendapatan terbesar dari negara ini adalah turisme sehingga pemerintah Nepal sedikit kompromi soal yang satu ini. Makanya aku tak heran  ketika Kumar menawari kami ganja. Sayang, tak ada diantara kami yang berminat dengan tawarannya…:-).

Perlajalanan kami dengan Kumar di Durbar Square berakhir di kuil Dewi Kumari atau dalam bahasa Nepal disebut “Khumari-Ghar, salah satu kuil yang selalu menjadi pusat perhatian para traveler. Di dalam kuil ini ada anak gadis kecil  yang dianggap sebagai titisan Dewi Kumari. Predikat Dewi Kumari yang dipegang si gadis kecil hanya beberapa tahun saja dan berakhir ketika dia mengalami menstruasi. Posisinya akan digantikan oleh gadis kecil cantik yang lain setelah melewati sayembara pemilihan Dewi Kumari dan serangkaian test. Pemerintah Nepal masih melakukan sayembara pemilihan Dewi Kumari sampai saat ini. Kabarnya, uang yang diberikan kepada si gadis kecil yang mau menjadi Dewi Kumari adalah sekitar  Rupee (Nepal) 1,000,000. Harga itu setara dengan Rp 120,000,000. Menurut Kumar, setiap anak gadis yang menjadi Dewi Kumari haruslah yang paling berani, cerdas dan cantik daripada gadis-gadis kecil lain yang mengikuti kontes.Sayangnya, nasib baik tidak menjadi milik “titisan Dewi Kumari” ini setelah gelar tersebut tak mereka sandang lagi. Sebagian besar dari mereka tidak menikah karena kebanyakan pria-pria Nepal menganggap menikahi wanita yang pernah menjadi Dewi Kumari akan mendatangkan kutuk kematian.

Suasana Di Kuil Dewi Khumari (Khumari-Ghar) di malam hari

Selepas Kumar pergi, ada dua orang traveler bertampang Latin yang mendekati kami.Entah “kesambet” atau lagi pingin ngajak ribut, kedua orang ini mulai memprovokasi dengan mengomentari setiap obrolan kami.Awalnya aku tenang saja, tapi lama-lama tak tahan juga.Ben dan Jerry seperti biasa hanya cari aman saja, tapi tidak denganku.

“Do you have a fucking problem with us, man?” tanyaku kepada kedua orang itu dengan nada kesal.

Mereka terdiam dan anehnya tanpa menjawab keduanya langsung ngeloyor pergi. Terus terang, aku tak mengerti  maksud kedua orang tersebut memprovokasi kami. Aku membiarkan saja dan tak berusaha memprovokasi balik.

“Freak Street”, sebuah jalan yang terkenal sebagai tempat berkumpulnya “orang-orang aneh” dari berbagai penjuru dunia adalah tujuan kami berikutnya. Ben memang sudah bermimpi untuk menelusuri jalan ini. Aku tak tahu nama sebenarnya dari jalan ini dan mungkin mulai dinamai “Freak Street sejak  para traveler hippie yang bertingkah sedikit esktrim datang kesini. Sampai sekarang pun orang-orang sedang mencari makna hidup dengan cara yang sedikit unik masih sering datang kesini. Mungkin mereka merasa punya teman untuk bertingkah aneh dan tentunya mereka tak merasa diri mereka aneh ketika berkumpul dengan teman-teman sejenis mereka.

Ben Teman Jalanku lagi nyantai di Freak Street

Kawasan Great Thamel di malam hari sama hiruk pikuknya dengan siang hari. Para traveller baik yang bergaya hippie maupun yang biasa saja sampai turis yang di-guide oleh tour operator berbaur menikmati malam di kawasan ini.  Kami pun tak mau kehilangan kesempatan dan larut dalam riuhnya suasana. Musik yang hingar bingar dari deretan restoran dan diskotik seperti saling bersaing menunjukkan suara yang paling keras. Toko-toko souvenir di sepanjang jalan ini tak mau kalah dengan kerasnya suara diskotik. Setiap turis yang lewat diteriakin untuk sekedar menengok jualan mereka. Kondisi Great Thamel di malam hari memang tak ada bedanya dengan “ghetto” traveller di berbagai belahan dunia seperti Kaosan Road Bangkok, kawasan Colaba Mumbai, ataupun Kuta di Bali sana. Perbedaannya mungkin terletak pada adanya pasar tradisional yang tak jauh dari lokasi “dugem” para traveller ini.  Sepertinya dunia terbelah menjadi dua di kawasan Great Thamel. Di satu sisi, para traveller sedang menikmati kegilaan dunia sedangkan di sisi yang lain para pedagang tradisional berjualan kebutuhan hidup sehari-hari penduduk Kathmandu.

Great Thamel Di Malam Hari Di Sisi Tempat Dugem

Great Thamel Di Sisi Yang Lain: Pasar Tradisional

Kumar masih menjadi tour guide kami di hari kedua keberadaan kami di Kathmandu. Ben yang lulusan Stanford itu masih ingin mengetahui detail sejarah  Kathmandu. Aku dan Jerry tak keberatan dengan ide Ben.Vivian juga setuju-setuju saja untuk kembali menyewa Kumar yang sudah siap sedia di Durbar Square menunggu kedatangan kami. Dengan berjalan kaki kami berlima menyusuri lorong-lorong kota Kathmandu melewati kawasan-kawasan kumuh dan “off beaten track” untuk menghemat waktu menuju Boudhanath (Boudha) yang menjadi tempat bermeditasi bagi para biarawan dan juga penduduk Nepal. Kumar membawa kami ke tempat-tempat seperti ini untuk melihat sisi lain dari Kathmandu. Aku rasa Kumar tak perlu menunjukkan tempat-tempat kumuh ini karena di Great Thamel sendiri suasananya sudah sangat kumuh dan padat. Aku hanya tak mau mengatakannya kepada Kumar…..

Boudhanath

Sejak tiba di Kathmandu bisa dikatakan jalan-jalanku sangat turistik dan hanya mengunjungi objek-objek turis. Sedikit membosankan memang, tapi aku juga memang sudah terlalu malas melakukan pertualangan ekstrim seperti yang kulakukan di Yunan dan Tibet karena fisikku yang sudah sangat lelah. Aku sempat terpikir untuk pergi ke Pokhara, tapi aku akan melihat hal yang sama, deretan pegunungan Himalaya yang bersalju.Menikmati “eksotisme Kathmandu” mungkin adalah yang paling masuk untuk dilakukan.

Pasopatinath

Pasopatinath adalah tempat yang paling tak kusukai di Kathmandu.Tempat ini sebenarnya bukan tempat wisata, tapi anehnya buku-buku panduan travel malah menjadikan tempat pembakaran mayat ini sebagai sebuah tujuan wisata yang dianggap eksotis.Terus terang, aku tak tahan mencium bau daging manusia yang sedang dibakar. Bau daging manusia tersebut melekat di pakaian kami membuat selera makanku sempat hilang.Aku sangat senang ketika Kumar mengajak kami menuju “Five Stupa”, sebuah kuil yang dijadikan oleh para manula untuk berkumpul. Kami mengalami hal yang menarik ketika bertemu dengan seorang Sadhu eksentrik bernama Baba Ji. Dia banyak memberi petuah. Ben memberikan sedikit tips sebagai rasa terimakasih. Baba Ji sebenarnya cukup terkenal karena pernah menjadi gambar sampul buku Lonely Planet India.

Baba Ji

Perjalanan turistik kami berakhir di Monkey Temple, sebuah kuil yang dibangun diatas bukit kecil di tengah jantung kota Kathmandu. Asal-muasal nama “Monkey Temple” disematkan kepada kuil ini mungkin karena banyaknya monyet yang berkeliaran disini. Seperti di tempat lain, monyet-monyet disini juga sangat usil. Kami harus berhati-hati supaya barang-barang kami tidak “dikutil” oleh monyet-monyet ini.

Puncak bukit di Monkey Temple adalah tempat yang paling cocok untuk melihat keseluruhan lembah Kathmandu.Selebihnya, aku tak melihat hal yang menarik. Aku lebih tertarik ngobrol dengan seorang penjual “kukri” yang mengaku bahwa pisau “kukri” yang dijualnya adalah milik bekas tentara Gurkha. Sebuah strategi marketing yang terlalu dipaksakan dan membuatku tersenyum dengan bualan si penjual.Pisau “kukri” adalah senjata tradisional orang Nepal. Setiap rumah di Nepal sana pasti punya “kukri”. Daripada berdebat dengannya, aku lebih memilih mendemonstrasikan kemahiranku bermain pisau yang membuat si penjual dan beberapa temannya terkagum-kagum.Aku sedikit tersenyum pogah melihat mereka. Untung saja Tuhan diatas sana tidak memberiku “pelajaran” karena sikap pongahku tersebut……:-p.

Monkey Temple

Sebelum berpisah, Kumar punya ide yang menurutku sedikit dipaksakan gara-gara Ben dan Jerry menganggapku sangat mirip dengan Kumar.Kumar langsung saja bilang bahwa aku dan dia adalah “cosmic brother”. Artinya, di alam yang kosmik yang lain kami berdua mungkin bersaudara. Dan, sebagai “cosmic brother” kami berdua wajib saling menolong. Bah, aku sudah mewant-wanti kata “saling menolong” yang dimaksud Kumar. Dia pasti punya “ide yang menarik” soal itu. Saat itu mungkin orang akan mengatakanku terlalu curiga dengan maksud Kumar. Tapi, beberapa bulan setelah pulang dari Nepal, Kumar benar-benar memanfaatkan istilah “cosmic brother” tersebut untuk meminta uang dengan alasan dia sedang kesulitan. Aku tak menganggap dia penipu. Tapi, memberi uang kepada orang yang kukenal hanya dua hari sepertinya bukanlah gayaku…..

Hanya ini yang bisa kuceritakan soal Kathmandu dan pengalamanku disana. Selebihnya kota ini masih harus bergulat dengan kemiskinan, kekumuhan, ketidakadilan yang juga menjadi predikat kota ini selain ke-eksotisan.

Cerita perjalananku di Nepal lainnya ada di:

We Will Kill You!!!

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi
Copyright Foto-Foto: Jhon Erickson Ginting