Pelacur Dari Dar (Prostitute of Dar)


Tim adalah temanku orang Amerika yang setia menemaniku selama perjalananku di Tanzania dan Malawi. Saking akrabnya, keponakan pemilik penginapan kami di Dar Es Salaam bernama Vijay sampai mengejek kami sebagai “pasangan gay yang mesra”. Entah apa yang membuat kami betah traveling bareng. Secara karakter dan tujuan perjalanan, aku dan Tim jelas-jelas sangat berbeda. Tia gila pesta, sedangkan aku tidak begitu suka keramaian. Dia juga paranoid terhadap segala hal kecuali soal wanita. Sedangkan aku tak perduli dengan segala macam bahaya.

Selama jalan bareng, aku dan Tim saling menghargai dengan bergantian mengikuti cara traveling favorit masing-masing walaupun lebih banyak aku yang mengalah karena keterbatasan fisik Tim. Berat Tim yang sekitar 120 kg lebih membuat sedikit masalah ketika harus mencari tempat duduk dalam bus atau sekedar menahan lapar karena level gulanya yang cukup tinggi.

Aku pernah mengajak Tim pergi melakukan ”off beaten track traveling” ke sebuah pasar rakyat yang membuatnya selalu bertanya, ”Is it safe?” Tim juga tak mau ketinggalan mengajakku untuk mengikut selera travelingnya yang cukup nyeleneh, nongkrong di bar yang dipenuhi wanita-wanita malam. Dia begitu sangat mencintai keliaran wanita-wanita malam Afrika walaupun dia mengaku tak pernah meniduri wanita-wanita yang gila-gilaan bersamanya. Dia hanya menikmati ciuman, belaian, dan juga sisi liar para wanita malam yang membuatnya selalu bergirah. Aku hanya punya satu komentar kepada Tim untuk seleranya yang rada aneh tersebut, dia memang “rada sakit”.

Suatu hari, Tim mengajakku nongkrong di ”Q Bar” yang merupakan rekomendasi dari Vijay, keponakan dari pemilik Jambo inn, tempat kami menginap di Dar Es Salaam. Vijay yang tampangnya mirip playboy tengil itu memang selalu menjadi rujukan kami dalam menikmati dunia malam di Dar. Aku tak pernah punya masalah nongkrong di bar karena aku juga doyan “minum” saat itu. Masalahnya, alasan Vijay memilih ”Q bar” karena bar sudah terkenal dengan keganaasan wanita-wanita malamnya.  Tim ingin menikmati kegilaan malam itu.

Nongkrong di sebuah bar yang dipenuhi oleh wanita-wanita malam jelas bukan hal yang menjadi favoritku.  Wanita-wanita malam yang berkeliaran di dalam bar pasti merusak ketenanganku menikmati minuman dan alunan musik karena mereka pasti tanpa henti mengajak “kencan semalam”. Apalagi, para wanita malam di bar-bar Tanzania sudah terkenal sangat agresif dalam mencari klien. Mereka tak segan menggunakan rayuan dan bahkan ”belaian yang sangat provokatif” walaupun kami tak meminta (tapi pengen……:-p).

Aku pun menolak ajakan Tim dengan segala macam alasan. Sialnya, Tim tak pernah kehilangan akal untuk membujukku. Salah satu alasan yang paling aneh yang dia gunakan adalah bahwa dia sedang serius mencari wanita Afrika yang bisa dijadikan pacar tetap atau istri. Niatnya memang mulia, tetapi cara dan tempat dia mencari istri jelas salah banget dan sangat tak masuk akal bagiku. Nyari istri kok di Bar. Tapi, Tim bukan orang yang cepat menyerah. Dia terus merengek sampai aku bosan mendengarnya. Aku terpaksa mengiyakan ajakannya dengan satu syarat, aku tak mau ditemani oleh wanita-wanita malam di bar. Tanpa protes, Tim setuju dengan syarat yang kuajukan.

Berangkatlah kami berdua dengan taksi menuju “Q Bar”. Tak ada supir taksi di Dar Es Salaam yang tak tahu “Q Bar”. Reputasi bar ini sudah sangat terkenal di kalangan ekspatriat dan juga orang-orang lokal Tanzania. Karena reputasinya itu, Aku dan Tim tentu saja punya kesan jika tampilan bar pasti mentereng dan wah.  Wajar kami sedikit ragu ketika supir taksi menurunkan kami di sebuah bangunan yang gelap gulita yang ditutupi oleh seng. Supir taksi menyakinkan bahwa inilah ”Q bar” yang kami cari. Tak ada cara lain membuktikkanya selain masuk ke dalam bangunan yang gelap gulita itu. Dengan ragu-ragu kami membuka pintu gerbang besi dan masuk ke dalam “bar”.  Supir taksi memang tak salah, banguna ini memang sebuah bar. Hanya saja, suasana bar masih sangat sepi. Aku dan Tim mengecek jam, ternyata baru pukul 7:30 malam.  Kelihatannya kami datang “terlalu pagi”…..:-p.

Beberapa saat lamanya aku dan Tim menikmati  beberapa botol bir sambil ngalor-ngidul tentang berbagai hal. Kenikmatan itu hilang ketika dua wanita malam dengan gaya dan pakaian yang provokatif mendekati kami. Aku jelas tidak pernah berminat dengan mereka, apalagi di Afrika yang angka AIDS-nya sangat tinggi. Tim yang sedang mencari wanita Afrika untuk dijadikan “pacar” mempunyai reaksi yang sangat berbeda denganku. Dia langsung saja mengundang keduanya itu duduk bersama kami. Tentu saja tawaran Tim seperti air di padang tandus bagi kedua wanita malam itu itu karena “hari masih pagi”, tapi sudah bisa mendapat dua calon klien.  Siapa yang nggak senang. Dengan “semangat 45” dan senyuman yang paling ceria, keduanya pun  memperkenalkan diri kepada kami sebagai Cathy dan Tina.

Seperti perjanjianku dengan Tim sebelumnya, Tim yang harus “mengangkut” Cathy dan Tina. Sialnya, kedua wanita ini tentunya tak tahu tentang perjanjian kami. Salah satu dari mereka yang bernama Cathy langsung saja  memilih duduk disampingku. Terpaksalah aku membelikan minuman untuknya sebagai compliment karena dia mau menemaniku. Aku memandang kesal ke arah Tim yang hanya nyengir kuda melihat kekesalanku.

Cathy, seperti umumnya wanita-wanita malam lainnya adalah peminum yang sangat kuat. Dia memesan tiga gelas whisky yang membuat kantongku langsung jebol. Satu gelas whisky saja sudah seharga $ 15. Setelah merasa puas minum whisky, dia pun tanpa basa-basi mengajakku kencan semalam dengan bahasa yang sangat vulgar.

“Hi baby, do you want to fuck me?  I will shake you up.  African woman knows how to satisfy you,” ajak Cathy dengan cueknya.

“What will youn do to satisfy me?” tanyaku dengan nada males-malesan.

“We, African women know how to play on bed, not like the Asian girls.  Asian girls only know how to scream..ah..uh..ah…,” ujarnya sambil menirukan suara lenguhan.

“ Oh yeah,” celetukku cuek.

“We are also better than the white girl,” ujarnya kembali berpromosi.

“Why?” tanyaku lagi pura-pura bego.

“White girls “pussy” is too big. You will not feel anything. African “pussy” is wet and tight. Number 1, the best in the world.” katanya mempromosikan “barang” Afrikanya.

Bukan hanya mengajak secara verbal, Cathy juga berusaha memegangi segala macam “benda” di tubuhku (ups…!!!). Kelihatannya Cathy jauh lebih ”galak” dibanding Tina yang ”adem ayem kayak bayem” dengan Tim. Yeah, sebelum otakku hilang kewarasannya, aku memindahkan tangan Cathy dari ”benda-benda sensitif” di tubuhku. Aku pun menolak ajakannya secara halus dengan cara melanjutkan lagi obrolan tentang “the best pussy in the world”. Kali ini jelas aku tidak mau kalah berargumentasi dengannya.

“Cathy, are you sure African “pussy” is the best in the world?” tanyaku.

“Yes, I am sure,” ucap Cathy dengan “pede”-nya.

“Can you make your “pussy” pulsing?” tanyaku lagi.

“What do you mean by that?” tanya Cathy bingung.

Aku lalu menjelaskan pada Cathy tentang “vagina yang bisa berdenyut”. Untuk membuat “suasana lebih semarak”, aku memanas-manasi Cathy dengan mengatakan bahwa wanita di Indonesia punya kemampuan membuat vagina mereka berdenyut untuk memuaskan pasangannya. Cathy menjadi sangat penasaran dan meminta resep bagaimana cara melakukannya. Di Tanzania rupanya belum ada vagina seperti itu sehingga disana modalnya cuma goyangan doang……-p.   Ketika aku bilang bahwa resep rahasia itu hanya diturunkan turun-temurun, Cathy menjadi putus asa. Untuk membuat dia merasa lebih kesal, aku bilang saja aku akan “ML” dengannya jika dia bisa membuat vaginanya berdenyut.

“Shaking up African version is not enough for me,” tantangku  pada Cahty.

Cathy hanya bisa menjawab dengan nada putus asa, “No, I cannot do that.”

 “Sorry babby, I will not have sex with you tonight. So, Indonesia pussy is number 1. African pussy number 2,” kilahku dengan nada sedikit mengejek.

Tim yang dari tadi “sibuk” dengan Tina tertawa terbahak-bahak mendengar kalimatku yang terakhir sambil nyeletuk, “It is so funny, dude!!” Cathy kesal dengan celetukan Tim. Dia cemberut dan kesal setengah mati.

Tim terlihat semakin hot saja dengan Tina. Adu mulut dan tukar cairan di mulut sudah terjadi.   Berbeda dengan Tim yang sangat menikmati Tina, aku  hanya ingin Cathy segera menghilang dari pandanganku.  Kalau dia tidak cepat pergi,  aku bisa bangkrut membayar minumannya.  Lagian, capek juga aku meladeninya. Baru tiga menit ngobrol sudah langsung tembak.  Parahnya, Cathy tidak mau pergi sebelum memorotiku lebih banyak.

“Give me $ 10!!” ucap Cathy dengan sedikit berteriak.

“For what?” tanyaku bingung.

“For sitting with you!!” jawabnya dengan kesal.

”Wah, sialan juga nih cewek,” makiku dalam hati. “Sudah dibayarin minum  lebih dari  40 Dollar, masih minta uang 10 Dollar pulak.”

Aku tidak mau memberi uang yang diminta Cathy hanya untuk 10 menit obrolan yang konyol. Cathy mulai bikin ulah dan ngamuk-ngamuk. Dia pergi sambil menyiram sisa red wine di gelasnya ke bajuku dan berteriak, “Fuck!!!” Bukannya bilang terimakasih sudah dibayarin minuman, dia malah marah-marah dan menyiramku. Aku diam saja karena dia pergi saja sudah syukur rasanya. Paling tidak, kantongku tak jadi bokek gara-gara membayari minumannya terus-menerus.

Rasa senangku tak berlangsung lama rupanya karena Tina menganggap aku perlu ditemani.  Dia lalu mengundang temannya yang bernama Sharon untuk menemaniku. Sharon tentu saja dengan senang hati menerima tawaran Tina. Untuk mengambil simpatiku, Sharon pura-pura serius mendengar cerita Tina  tentang masalahku dengan Cathy.  Dia seperti “terkejut” mendengar perilaku Cathy yang sangat kasar…..preeetttt!!!!

 “I am not person like that. It is so rude,” ucap Sharon berusaha meyakinkanku.

Aku diam saja tak menanggapi omongan Sharon karena aku memang tak berminat diporotin lagi. Seperti pelacur-pelacur lainnya di Q Bar, Sharon tentu bukanlah orang yang mudah menyerah begitu saja. Tanpa mendapat persetujuanku, dia duduk di sebelahku sambil bertanya, “Can I sit here?”

Stay with him,” undang Tim tanpa meminta persetujuanku. Aku sebenarnya sangat pingin menonjok muka Tim ketika dia menyuruh Sharon menemaniku. Aku mengacungkan jari tengahku kepada Tim yang hanya disambut tawa mengejek darinya.

Kelakuann Sharon setali tiga uang dengan Cathy. Belum satu menit duduk disampingku, dia sudah melancarkan “serangan”. Prosedurnya juga persis seperti yang dilakukan oleh Cathy, “langsung ke pokok permasalahan”. Sebelum rabaan Sharon di “bagian-bagian sensitif” tubuhku semakin menggila, aku pun memindahkan tangannya. Sharon tak kehilangan akal meneruskan usahanya mengajakku ke ranjang. Persis seperti Cathy, Sharon juga ngobrol soal alat kelamin. Masalahnya bukan soal vagina wanita Afrikanya yang dia bicarakan, tetapi ukuran alat kelaminku….wadddooww!!!!

“I think your penis size is medium, not big but not small,” ucap Sharon sok mesra sambil megang-megang jari-jari tanganku.  “But, it is ok. I can still satisfy you,” lanjutnya tanpa menunggu responsku.

Tim ngakak bukan main mendengar kata-kata Sharon. Aku hanya tersenyum saja sambil memandang Sharon dengan wajah super tengsin. Untungya Tim mengerti kalau kekesalanku sudah sampai di ubun-ubun. Tim menasehati Sharon supaya tak menggangguku lagi kalau dia tak punya “vagina yang berdenyut”.

“What!!!??” tanya Sharon tak percaya.

“Yeah, baby,” ucap Tim sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dengan tersenyum.

Sharon memang langsung berhenti mengajakku “ML” karena merasa vaginanya tak akan bisa berdenyut….:-p. Walaupun dia berhenti ngajak kencan, ujungnya tetap nggak enak. Persis sama dengan Cathy, dia minta uang $10 untuk obrolan konyol soal alat kelamin. Dasar Gila!!

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: Tripadvisor.