Seorang Wanita Tua Di Tengah Malam Buta…….


Dali adalah sebuah kota di Provinsi Yunan, Cina yang dibagi menjadi dua yaitu Kota Baru Dali atau Xia Guan dan Old Town Dali atau Kota Tua. Para traveler biasanya langsung menuju Kota Tua karena atraksi turis sebagian besar berada disana. Kota Tua Dali secara historis termasuk kota kuno, berumur lebih dari 1300 tahun. Kota ini dibangun pertama kali oleh Kerajaan Bai kuno yang bernama Nanzhao. Silih berganti Kota Tua Dali berganti penguasa, tetapi kota ini masih tetap bertahan dan menunjukkan keindahannya. Tembok yang mengelilingi kota tua ini masih utuh dan hanya beberapa bagian saja yang dirusak atau sengaja dirusak.

South Gate Kota Tua Dali

South Gate Kota Tua Dali

Setiap traveler yang menelusuri jalur klasik di Selatan China mulai dari Kunming sampai Tibet dan kemudian menyeberang ke Nepal selalu menjadikan Dali sebagai tempat persinggahan. Tak heran kota ini selalu ramai dengan traveler-traveler asing. Penduduk China yang semakin makmur juga turut ambil bagian menjadi turis di kota ini. Salah satu tempat berkumpul para traveler di kota ini adalah Foreign Street. Aku juga sempat singgah dan nongkrong di jalan ini  untuk bercengkrama dengan sesama traveler. Seperti biasa, aku memang selalu mencari “teman di jalan” yang mungkin bisa diajak jalan bareng.

Pada saat malam terakhirku di Dali, aku membuat sebuah pengecualian. Biasanya aku menghabiskan waktu di di Foreign Street. Kali ini aku lebih memilih menyusuri sudut-sudut Kota Tua Dali sampai ke kawasan yang tidak dilengkapi lampu penerangan. Aku memang selalu hobi mencari hal-hal yang tak umum dari sebuah kota.

Menjelang tengah malam, di salah satu sudut kota tua yang gelap, tiba-tiba ada suara seorang wanita memanggilku dengan nada berbisik,”Sir….sir…”

“What?” tanyaku bingung sambil melihat sekeliling sambil memasang kuda-kuda.

Aku bersiap jika ada orang yang ingin menyerangku. Mataku lalu menyisir setiap tempat yang tak jauh dariku. Di salah satu sudut jalan, aku melihat seorang wanita paruh baya sedang berdiri. Dia melambaikan tangan ke arahku.

“Follow me, sir. Come to my house,” ucapnya lagi dengan kepala celingak-celinguk ke kiri dan ke kanan.  

Cara wanita itu memanggil dan mengajakku untuk mengikutinya membuatku penasaran. Tanpa pikir panjang dan bertanya ada urusan apa dia mengajakku, aku menurut saja karena rasa ingin tahu yang dalam. Dengan gaya seorang intelejen, wanita itu memberi kode kepadaku untuk mengikutinya dari belakang sambil menjaga jarak. Aku pun semakin penasaran dibuatnya..:-p.

Night Life on Foregin Street, Old Town Dali

Night Life on Foregin Street, Old Town Dali

Wanita yang mengajakku memang sedikit aneh. Dia tak mau lewat jalan-jalan biasa. Aku diajaknya melewati gang-gang sempit dan gelap. Padahal, rumahnya yang tepat berada di salah satu sisi Foreign Street yang sangat ramai. Tentunya aku semakin tertarik dengan teka-teki yang dibuat oleh wanita ini karena dia tak bicara sama sekali selama perjalanan.

Tiba di rumahnya, wanit paruh baya ini langsung mengjakku naik ke lantai dua melalui tangga yang ada di depan rumah. Ruangan lantai dua ini terlihat sumpek karena dipenuhi oleh berbagai macam barang, kebanyakan barang-barang suvenir khas orang Bai. Wanita ini mengaku jika dia membuka toko suvenir di lantai satu dan menjadikan lantai dua ini sebagai gudang. Karena dia membuka toko suvenir, aku tentu saja berpikir kalau dia mau menawariku barang-barang suvenir khas suku Bai yang antik.

“Do you want marijuana, sir?” tanya wanita Bai yang tentu saja di luar dugaanku.

I don’t smoke marijuana. Why do you think I smoke it?” tanyaku balik

“You are a hippie, sir,” jawabnya.

“No, I am not,” balasku.

“You are dressing like an hippie, sir,” ucapnya membela diri.

“Oh, I bought this shirt from a Hmong woman in Vietnam. But, it doesn’t mean I am an hippie,”  ucapku membela diri.

“I am sorry…. I am sorry…I thought you are a hippie,” ucapnya dengan raut wajah yang jauh berubah. Dia seperti merasa bersalah ketika tahu aku bukan hippie. Seperti diketahui, para penganut hippie memang penikmat ganja dan senang melakukan pesta ganja.

Terlanjur ditawarin ganja, sekalian saja aku mencari informasi lebih banyak dari wanita Bai ini soal seluk-beluk bisnis ganjanya. Sayang,  dia tak mau memberiku informasi sama sekali.  Wajahnya juga mulai berubah seperti orang yang sedang ketakukan ketika aku mulai mendesaknya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyelidik seperti dimana dia mendapatkan ganjanya dan berapa harganya. (Aku memang selalu punya masalah dengan rasa ingin tahu…..:-p). Wajar dia ketakutan  karena dia mungkin berpikir aku akan melaporkannya ke polisi yang bisa bikin hidupnya berakhir. Asal tahu saja, memiliki 20 gram ganja di Cina bisa dihukum mati.

Karena merasa tak nyaman dengan kehadiranku, wanita Bai itu kemudian “mengusirku” dari rumahnya. Aku melihat wajahnya yang hampir menangis ketika menyuruhku keluar. Untuk menghindari hal-hal yang tak diingkinkan, akupun segera keluar dengan sedikit perasaan kecewa terhadap sikap wanita Bai ini tiba-tiba menjadi sangat tak bersahabat. Mungkin lain kali aku lebih beruntung bertemu pengedar yang mau sedikit berbagi………:-p.

Sekeluar dari rumah wanita Bai tadi, akupun merenung. Kalau dipikir-pikir, wanita Bai tadi sangat berani walaupun dia melanggar hukum. Dia pastinya punya nyali lebih sampai berani menjual ganja di negara seperti Cina  yang punya hukum sangat berat bagi pengedar narkotika. Aku tak tahu apakah harus kagum dengan keberaniannya atau menganggapnya sudah gila……

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting