Peluk Cium Seorang Yemen


Suatu hari ketika aku nongkrong di Kairo sana, seorang teman Indonesia yang tinggal di Mesir bernama Alnoff mengajakku pergi ke kota tua. Dia mau memperlihatkan kepadaku Citadel yang dibangun oleh penguasa Mesir jaman dahulu, Salahuddin bin Ayubi (CMIIW). Di dalam citadel ini ada Masjid dan museum perang Mesir. Isi museum perang ini berisi tentang perjuangan bangsa Mesir dari berbagai jaman. Museum ini penuh dengan alat-alat perang yang pernah digunakan oleh bangsa Mesir dan juga patung-patung serta gambar pemimpin-pemimpin Mesir yang pernah berkuasa terutama pada masa kejayaan Islam di negara ini.

Di salah satu bangunan museum ada panorama yang menggambarkan kemenangan tentara Mesir dalam perang Yom Kippur. Di salah satu dinding ada tulisan dalam bahasa Inggris yang kalau tidak salah ”We can beat the best army in the world!”. Kalimat ini menandakan sebuah kebanggaan bagi Mesir yang pernah memukul mundur pasukan Israel walaupun mereka tak cukup lama bisa mempertahankan keunggulan karena hanya butuh waktu 1 minggu bagi tentara Israel untuk memukul mundur lagi gabungan tentara Mesir, Yordania, dan Siria keluar dari Sinai. Paling tidak, tentara Mesir pernah melakukannya.

Citadel of Salahuddin, Old Town Cairo

Citadel of Salahuddin, Old Town Cairo

Keluar dari museum aku dan Alnoff membeli es krim dan ngobrol ngalor-ngidul di halaman Citadel. Baru saja ngobrol, kami mendengar ada orang yang berteriak, “Indonesia !!! Indonesia!!!”. Sebagai orang Indonesia, wajar saja kami langsung mencari arah suara. Beberapa meter dari kami ada orang bertampang khas Timur Tengah yang sedang tersenyum kepada kami. “Yes, Indonesia,” jawab kami berdua sambil tersenyum juga. Setelah mendengar jawaban kami, orang ini langsung meninggalkan perempuan disebelahnya dan mendatangi kami dengan riangnya. Dia langsung berpelukan dengan Alnoff dan cipika-cipiki khas Arab. Cipika-cipiki adalah kebiasaan orang-orang Arab untuk menunjukkan sebuah persahabatan atau kekeluargaan. Alnoff tentunya sudah biasa dengan budaya ini karena sudah tinggal lama di Mesir. Berbeda situasinya denganku yang tentu saja tidak biasa dan terus terang belum pernah berciuman dengan laki-laki. Melihat jenggotnya yang lebat saja bikin aku stress. Sepertinya dia tahu kalau aku ragu untuk berciuman dengannya. Dia hanya menyalami dan memelukku. Hm……itu kali pertama aku dipeluk sama laki-laki dengan begitu erat…..wueeeekkkk!!!!

Seperti juga orang Indonesia, orang Yemen suka bertanya langsung ke hal-hal yang pribadi. Setelah bertanya asal kami dari mana di Indonesia, agama adalah pertanyaan berikutnya si orang Yemen. Untunglah dia tak mempermasalahkan agamaku yang “Kristen”. Aku membuat kata ”Kristen” dalam tanda kutip karena memang saat itu aku meragukan soal keberadaan Tuhan atau dalam kata lain aku mempunyai perbedaan pendapat yang dalam dengan Tuhan. Tetapi untuk tidak membuat dia bertanya lagi dan menceramahiku, aku jawab saja Kristen.

“No problem, you are still my brother,” kata si Yemen dengan gembira. Sebuah kalimat yang tentu saja membuatku senang. Jujur saja, aku cukup terkejut juga ketika dia tidak mempermasalahkan agamaku.

Orang ini lalu bertanya soal alasan kami berada di Mesir. Aku menjelaskan padanya kalau aku aku sedang travelling keliling dunia sedangkan Alnoff sedang bersekolah di Al Azhar. Setelah kuberitahu kalau Alnoff sangat fasih berbahasa Arab, si Yemen jadi ngobrol akrab dengan Alnoff. Dia lalu bercerita banyak tentang bisnis pakaiannya dimana dia membeli bahan bakunya di Indonesia. Dia memilih Indonesia untuk berbisnis karena dia punya banyak saudara di Indonesia. Dulu sekali pamannya beremigrasi ke Indonesia. Dia sudah sering ke Indonesia untuk membeli barang dagangan. Menurutnya, Indonesia adalah tempat yang. indah dan penduduknya ramah.

Si Yemen benar-benar orang yang ramah dan sangat friendly. Menurut cerita, orang-orang keturunan Arab di Indonesia kebanyakan memang berasal dari Yemen. Orang Yemen terkenal sangat akrab kalau berteman dan juga sedikit “gila”. Itu menurut beberapa teman orang Arab dari berbagai negara yang pernah aku temui. Orang Yemen terkenal sebagai petarung yang tangguh dan berani. Tak heran bagiku ketika orang ini tiba-tiba mengundang kami ke rumahnya di Saana Yemen. Dia sedikit setengah memaksa ketika dia mengundang kami datang ke rumahnya seakan-akan jarak rumahnya dari Kairo hanya beberapa menti…..:-).  Dia bilang dia akan memasak khusus makanan Yemen jika kami datang dan menginap di rumahnya. Aku jadi sedikit tersipu-sipu dengan keramahannya.

“Baik bener nih orang, baru saja ketemu sudah pakai ngundang ke rumah segala. Maksa lagi,” pikirku dalam hati. Entah apa yang dilakukan orang di Indonesia terhadapnya sehingga dia begitu merasa dekat dengan kami seolah seperti saudara. Dia pun pamit setelah memberi kartu namanya kepada kami dengan pesan kami harus singgah di Yemen. Dari kartu nama yang diberikannya, akhirnya aku tahu kalau dia bernama Ahmed. Aku masih berpikir tentang keakraban yang tercipta tiba-tiba denga orang Yemen tadi. Mungkin memang begitulah orang Yemen, sangat bersahabat dengan orang yang mereka suka dan bahkan dianggap saudara. Jangan sampai bermusuhan dengan mereka, ke neraka sekalipun bakal dikejar. Beruntung orang Indonesia seperti aku dan Alnoff dianggap saudara olehnya.

Walaupun sangat bersahabat namun aku merasa ada sedikit kejanggalan. Sepanjang kami berbicara, istrinya berdiri beberapa langkah dari dia tanpa berani mendekat. Istriya cukup cantik dan tak memakai hijab seperti kebanyakan wanita di Timur Tengah. Aku sebenernya penasaran dan ingin bertanya tentang istrinya, tapi aku urungkan karena Ahmed juga tidak sekalipun berbicara tentang istrinya dan memperkenalkannya kepada kami berdua. Mungkin bagi orang non Arab, tidak memperkenalkan istri kepada temannya adalah hal yang tidak sopan tapi begitulah budaya di Timur Tengah ini. Di kawasan ini, istri dan anak perempuan tidak pernah diperkenalkan kepada tamu. Aku pun tidak berani lancang bertanya macam-macam tentang istrinya. Bisa panjang urusannya cuy……..

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting