Menyusuri Scam Hotel Di Istanbul


Beberapa tahun yang lalu, aku pernah bekerja dan tinggal di Ankara, Turki dengan jadwall on and off. Setiap 1.5 bulan sekali aku mendapat libur selama 2 minggu. Setiap mendapat libur, aku biasanya balik ke Kuala Lumpur sebelum ke Medan. Karena tak ada penerbangan internasional jarak jauh dari Ankara, aku biasanya pulang melalui Istanbul dan menghabiskan 1 sampai 2 malam menikmati keeksotisan kota ini.

Setiap datang ke Istanbul, aku selalu menginap di penginapan murah yang ada di kawasan Sultanahmed, tepatnya di belakang kompleks Blue Mosque yang terkenal itu. Kawasan ini memang menjadi “ghetto” para traveler dari berbagai pelosok dunia.  Aku senang nongkrong disini karena biasanya aku bisa bertemu teman-teman baru atau sekedar ngobrol soal perjalanan dan petualangan dengan para traveler. Awal-awal aku mencari penginapan di kawasan Sultanahmed, para calo dan penipu selalu menghampiriku untuk menawarkan penginapan dan hal-hal lain. Setelah beberapa lama, para calo jadi mengenalku sehingga aku tak mendapat tawaran-tawaran lagi dari mereka.

Turki Eropa Dan Asia

Istanbul Between Europe and Asia

Suatu hari, aku kembali lagi ke Istanbul seperti biasa setelah 1.5 bulan bekerja. Tak biasanya ketika keluar dari bandara, ada sebuah stan yang menawarkan “penginapan dan transportasi murah”. Kalau dilihat dari penampilan orang-orangnya, sepertinya mereka resmi.  Salah seorang yang ada di stan tersebut menghampiriku dan menawarkan hotel. Tentu saja aku menolaknya karena aku sudah tahu bahwa ini hanya kedok dari sebuah penipuan atau “scam”.

Aku kemudian berubah pikiran setelah berjalan beberapa langkah. Entah kenapa “otak isengku” muncul untuk mengetahui seluk beluk scam hotel lewat bandara versi Istanbul. Aku pikir aku perlu sedikit thriller untuk bisa memuaskan adrenalinku. Setelah beberapa langkah berjalan, aku balik arah dan berjalan kearah orang yang tadi menawariku penginapan. Aku sudah tahu “biaya” keisenganku akan mahal, tapi sulit rasanya untuk membendung rasa ingin tahuku. 

“Where is the hotel location?” tanyaku kepada orang itu.

“Somewhere in downtown Istanbul,” jawabnya.

“Can yout get the hostel and guesthouse in Sultanahmed?” tanyaku lagi.

“Let me try sir. By the way, my name is Ogan, sir,” jawabnya sambil menjabat tanganku.

“I am John,” balasku.

Ogan lalu “menelpon” beberapa nomor. Aku menunggu saja Ogan selesai menelepon.  Beberapa menit kemudian dia memberitahuku bahwa semua penginapan yang ada di Sultanahmed sudah “fully booked”.  Aku tersenyum saja mendengar alasannya karena selama pengalamanku mencari penginapan di Sultanahmed, tak pernah ada yang namanya fully booked. Selalu ada kamar kosong di berbagai penginapan disana mulai dari yang murah sampai yang super mahal. Tapi, aku pura-pura tak tahu saja supaya dia percaya kepadaku.

“What type of hotel do you want?” tanya Ogan.

“Hostel or guesthouse,” jawabku.

“I will give the good one for you,” ucapnya sambil menelpon hotel yang dimaksud.

“So, how much is the price?” tanyaku lagi setelah dia selesai menelepon.

“$ 98 with the transportation,” jawabnya.

Harga yang ditawarkan Ogan terhitung sangat mahal untuk kelas hostel atau guesthouse jika dibandingkan dengan harga penginapan murah di kawasan Sultanhamed. Untuk sebuah kamar dormitory, aku hanya perlu membayar $ 10 per malam. Untuk single room dengan fasilitas air panas hanya sekitar $ 25-35 per malam. Sekarang aku harus membayar berkali-kali lipat dari harga normal. Walaupun termasuk harga transportasi, tetap saja tawaran yang diberikan padaku masih sangat mahal. Naik kereta api sampai Sultanahmed aku aku hanya membayar $ 3 untuk tiket. Satu-satunya alasanku mengiyakan tawaran Ogan adalah karena aku ingin tahu kemana aku akan dibawa pergi dan hotel macam apa yang akan ditawarkan.

Setelah ada kata sepakat, seorang teman Ogan yang bertugas sebagai supir mengantarku menuju parkiran mobil dan kamipun berangkat dengan minivan ke hotel yang dimaksud. Sekitar 45 kemudian, kami tiba di sebuah kawasan yang sangat asing bagiku. Sepertinya aku belum pernah masuk ke kawasan ini selama berada di Istanbul. Supir menurunkanku di depan sebuah hotel sederhana. Sebelum turun dia memberiku sejenis tiket untuk ditunjukkan ke petugas hotel. Aku tak membantah kata-katanya dan ngeloyor pergi begitu saja setelah dia memberiku tiket tersebut.

Aku tertegun sebentar di depan hotel. Dari depan, hotel ini mirip dengan “hotel kelas esek-esek” di Indonesia karena penerangan di depan hotel sangat temaram yang didominasi oleh nuansa warna merah. Di dalam hotel, warna merah juga mendominasi interiornya.

Denga ragu aku masuk ke dalam hotel dan seorang laki-laki berkumis dengan wajah yang sangat tidak ramah menyambutku di meja resepsionis. Tak ada petugas lain yang bekerja disana.   Kutunjukkan tiket yang diberikan oleh supir kepadaku. Tanpa berkata sepatah katapun, orang ini langsung mengambil kunci dan memberikannya kepadaku. Kamarku kebetulan terletak di lantai dua. Ketika akan naik menuju kamar, aku bertemu dengan beberapa pria turki yang berpasangan dengan seorang wanita yang berpakaian super seksi. Saat itu juga aku merasa bahwa aku  memang berada di “hotel kelas esek-esek”….:-p.

Di dalam kamar, tak ada TV atau kulkas seperti layaknya hotel atau penginapan. Aku berusaha mendapatkan informasi soal hotel, tapi tak ada brosur tentang hotel yang bisa kutemukan. Nama hotelpun aku tak pernah tahu karena memang tak termpampang di depan hotel. Aku lalu turun ke bawah dan berusaha berbicara dengan petugas resepsionis yang tak ramah tadi. Dia hanya menggeleng-geleng kepala karena tak mengerti bahasa Inggris.

Setelah gagal mendapatkan informasi, aku merasa tak ada yang bisa kulakukan di “hotel remang-remang ini”. Aku kembali ke atas kamar dan mengambil ranselku sebelum keluar mencari taksi menuju Sultanahmed. Petugas resepsionis itu juga tak berkata apa-apa ketika aku keluar dari hotelnya sambil membawa ransel. Seharusnya dia bertanya kenapa aku keluar dari hotel tanpa menyerahkan kunci kamar kembali padanya. Tapi ini aneh, petugas resepsionis hotel ini diam saja. Benar-benar aneh…….:-p.

Penelusuran scam hotel Istanbul tak seperti yang kuharapkan. Aku merasa kecewa karena sebenarnya aku mengharapkan sedikit “thriller” yang lebih menegangkan daripada sekedar ditipu uang  $98.  Tak ada adu mulut, saling maki atau saling ancam seperti yang sering kualami jika berurusan dengan para penipu. Semuanya datar saja. Para scammers sepertinya cukup puas dengan uang $98-ku………:-p.

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting