Cerita-Cerita Konyol Pendakian Gunung


Mendaki gunung adalah hobi yang sangat kuminati sejak masih remaja. Mungkin karena aku suka keluar masuk hutan, berburu binatang-binatang sejak kecil. Aku juga suka dengan suasana sepi dan hening di dalam hutan. Dalam soal mendaki gunung, aku pertama kali melakukannya ketika berumur 16 tahun sekitar kelas 1 SMA. Kalau sekarang, kebanyakan anak-anak muda di Indonesia umur segitu sudah kehilangan keperawanan dan keperjakaannya….:-p. 

Sebelum aku semakin ngawur ngomongin hal-hal yang jauh dari topik, mari kita kembali ke soal pendakian gunung. Kalau soal jumlah, aku mungkin sudah mendaki sekitar 20-an gunung mulai dari Jawa, Sumatera, Malaysia, Mesir, China, sampai ke Everest sana. Banyak kejadian mulai dari yang berbahaya sampai yang konyol-konyol. Aku sudah pernah cerita yang berbahaya. Kali ini tak ada salahnya kurasa jika aku bercerita sedikit tentang kekonyolan-kekonyolan yang pernah terjadi. 

Dari dulu, anak-anak muda kalau mendaki gunung selalu bawa ransel “segede bagong”. Kalau nggak gede kayaknya nggak klop. Isinya bisa macem-macem, mulai dari makanan, pakaian, air, sampai perlengakapan masak-memasak. Kesannya bawaan ransel kami berat sekali. Tetapi, kami jadi sering jadi bengong sendiri ketika ada ibu-ibu di desa baru turun dari gunung sambil membawa tumpukan kayu yang menggunung di punggungnya. Disitulah kami merasa malu. Ternyata berat ransel kami belum seberapa dibanding tumpukan kayu ibu-ibu itu. Kami juga pernah melongo ketika saat sedang melakukan navigasi, seorang bapak yang sudah tua membawa balok kayu yang cukup besar di pundaknya turun dari gunung sambil tersenyum. Betapa kuatnya bapak itu. Benar-benar harga diri kami tersobek-sobek karena anak gunung harusnya tangguh-tangguh, tapi masih kalah tangguh dibanding bapak-bapak tua…..:-p. 

Satu hal yang sering bikin kami kesal ketika mendaki gunung adalah ketika bertanya kepada penduduk desa yang kami temui di hutan. Kalau nanya jalan selalu bilang tujuan kami sudah dekat sambil menunjuk dengan jempol. Kenyataannya, kami harus menempuh pendakian panjang naik-turun bukit dan lembah sebelum benar-benar tiba di tujuan kami. Akhirnya, setiap kali ada penduduk desa yang mengatakan tujuan kami sudah dekat sambil menunjuk dengan jempolnya, kami pun langsung menyimpulkan jika perjalanan kami harus mendaki gunung dan lembah sebelum sampai di tujuan. Bagi orang-orang desa itu mungkin sudah dekat, tapi masih sangat jauh bagi kami….

Urusan buang air bisa menjadi sangat sulit ketika lagi berada di gunung. Apalagi kebelet pas mau mendaki atau turun karena harus berpisah dari rombongan dan teman-teman. Belum lagi larangan-larangan  di gunung yang ditakuti oleh para pendaki, salah satu yang paling sering adalah dilarang buang air besar karena takut “penunggu gunung” akan marah besar.  Paling apes kalau pas lagi kebelet, tisu dan air habis. Dipakailah daun untuk “ngelap” buntut. Kalau salah ambil daun, bisa bentol-bentol tuh pantat….:-p. 

Suatu hari, aku mendaki bersama teman-temanku. Entah kenapa turun dari puncak, kami semua “kebelet boker”. Ramai-ramailah kami mencari kavling untuk “memenuhi panggilan alam”. Semua mencari tempat yang paling tersembunyi dan aman. Kami mendaki bertujuh dan hanya satu orang yang belum dapat kavling, sebut saja namanya Mamad. Mamad berputar-putar mencari tempat yang dianggapnya paling sreg untuk “ngebom” karena dia ingin mendapatkan lokasi yang datar. Tentu saja sedikit sulit karena kami berada di lereng gunung. 

Karena lokasi kami yang tersembunyi, Mamad tidak tahu persis kavling-kavling tempat kami “nongkrong”. Saat aku lagi ngeluarin “boom kuning” keluar dari sarangnya, tiba-tiba aku mendengar suara Mamad berteriak, “Anjing…Anjing….Goblok siah!!!”

 Aku pun kaget setengah mati karena aku pikir dia dipatuk ular atau terjatuh. 

“Kenapa lu Mad? Kenapa lu?” tanyaku sambil terus ngeden ngeluarin bom kuning.

Anjing…anjing….apes banget gua!!!” balasnya lagi. “Anjiiiiiing……!!!!”

Aku heran juga mendengar si Mamad terus-meneru teriak sial. Ketika aku dan teman-temanku yang selesai “ngebom”, kami pun dengan terburu-buru mendatangi Mamad yang juga sudah menyelesaikan urusannya.

“Kenapa lu?” tanyaku penasaran. 

“Apes banget gua euy, liat tokai lu keluar dari pantat. Pas di muka gua lagi. Bau banget euy, John. Bau setan!!!” ” ucap Mamad dengan kocak. 

Kami pun ngakak sehabis-habisnya mendengar penjelasan si Mamad. Asli dia memang apes banget kalau benar-benar melihat “momen horor” itu terjadi di depan wajahnya….:-p. Salah dia sendiri, kenapa nyamperin kavlingku dari bawah. Pas lagi ngeluarin “bom” pulak. 

“Mimpi apa gua semalam. Nightmare euy,” sambung Mamad lagi.

“Lagian lu juga konyol, man. Muter-muter nggak karuan cuma untuk nyari tempat “boker”. Ya apes deh lu,” ucapku ngeledek.

“Benar-benar mimpi buruk gua. Langsung hilang selera makan gua kalau ingat tokai lu,” balas Mamad.

Yup begitulah, Mamad mengalami salah satu hal yang paling horor dalam hidupnya karena baru pertama kali itu dia benar-benar melihat orang mengeluarkan “tokai” dari sarangnya. Bau pulak. Apes bagi Mamad….:-)

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: www.123rf.com