Keramahan Orang Bai di Yunan….


Aku tak terbiasa melakukan perencanaan dalam perjalananku. Kemana aku mau pergi ke sanalah kakiku melangkah. Demikian juga dalam perjalananku melintasi China menuju Tibet dan Nepal, rencana awalku aku akan pergi ke Lijiang tanpa harus ke Dali untuk mengejar perjalananku sampai Chengdu dan kemudian Tibet. Tetapi, seorang teman traveler dari Inggris yang nongkrong bareng aku di sebuah bar di Kunming menganjurkanku untuk pergi ke Dali terlebih dahulu sebelum pergi ke Lijiang. Entah kenapa  aku termakan dengan omongannya dan berangkatlah aku ke Dali dengan bus pagi dari Kunming.

Tak punya buku panduan, aku hanya bermodalkan tanya sana-sini dan internet. Dari informasi di website Frommer’s, aku tahu bahwa bus akan berhenti di Xia Guan, kota baru yang menjadi perluasan dari kota lama Dali. Di terminal aku sedikit bengong karena tak punya informasi apa-apa. Tahu sendiri orang di Cina daratan nggak pakai bahasa Inggris kalau ngomong. Aku cuma tahu ada bus yang menuju kota lama Dali dari Xia Guan.  Aku sudah berusaha mencari bus tersebut tapi tak ketemu. Supir taxi yang melihat seorang calon korban langsung mendekatiku dan bertanya mau kemana tujuanku. Ketika aku jawab Dali, si supir langsung bilang,” No bus to Dali, only taxi.”

Perkataan si supir taxi rupanya didengar oleh seorang ibu-ibu penjual peta disitu. Dia mendekatiku dan menawarkan peta Dali. Aku memang belum punya peta Dali dan membeli dari si Ibu seharga 10 Yuan. Setelah membeli petanya, dengan bahasa Inggris terbata-bata ditambah dengan bahasa isyarat, si ibu penjual peta memberitahuku supaya menunggu bus tujuan Dali di halte bus. Si ibu juga bilang jika dia berasal dari suku Bai. Entah apa maksudnya dia mengaku sebagai orang Bai, tetapi yang jelas aku berterimakasih atas pertolongannya.  Selamatlah aku dari kehilangan uang yang tidak perlu. Itulah pertama kalinya aku ditolong oleh orang Bai.

Dali adalah sebuah kota tua yang dikelilingi oleh tembok. Kota ini cukup eksotis dengan rumah-rumah tuanya. Kota ini dipenuhi oleh traveler-traveler bule yang mencari keeksotisan budaya timur. Foreign Street,  salah satu jalan di pusat kota tua ini dipenuhi oleh kafe-kafe dan bar-bar. Daripada menikmati bar dan bir terus, kali ini aku memilih untuk melakukan sedikit petualangan. Setelah dua hari tinggal di Dali, aku bersepeda ke Xi Zhou, sebuah desa tertua orang Bai yang berjarak sekitar 37 km dari kota tua Dali. Aku juga berencana menyusuri perkampungan di sekitar danau Erhaii yang tak jauh dari Dali sepulangnya dari Xi Zhou. Jarak danau Erhaii dari Dali cuma sekitar 2 km.

Jajanan Pasar di Foerign Street, Dali

Bersepeda di ketinggian 3500 m diatas permukaan laut membuatku harus menguras tenaga lebih banyak. Udara yang bersih dan jalanan yang sepi serta pemandangan yang indah memberi tambahan semangat untuk terus menggenjot sepeda. Sekitar 10 km menuju Xi Zhou, aku kehabisan air minum. Beruntung ada warung di sekitar aku memberhentikan sepedaku. Problemnya cuma satu, bagaimana menjelaskan kepada si pemilik warung kalau aku mau beli air minum. Aku lalu mengambil botol air mineralku yang kosong dan menunjukkan kepada si penjual warung yang kebetulan adalah seorang ibu setengah baya dengan senyumnya yang sangat polos dan anak perempuannya yang masih berusia sekitar 12 tahun. Aku tidak tahu apakah ibu itu salah mengerti yang kumaksud atau memang dia orang yang baik hati, si ibu tidak memberikan air mineral yang kuminta tetapi mengisi botol air mineralku yang kosong dengan teh cina yang berkhasiat. Dia memberikan botol minumanku dengan terus tersenyum sumringah sambil mengacungkan tanda jempolnya tanda minuman itu baik untukku. Aku hendak memberinya uang tetapi si ibu menolak. Aku berusaha memaksa tetapi dia tetap menolak. Ketika aku tanya apakah dia orang Bai, dia bilang, “Bai, Bai.” Aku yakin dia pasti dari suku Bai. Sudah dua kali aku ditolong oleh orang Bai.

