Everest Memang Bisa Bikin Mampus…..


Selama sebulan perjalananku menyusuri pegunungan Himalaya di Yunan dan Tibet selama hampir tiga minggu, aku sedikit “memforsir” tenaga dengan mendaki empat gunung dengan ketinggian diatas 4000 m dan bersepeda ratusan kilometer. Hampir di setiap kota yang kusinggahi aku selalu mendaki dan bersepeda. Tak cukup waktu bagiku untuk sekedara istirahat memulihkan kekuatan karena terlalu “excited” melakukan petualangan.

Karena terlalu diforsir,  aku sudah sangat kelelahan ketika aku dan ketiga  temanku Jerry, Ben, dan pacarnya Vivian  menyusuri Tibet dengan jip selama lima hari. Gejala demam akibat kelelahan mulai kurasakan ketika kami tiba di Rongkbuk Monastery di kaki Gunung Gomalongma (Mount Everest). Dasar keras kepala, aku cuek saja dengan kondisi tubuhku dan berharap semangkok noodle soup serta segelas susu yang kusantap di Rongbuk bisa memulihkan kondisi tubuhku. Aku pun tak ragu ketika Ben mengajak berjalan kaki menuju Everest Base Camp sepanjang 7 km daripada harus naik dokar yang banyak disewakan disekitar Rongbuk. Kami hanya memanfaatkan dokar-dokar itu untuk membawa ransel-ransel besar kami. Dalam keadaan demam dan ransel kamera seberat 5 Kg di punggung, akupun berjalan menuju Everest Base Camp dengan penuh rasa percaya diri.

Mount Everest Dari Kejauhan

Mount Everest Dari Kejauhan

Berjalan pada ketinggian lebih dari 5300 meter diatas permukaan laut rupanya sangat berbeda dengan berjalan di ketinggian kurang dari 1000 meter karena tipisnya udara di ketinggian 5300 m. Aku memang masih kuat berjalan kaki di awal-awal.  Tetapi,  ketika jarak yang ditempuh semakin jauh dan  perjalanan semakin menanjak, aku mulai sempoyongan.  Tubuhku benar-benar sudah tidak mau diajak kompromi. Kepalaku sangat pusing dan kesadaranku mulai hilang. Ransel kamera di punggungku menjadi terasa sangat berat walaupun beratnya cuma  5 Kg. Nafasku  juga tersenggal-senggal setiap aku mendaki beberapa meter saja. Selain itu rasa ngantuk yang sangat parah juga menyerangku. Kombinasi demam, ngantuk, dan kelelahan benar-benar membuat langkah kakiku menjadi sangat berat. Sekitar dua kilometer terakhir menjelang Everest Base Camp, aku berjalan tertatih-tatih dan sangat pelan. Ben dan Jerry sudah meninggalkanku jauh di belakang. Untung saja Vivian yang cantik mau berjalan bersamaku sehingga ada tambahan semangat sedikit untuk meneruskan perjalanan….:-p.

Sekitar 500 meter dari Everest Base Camp, kakiku sudah tak kuat lagi melangkah. Aku pun langsung jatuh terduduk di pinggiran jalan. Mulutku juga mulai mengigau. Kondisi fisikku benar-benar ambruk. Tidak pernah aku pernah menyerah dalam kondisi apapun sebelumnya. Baru kali ini rasanya tubuhku benar-benar sudah tidak sanggup lagi. Akupun berbaring tak jauh dari jalanan dengan nafas yang susah payah dan ngantuk berat.  Vivian yang berjalan beberapa langkah di depanku  tak sadar kalau aku sudah tak berada di dekatnya lagi.

“I wanna sleep here! I wanna sleep here!” teriakku mengigau sambil tiduran di tepi jalan.

Vivian rupanya mendengar teriakanku. Dia langsung berlari kearahku sambil teriak-teriak, “Wake up, John!!! Wake up!!!”

Vivian terus berteriak menyuruhku bangun. Aku hanya sayup-sayup mendengar suaranya walaupun dia berteriak. Nada teriakannya seperti orang yang mau menangis. Mungkin dia ketakutan karena aku tak juga merespon teriakannya. Beberapa saat kemudian, beberapa pukulan mendarat di tubuhku. Vivian sepertinya menggunakan “Cara Rusia” untuk membuatku sadar kembali. Usahanya cukup berhasil dan kedua mataku yang tadi tertutup terbuka kembali. Vivian kemudian membantuku berdiri dan memberiku minuman. Aku harus berterima kasih kepada Vivian yang tak putus asa untuk membuatku bangun kembali. Kalau tak ada dia, mungkin aku bisa mati.

Selain baik hati, Vivian juga lumayan cantik. Maklumlah dia bekerja sebagai humas di sebuah rumah mode di New York. Terus terang, aku tak pernah bermimpi kalau suatu saat aku akan ditolong oleh seorang wanita cantik seperti Vivian, di Everest pulak….. :-). Kalau saja Vivian belum menjadi “milik” Ben, aku pasti sudah jatuh cinta padanya…..:-p

Puncak Everest Dari Everest Base Camp

Puncak Everest Dari Everest Base Camp

Insiden kecil yang terjadi denganku baru disadari Ben dan Jerry setelah aku sadar kembali. Mereka berdua memang sudah terlalu jauh berada di depan aku dan Vivian. Keduanya langsung berlari ke arah kami ketika mereka melihat Vivian sedang memberiku minum dan membantuku berdiri. Dengan hebohnya, Ben dan Jerry bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tak mau membuat mereka khawatir dan bertanya lebih banyak, aku pun mencoba berjalan. Jerry menawarkan diri untuk menenteng ransel kameraku yang tentu saja tidak kutolak. Badanku terasa lebih ringan tanpa beban di punggung walaupun kakiku masih berat melangkah karena rasa ngantuk yang sangat parah.

Pertolongan datang ketika ada dokar yang kebetulan lewat membawa turis-turis dari Rongbuk menuju Everest Base Camp. Kami menyetop salah satu dokar dan memohon kepada penumpang di dalam dokar supaya kami bisa “nebeng” bersama mereka ke Everest Base Camp. Beruntung penumpang dokar tersebut tidak keberatan “ditebengin”. Naiklah aku bersama Vivian ke atas dokar dan melanjutkan sisa perjalanan yang ternyata cuma tinggal 200 m lagi……:-).

Salah satu pelajaran yang kudapat dari trekking menuju Everest Base Camp ini adalah bahwa mendaki gunung di atas 5000 m adalah tak boleh ada kesalahan sedikitpun kalau tak mau mampus. Fisik harus prima dan jangan memaksakan diri. Aku sudah mendaki puluhan gunung di Indonesia serta beberapa negara lain. Bahkan aku pernah mendaki gunung dalam keadaan demam. Tapi, di atas ketinggian 5000 meter, seharusnya aku lebih bijaksana……

“Kepada orang-orang yang mendaki Everest dan “tertinggal” di sana…..

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting