Perilaku Aneh Pelayan Restoran Di Berbagai Negara


Sebelum memulai cerita ini, aku ingin mengucapkan terlebih dahulu Selamat Hari Raya Lebaran, mohon maaf lahir dan batin kepada  teman-teman pembaca…:-).  Baiklah, cerita yang kutulis kali ini adalah tentang perilaku aneh dari pelayan restoran yang pernah kuamati di berbagai perjalananku. Mungkin ada sedikit hal yang menarik untuk diceritakan.

Pertama kali aku mendapati perilaku aneh dari seorang pelayan restoran adalah ketika aku ikut pilgrim ke Yerusalem 16 tahun yang lalu. Aku tak ingat nama restorannya . Saat itu sedang makan malam. Seorang pelayan membagikan piring kepada para tamu. Nah, cara membagikannya sedikit ajaib karena si pelayan melempar piring-piring tersebut ke meja. Aku tak tahu apakah dia sedang marah atau lagi “dapet”.   Yang jelas, perilakunya tersebut membuat para tamu restoran jadi sewot.

Lain lagi ketika aku berada di Mesir. Beberapa restoran tradisional ataupun restoran cepat saji local punya pelayan-pelayan yang sedikit nyentrik.  Aku mengalami di beberapa restoran local tersebut dimana pelayannya sangat ramah ketika aku pertama kali datang. Setelah datang beberapa kali, pelayan-pelayan tersebut mulai berubah. Aku jadi bertanya-tanya apa yang salah denganku. 

Salah satu restoran langgananku adalah restoran cepat saji ala Mesir di kawasan Midan Tahrir akhirnya menjawab rasa penasaranku. Setelah kunjunganku yang pertama kali, seorang pelayan selalu “menempelku” dan mencarikanku kursi. Awalnya aku pikir ini adalah bagian dari pelayanan restoran.  Aku selalu mengucapkan terima kasih setiap kali dia melakukannya. Setelah kunjungan yang kesekian kalinya, barulah aku tahu maksud dari si pelayan. Ternyata dia minta bakshees (uap tip). Si pelayan langsung saja bilang padaku bahwa dia memotong kembalianku karena aku harus memberikan bakshees kepadanya. Tentu saja aku mencak-mencak karena perilaku gila si pelayan. Apa haknya dia mengambil uangku dengan seenak udelnya. Toh, pengunjung-pengunjung restoran yang orang lokal tak pernah dimintai uang tips karena semua memang self service. Masak gara-gara cuma nunjukin bangku langsung minta tips. Aku tentu saja meminta uangku dikembalikan. Si pelayan bersikeras menolak. Aku juga tak ingin kalah karena ini sama saja dengan pemerasan. Setelah berdebat panjang, aku pun harus merelakan sedikit uangku kepada si pelayan karena aku tak ingin memancing keributan dengannya. Sejak itu aku tak pernah mengunjungi restoran itu lagi.

Aku juga bertemu dengan seorang pelayan restoran yang sedikit ajaib ketika aku dan teman-teman seperjalananku serta beberapa teman dari KBRI Tanzania makan di sebuah restoran lokal di Dar Es Salaam. Kami ada berdelapan saat itu. Seorang pelayan restoran langsung mendekati kami dan bertanya soal makanan yang kami pesan. Satu persatu dari kami menyebutkan makanan yang kami inginkan, tapi tak satupun pesanan kami dicatat oleh si pelayan. Kami menyuruhnya untuk mencatat, tapi si pelayan ngotot tidak mau melakukannya. Dia bilang dia akan ingat semua pesanan kami. Aku dan teman-temanku terus mendesaknya tetapi tetap tak berhasil mengubah pendirian “si pelayan jenius” ini. Akhirnya daripada tak jadi makan, kami pun mencatat pesanan dalam tisu dan menyerahkan kepada si pelayan. Awalnya dia tetap menolak, tapi kali ini kami benar-benar memaksanya mengambil catatan pesanan di kertas tisu tersebut. Akhirnya dia mau juga setelah kami mengancam akan melaporkannya. Benar-benar pelayan keras kepala…..:-p.

Suatu hari di Lilongwe, Malawi aku dan temanku Tim pernah makan di sebuah restoran makanan Tiongkok. Kami disambut dengan sangat ramah oleh pemilik restoran, sepasang suami istri asal Tiongkok.  Wajah pemilik restoran yang penuh keceriaan dan keramahan itu berbeda sekali dengan wajah dari pelayan-pelayan restoran yang bekerja. Wajah mereka tanpa senyum ketika menanyakan menu yang akan kami pesan. Bahkan kalau boleh menilai, wajah mereka kelihatan tegang. Sering sekali mereka mondar-mandir di depan kami sesekali  melirik ke arah kami dengan mimik wajah seperti orang yang sedang ketakutan. Karena merasa penasaran dengan perilaku aneh si pelayan, Tim pun akhirnya bertanya kepada seorang pelayan, “What is wrong, man?”

“Nothing, Sir. I just want to tell you that my boss not allow us to ask tips from the guests. But, if you want to give us tips, please put it under the napkin,” ucap si pelayan dengan wajah memelas penuh harap yang mendatangkan iba.

“Oh yeah, off course. Don’t worry,” balas Tim. “So what will be happened if your boss finds out you guys getting  tips from us?”

“We will get fired, Sir,”  ucap orang ini memelas.

Kalau dipikir-pikir si boss pemilik restora agak kejam kepada  pelayan-pelayan, tetapi aku dan Tim sepakat bahwa pasti ada sesuatu yang men-trigger si boss melakukan kebijakan seperti ini. Mungkin saja para pelayan dulunya pernah melakukan kesalahan-kesalahan seperti memaksa tamu memberi tips, rebutan uang tips, dan sebagainya.  Tetapi kejadiannya bisa berbeda. Bisa saja si boss memang melarang dari awal. Kalau sudah begitu, para pelayan harus terima nasib. Hanya kebaikan para tamu yang mereka bisa harapkan untuk mendapatkan sedikit tambahan uang seperti yang dilakukan olehku dan Tim. Para pelayan pun jadi lebih relaks dengan kami. Kami juga dengan mudah mendapatkan beberapa informasi yang jujur dari mereka. Sebuah barter yang adil…….

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: http://s156.photobucket.com/user/iguesses/media/waiter.gif.html