Pasar Pagi di Desa Xi Zhou

Para Wanita Suku Bai

Para Wanita Suku Bai

Desa Xi Zhou tak seheboh yang kupikirkan dan aku hanya singgah setengah jam saja disana setelah memotret beberapa rumah tua yang katanya sudah berumur ratusan tahun. Dari desa Xi Zhou aku meneruskan perjalanan ke utara ke tepatnya ke taman kupu-kupu (Butterfly Park).  Disini aku bertemu dengan beberapa gadis Bai yang cantik dengan pakaian modern yang sedang makan siang di warung tenda yang banyak bertebaran di depan pintu taman. Akupun ikut nimbrung di warung tenda tempat mereka makan dengan harapan bisa ngobrol dengan mereka sekalian kenalan. Rupanya, tak semuanya orang Bai bisa bersikap ramah seperti dua ibu setengah baya yang pernah menolongku. Mereka tidak memperdulikanku walaupun aku berusaha berbicara dengan mereka. Mereka menolak mentah-mentah ketika aku menawari mereka untuk difoto. Harapanku musnah sudah untuk kenalan sama cewek Bai yang cakep……:-p. Walaupun diketusin oleh gadis-gadis suku Bai, secara keseleruhan aku mengaggap orang-orang Bai sangat ramah.

Wanita-Wanita Bai Dengan Pakaian Tradisionalnya

Puas menikmati bunga dan wajah-wajah cantik wanita Bai di Taman Kupu-Kupu, aku bergerak menuju terminal ferry yang terletak di seberang jalan taman. Aku mau meneruskan perjalanan dengan ferry ke pagoda Guan Yi.  Sial, ferry baru berjalan pukul 3 sore. Terlalu lama bagiku menunggu sampai pukul 3. Aku menggenjot sepedaku balik ke arah kota tua Dali. Hari sudah siang dan matahari terik ketika aku  bersepeda balik ke Dali. Tak terasa 40 km bisa kulalui dengan mudah. Menjelang tiba di Dali aku berbelok ke arah Danau Erhai dan menyusuri desa-desa orang Bai di sepanjang pinggiran danau.  Desa-desa ini kelihatannya jarang didatangi turis sehingga aku langsung menjadi pusat perhatian. Anak-anak mengerumuniku sedangkan perempuan-perempuan tua tersenyum. Salah satu penduduk lokal menjual minuman sejenis cendol yang rasanya manis dan sangat menyegarkan. Aku tidak ingat nama minumannya. Aku hanya perlu membayar 0.5 yuan untuk harga minuman tersebut. Mereka sama sekali tidak berniat untuk menaikkan harga minuman tersebut.

Perkampungan di Pinggir Danau Erhaii

Perkampungan di Pinggir Danau Erhaii

Selama dua hari, aku menikmati kebaikan dan kejujuran orang Bai. Terakhir, ketika sore harinya aku makan di sebuah warung di dekat Three Pagoda sepulang dari mengununjugi perkampungan di pinggir danau Erhaii, si pemilik warung tidak menaikkan harga noddle soup yang kumakan. Aku melihat sendiri orang lokal membayar 1.5 yuan untuk satu mangkok noddle soup, harga yang sama dengan yang kubayar. Aku tidak akan berharap hal yang sama di tempat lain bahkan di negara sendiri, Indonesia. Yup, orang Bai memang membuatku terkesan oleh kebaikan dan kejujuran mereka. Jika Perdana Menteri Cina Hu Jin Tao memuji orang Bai karena kecantikan wanita-wanitanya yang sudah sangat terkenal seantero Cina, aku lebih mengenal orang Bai dari keramahan dan kejujuran mereka…….

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi
Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting