Akhirnya Buku Terbit Juga: Sulitnya Menerbitkan Buku Travel Ekstrem……


Menerbitkan buku tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya karena menulis bukanlah hal yang kusukai. Sebelum menulis buku, aku membuat  blog berjudul  “Jalan-Jalan Nekad” pada October 2006 tanpa tahu apa yang harus kutulis karena memang aku tak tahu cara menulis dengan benar. Aku membuat judul “Jalan-Jalan Nekad” karena sifat perjalananku yang spontan tanpa rencana dan banyak perjalananku tersebut berada di negara konflik atau negara-negara yang jarang dikunjungi orang. Bagiku jalan-jalan biasa memang sangat membosankan……:-)

Dua tahun kemudian sekitar pertengahan tahun 2008, sepulang dari Afrika, aku menulis  tentang visa dan satu tulisan tentang pengalaman-pengalaman tak mengenakkan yang kualami selama perjalananku di berbagai negara. Blog ini kemudian vakum lagi selama 1 tahun dan baru menulis lagi tahun 2009 yaitu tentang berbagai ragam tingkah polah teman seperjalananku. Dasar bukan penulis, aku pun vakum lagi selama hampir dua tahun dan baru menulis lagi di akhir tahun 2010. Dari sinilah aku mulai aktif menulis di blog. Aku sempat mengganti judul blog menjadi “Travel XXX: Melihat Dunia Dari Sisi Yang Lain” sebelum  akhirnya berubah lagi  menjadi  Travel “X”: Adrenalin, Survival, Dan Sedikit Kenakalan”. Judul blog ini yang aku pakai sampai sekarang.

Buku TIA

Buku TIA

Dua tahun setelah aktif menulis di blog, tepatnya sekitar tahun 2012, seorang editor dari sebuah penerbit terkenal rupanya terkesan dengan konten tulisanku. Jelas dia tak tertarik dengan caraku menulis yang saat itu masih sangat “super duper” amburadul.  Teman editor ini sepertinya terkesan dengan cerita-cerita perjalananku yang tak biasa. Seperti teman-teman pembaca ketahui, banyak dari konten di blogku berisi kisah-kisah perjalanan “off beaten track” yang tidak umum dan cenderung nyeleneh dan sedikit gila…:-p. Konten dalam blog travelku ini jelas bukan seperti blog-blog travel  yang berisi hal-hal klise sebuah perjalanan seperti kuliner, pemandangan, fotografi, museum, biaya, itenary, dan lain-lain….:-). 

Sebelum lebih jauh bicara soal penerbitan buku, aku sudah memperingatkan si editor jika banyak hal-hal dalam perjalananku bersifat ekstrem dan cenderung vulgar walaupun tidak mengandung unsur pornografi.  Si editor tak mempermasalahkannya dan berjanji akan memperjuangkan naskah yang nanti aku kirimkan. Aku juga semakin tertarik setelah dia menyebutkan nama penerbit tersebut yang memang terkenal dengan kisah-kisah kehidupan seksual  orang-orang Jakarta yang sempat menjadi kontroversi. Disinilah aku pertama kali tertarik untuk menerbitkan buku. “Angan-angan tukang cendol” pun mulai merasuki pikiranku…….:-p.

Singkat cerita, aku pun selesai membuat naskah. Isinya segala hal yang paling ekstrim dari berbagai pengalaman perjalananku.  Bisa dibilang, aku menulis naskah yang isinya tentang “Dunia Underground” di berbagai negara dan juga perilaku “nyeleneh” para traveler. Pada dasarnya, sebagian cerita di naskahku tersebut berisi tentang Sex, Drugs, dan Alkohol yang menjadi bagian kehidupan para traveler (bukan turis sabtu minggu atau turis yang ambil cuti kantor ya…). Sebagian lagi adalah tentang survival, pengalamanku di negara perang, dan juga cerita-cerita kehidupan yang menyentuh. Sialnya, sampai dua tahun kemudian dengan revisi sampai berkali-kali dan ganti editor sampai tiga kali, naskah juga belum terbit. Akhirnya aku pun pergi ke kantor penerbit di kawasan Ciganjur dan berbicara kepada dua editor yang menangani naskahku termasuk pemilik penerbitan yang menjadi penulis buku–buku sukses tentang kehidupan dunia bawa tanah Jakarta. “Kebetulan sekali,” pikirku saat itu. Kami pun berbincang-bincang dengan editor-editorku dan akhirnya didapatlah kesimpulan jika naskahku dianggap terlalu vulgar dan terlalu banyak unsur sensitif di dalamnya. Bahkan mas penulis terkenal tersebut mengatakan jika beberapa konten tulisanku bersifat kriminal….:-p.  Naskahku katanya lebih seram dari konten buku-bukunya tentang dunia seks Jakarta itu……Waddooohhhh!!!

Setelah diskusi panjang lebar, aku disuruh memperbaiki naskahku. Editor-editorku memberi dua buku traveling karangan penulis lokal sebagai referensi. Aku juga disuruh memperbaiki detail dari tulisan-tulisanku. Aku sebenarnya masih excited di awal-awal untuk menuruti kata-kata editorku, tetapi semangatku untuk menulis turun dan akhirnya aku memutuskan untuk tidak memperbaiki naskahku. Alasannya, aku tak ingin tulisan di naskahku sama seperti beberapa “buku traveling alay” yang banyak beredar. Aku traveling dengan gayaku dan aku tak akan merubah tulisanku mengikutiku gaya penulis buku-buku traveling alay tersebut.

Aku sempat terpikir untuk menerbitkan buku secara mandiri karena naskah sudah kadung jadi, tetapi akhirnya kubatalkan niatku tersebut karena biayanya yang tak murah jika harus diirim ke toko buku. Alasan lainnya, aku tak terobsesi untuk menjadi terkenal sebagai penulis buku. Aku lebih tertarik dengan pekerjaanku sebagai insinyur konsultan di perusahaan minyak dan mengembangkan perusahaan yang baru saja kubangun. Jelas, menjadi penulis jauh dari pikiranku karena sebagai pekerja di perusahaan minyak dan pernah bekerja di berbagai negara, pengaruh kapitalis sangat menguasai otakku jika berurusan soal uang…….:-).

Beberapa bulan sebelum aku bertemu dengan editorku dan mas penulis terkenal tersebut, seorang editor dari Mizan menghubungiku untuk minta naskah. Aku tak begitu tertarik untuk memberinya naskah karena setahuku penerbit Mizan bernafaskan agama, sedangkan tulisan-tulisan dalam perjalananku bersifat ekstrem. Saat itu aku juga sudah siapkan naskah tentang perjalananku di Afrika dimana banyak unsur “X” di dalamnya sudah menjadi bagaian dari naskah travel ekstrim yang kukirim pada penerbit sebelumya.  Aku pikir tak ada salahnya mengirim ke Mizan karena memang unsur “X” di dalam naskahku sudah berkurang. Selaras dengan keinginan editor Mizan yang ingin konten naskah lebih “kalem”.

Naskah yang berisi tentang perjalananku di Afrika akhirnya kirimkan dan diterima oleh tim redaksi Mizan. Kontrak pun kuterima beberapa bulan kemudian. Beberapa kali berdiskusi soal judul, akhirnya aku dan editor sepakat dengan judul “This is Africa” atau yang sering disingkat menjadi TIA. Kata-kata ini memang populer di kalangan orang-orang yang baru datang ke Afrika terutama orang asing yang merasa putus asa dengan segala hal yang terjadi di sana. Bagi orang-orang asing yang sudah lama tinggal di Afrika atau orang-orang Afrika sendiri, kata-kata ini menggambarkan keunikan Afrika dibanding benua lain.

Diterimanya naksahku oleh tim redaksi membuat angan-angan menerbitkan buku muncul lagi di kepalaku. Singkat cerita naskah pun dikoreksi. Aku juga menambahkan beberapa pengalaman ekstrim  dari naskah yang kukirim ke penerbit sebelumnya supaya isi dari buku nantinya “lebih berwarna”. Tentunya kadar “X” dalam naskah masih dalam batas-batas yang diizinkan oleh Mizan.  Aku berusaha menulis dengan lebih bijaksana tanpa harus menghilangkan “kejadian-kejadian yang sedikit menyerempet” yang kualami dalam perjalananku. Tidak lagi bercerita tentang betapa heroiknya pengalaman-pengalaman gila tersebut, tetapi berusaha “memberi nasehat” tentang konsekuensi setiap perbuatan nyeleneh tersebut. Mungkin bisa dibilang aku lebih dewasa dalam menulis dan berusaha tidak menunjukkan “keakuan”.

Sebagian tulisan dalam buku  “This is Africa” bercerita tentang   kemanusiaan, empati, perjuangan hidup, cinta kasih survival, dan hal-hal positif lainnya. Tak lupa aku menulis “hal-hal unik di Afrika” yang tak akan ditemukan di benua lain. Tentunya cerita-cerita yang nyerempet berbahaya dan memompa adrenalin tak ketinggalan kuceritakan selain “cerita-cerita dunia bawah tanah” yang mengandung konten “X”. Secara garis besar, konten tulisan dalam buku ini bisa terlihat dari “oknum-oknum” yang berhubungan denganku selama perjalananku di berbagai negara Afrika khususnya Mesir, Tanzania, dan Malawi yang terdiri dari berbagai macam profesi. Kebanyakan orang biasa dan traveler tetapi ada orang-orang tak biasa seperti sesama hardcore traveler, wanita-wanita cantik, pengusaha, anggota geng, penganut ilmu mistis, anggota dinas intelejen asing, polisi rahasia, tentara, pengedar narkotik (drug dealers), pelacur, pengemis, penipu, dan lain-lain. Masing-masing dari mereka memberikan cerita yang menarik dalam perjalananku di Afrika.

Kisah-kisah dalam “buku This is Africa” jelas tak bercerita banyak tentang indahnya sebuah tempat, enaknya makanan di sana, atau hal-hal klise lainnya dalam cerita traveling. Hal-hal yang Indah seperti ini lebih suka aku tunjukkan dengan foto-foto daripada cerita karena untuk menceritakan sebuah keindahan atau enaknya sebuah makanan, gambar lebih beribicara daripada kata-kata.Dalam buku This is Africa ini ada puluhan gambar tentang keindahan Afrika yang kutangkap melalui kamera Nikon milikku dimasukkan dalam kertas berwarna. Bagi pembaca setia blog “Travel X”  pasti sudah pernah melihat foto-foto tersebut.

Buku pun kemudian dicetak dan telah ditaruh di dalam gudang untuk diedarkan sekitar 1,5 bulan yang lalu. Editorku sempat mengirim gambar dari buku yang telah dicetak. Aku pun sudah senang, buku yang sudah “luntang-lantung” tiga tahun ini akhirnya terbit juga. Namun apa boleh buat editorku bilang bahwa buku ditarik kembali karena masih ada “isu sensitif” di dalam buku. Tentu saja aku jadi kesal karena aku merasa semua “aturan” dari penerbit sudah kuturuti. Dari sisiku, aku melihat konten tulisan di buku sudah setimbang dan “lebih halus” dalam penyampaian, tetapi begitulah industri penerbitan buku saat ini, sangat hati-hati dalam melihat konten supaya lebih indah dan ideal. Buku yang tadinya sudah siap diedarkan di toko-toko buku baik yang konvesional maupun yang online akhirnya ditarik kembali. Aku sempat kesal, tapi ya sudahlah.  Penerbit pasti punya pertimbangan yang lebih baik. Aku pun kembali sibuk mengurusi pekerjaan dan bisnisku.

Perubahan dan pencetakan ulang memerlukan waktu hampir 1.5 bulan dan aku baru tahu jika minggu ini bukuku mulai diedarkan melalui toko buku online seperti Pengenbuku, MizanstoreKutubuku Online,  Bukabuku,  Bukukita,  Bukupedia dan lain-lain. Untuk  toko-toko buku konvensional seperti Gramedia, Gunung Agung, dan lain lain, bukuku baru dijual terbatas di beberapa toko buku saja di Bandung dan Jakarta seperti yang dikatakan oleh editorku. Jadi, mungkin harap bersabar kepada teman-teman pembaca blog yang ingin membeli buku “This is Africa”  di toko-toko buku konvensional karena baru saja didistribusikan. Jika ingin buku + tandatangan penulis, teman-teman bisa menghubungiku langsung lewat message di blog ini. Aku akan segera meresponnya. Harga buku online sekitar Rp 60.000 – 63.750 (belum termasuk ongkos kirim), sedangkan di toko buku harganya Rp 75.000. Semoga saja buku ini bisa dinikmati oleh teman-teman pembaca setia blog-ku ini. Jika memang bukunya laris, buku kedua tentang perjalananku di Afrika bisa diterbitkan. Tentunya dengan konten yang lebih ekstrem dari segi adrenalin dan survival. Saat ini aku sedang  mempersiapkan naskahnya……..Wassalam.

PS: Saat ini semua stok di gudang Mizan kosong, sehingga teman-teman pembaca lebih baik membeli di Gramedia dulu. Kalau mau tanda-tangan kirim message. Jika teman-teman berada di sekitar Kemang, Sudirman Thamrin, aku tak segan datang untuk memberi tanda-tangan 

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: Indra Susanto Putra