Antara Hidup Dan Mati, Kerinci 22 Tahun Yang Lalu……..


Pengalaman pendakianku di Gunung Kerinci di akhir tahun 1992 tak akan pernah kulupakan karena apa yang kualami di gunung ini sempat membawaku pada kondisi antara hidup dan mati. Saat itu aku mendaki bersama dua orang juniorku di klub pencinta alam kampus, sebut saja sebagai Aswin dan Bule. Perjalanan pendakian kami dimulai dengan naik bus selama dua hari dari Bandung menuju Bangko di provinsi Jambi. Aku bisa katakan perjalanan tersebut bukanlah perjalanan favoritku karena sepanjang jalan aku muntah-muntah terus.

Dari Bangko, kami naik bus malam yang sudah kelebihan beban menuju Sungai Penuh. Perjalanan menuju Sungai Penuh sedikit menegangkan karena masa itu bajing loncat masih berkeliaran di sekitar jalur Bangko-Sungai Penuh. Demi menghindari komplotan bajing loncat, supir menghentikan bus di salah kawasan di tepian Danau Kerinci dan menunggu hari terang sebelum melanjutkan perjalanan. Akibatnya, bus kami baru tiba di Sungai Penuh menjelang siang dan kamipun ketinggalan satu-satunya bus yang menuju desa Kayu Aro, tujuan akhir kami sebelum pendakian. Kami bertiga terpaksa menginap satu malam di Sungai Penuh sambil membeli perlengakapan pendakian yang masih kurang.

Mount_Kerinci_from_Kayuaro

 

Singkat cerita, kami tiba di Desa Kayu Aro menjelang malam keesokan harinya. Desa ini persis terletak di kaki Gunung Kerinci dan menjadi desa terakhir sebelum melakukan pendakian. Aku dan kedua juniorku menginap satu malam di rumah Juru Kunci Kerinci yang menyediakan tempat menginap. Pak Kuncen juga berbaik hati mengantar kami kami ke kantor Dinas kehutanan untuk melaporkan rencana pendakian kami.

Pagi hari menjelang pendakian, Pak Kuncen menyuruh kami  mengetukkan kaki ke tanah tiga kali demi keselamatan. Sayangnya,  tak satupun dari kami yang mau melakukannya. Dia juga memberitahu  kami bahwa seharusnya kami mendaki ke Gunung Kerinci dengan jumlah orang yang genap, sedangkan kami hanya bertiga. Kami hanya menganggukkan kepala acuh tak acuh mendengar penjelasannya. Seperti anak-anak kota lainnya, kami tak terlalu ambil pusing dengan nasehat Pak Kuncen. Lagian, mau dicari dimana satu orang lagi supaya jumlah kami menjadi genap?

Pendakian kami sampai ke pos terakhir yang terletak di kawasan batas hutan dan pasir tak mengalami masalah yang berarti. Menurut Pak Kuncen, kami memang harus mencapai tempat ini sebelum matahari terbenam untuk menghindari pertemuan dengan harimau Sumatera.  Kami bukan yang pertama tiba disana karena ada lima pendaki lain yang sudah tiba lebih dulu. Mereka adalah remaja-remaja asal Sungai Penuh yang juga berniat mendaki ke puncak Gunung Kerinci.

Setelah kuamati lebih seksama, aku merasa heran dengan cara anak-anak Sungai Penuh itu  mendaki Gunung Kerinci yang tingginya hampir mencapai 4000m, tepatnya 3806 m di atas permukaan laut. Menurutku, mereka termasuk orang-orang yang nekat karena tak satupun diantara mereka yang membawa peralatan yang memadai dan makanan yang cukup. Modal mereka hanya 1 baju ganti dan nasi bungkus untuk makan malam. Berani itu perlu perhitungan, tetapi kelima anak remaja ini sedang mempersiapkan “misi bunuh diri”.  Suhu udara di puncak gunung ini bisa mencapai titik beku. Tak memakai pakaian hangat dan kurang asupan makanan adalah hal pertama yang akan kuhindari.  Kelihatannya hal-hal yang kusebutkan tak terpikirkan oleh mereka.

Kami berbincang-bincang sebentar dengan kelima remaja Sungai Penuh sebelum mendirikan “tenda bivak” dari jas hujan dan ranting. Aswin dan Bule memang tidak boleh membawa tenda sebagai syarat kelulusan menjadi anggota klub pencinta alam kampus kami, sedangkan aku hanya dalam misi sukarela ikut menderita bersama mereka. Untuk beli tenda dome yang mewah, kantong anak kuliahku jelas tidak mencukupi.…:-p. Walaupun sifatnya darurat, kami berusaha membuat “tenda bivak” sekokoh mungkin supaya tidak berantakan diterpa angin.

Kelima remaja Sungai Penuh hanya diam saja ketika melihat kami mendirikan tenda. Mereka sama sekali tidak berusaha membuat tempat perlindungan. Salah seorang dari mereka mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja walaupun dia dan keempat temannya yang lain mengaku baru pertama kali ini mendaki gunung, setinggi 3806 m pulak…:-p. Kelimanya memilih berlindung di sebuah “gua kecil” yang hanya muat untuk 3 orang secara bergantian. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat “kenekatan” mereka.  Ketidakmengertian tentang pendakian gunung hutan membuat mereka menjadi  “super nekat”. Mereka mungkin merasa tak akan mengalami masalah yang berarti, apalagi langit sangat cerah sore itu.

Bencana datang ketika kami baru saja akan tidur, sekitar pukul 8:00 malam. Langit yang sebelumnya cerah dipenuhi bintang kini tertutup oleh awan tebal dan gelap. Hujan kemudian turun dengan derasnya disertai badai. Kami bertiga mulai meragukan kekokohan “tenda bivak” yang kami buat karena angin jauh lebih kencang dari yang kami perkirakan. Benar saja, satu jam kemudian “tenda bivak” kami hancur berantakan terbawa angin badai.  Hujan pun kemudian turun dengan lebatnya dan membasahi pakaian serta ransel kami. Aku berusaha menutupi ransel kami dengan jas hujan yang tak terbawa angin supaya tidak terlalu basah. Anak-anak remaja dari Sungai Penuh masih tertawa-tawa melihat kesialan kami saat itu.

Keadaan makin memburuk menjelang pukul 10:00 malam. Hujan makin lebat dan angin badai makin kencang disertai sambaran petir yang hanya berjarak beberapa meter dari kami. Aswin dan Bule sudah tak berdaya dan hanya bisa memandangiku yang masih berusaha membuat perlindungan darurat. Kelima anak remaja Sungai Penuh yang tadi penuh tawa dan canda sekarang diam membisu. Wajah mereka mulai menunjukkan ketakutan.

Sejam kemudian suasana benar-benar kacau karena salah seorang anak remaja Sungai Penuh itu mulai menangis dan berteriak-teriak memanggil emaknya minta pulang. Aku yang tadinya mulai gentar dengan keganasan alam malah jadi pingin ketawa melihat anak itu menangis memanggil-manggil emaknya. Aku berusaha membujuknya supaya tetap tenang. Belum lagi anak ini selesai menangis, satu anak lagi bikin ulah. Dia mau turun kembali ke Kayo Aro. Suasana jadi benar-benar chaos. Untung ada yang teriak, “Bang….si Iwan mau turun!!!!”

Anak yang bernama Iwan itupun langsung kukejar sebelum hilang dari pandangan mataku. Turun dalam keadaan hujan lebat dan angin kencang di kegelapan malam adalah hal yang terbodoh yang dilakukan oleh seorang pendaki yang tak berpengalaman. Tak perlu lama baginya untuk kehilangan orientasi, kemudian terjatuh masuk jurang dan mati disana.

“Kau akan mati masuk jurang kalau kau turun!!!” teriakku kepada si Iwan di tengah hujan deras.

“Aku takut bang!!’ rengeknya.

“Kan kita rame-rame disana, kok kau takut pulak?” tanyaku dalam logat melayu Medan yang kental.

Iwan menuruti kata-kataku dan tak jadi turun. Aku membawanya kembali kepada teman-temannya yang ketakutan dan pasrah. Gigi mereka bergemeretak keras karena kedinginan. Melihat wajah-wajah teman-temanku yang pasrah dan seperti orang yang tak punya harapan, aku jadi ingat kata orang bijak “Untuk melihat perilaku manusia yang sebenarnya, lihatlah pada saat kondisi yang kritis antara hidup dan mati”. Sebenarnya aku juga sama takutnya dengan mereka, cuma aku mungkin lebih matang menghadapi kejadian ekstrim seperti ini daripada kedua juniorku dan kelima remaja Sungai Penuh itu. Hal inilah yang membuatku masih bisa berpikir dan segera bertindak sebelum terlambat. Kalau aku tak berbuat apa-apa, mungkin teman-temanku ini semua bisa “mati berjemaah” karena stress dan hipotermia. Mati rame-rame di gunung sudah sering terjadi terutama ketika salah seorang pendaki celaka dan teman-temannya menjadi sangat stress dan panik. Orang yang terserang kepanikan yang akut hampir tak bisa berbuat apa-apa, seperti orang terhipnotis dan tanpa sadar membahayakan dirinya sendiri sehingga bisa ikutan mati seperti temannya. Cerita-cerita mistis pun pasti mengikuti musibah seperti ini, padahal masalah sebenarnya adalah pada mentalitas dan psikologi si pendaki.

Aku lalu mengambil jas hujan yang tadi menutupi ransel kami dan membuatnya menjadi atap. Setiap ujung jas hujan  kuikatkan pada sebatang pohon supaya tak terbawa angin. Aku mengeluarkan semua parafin, beberapa kotak susu, coklat dan jerigen air dari ransel-ransel kami. Tanpa banyak cakap, aku mulai memotong beberapa ranting kecil dan mengupas kulitnya untuk mendapatkan bagian dalam kayu yang kering di bagian dalam karena khawatir parafin yang kami bawa tidak akan cukup untuk memasak air panas. Bule kemudian membantuku memotong-motong ranting dan mengulitinya.

Saat aku mulai memasak air panas, pikiranku mulai diliputi kekhawatiran. Aku merasa kami mungkin tak bisa bertahan jika kondisi alam terus memburuk. Untuk menghilangkan rasa khawatirku,  aku mulai bernyanyi lagu-lagu rohani gereja yang diajarkan di sekolah minggu saat aku kecil. Sebagai orang yang mengaku atheis sejak kecil (saat itu), aku memang merasa sedikit malu meminta pertolongan dari “Sesuatu Yang Lebih Maha”. Mungkin begitulah orang-orang yang mengaku atheis. Ketika ketakutan melanda, mereka juga akan meminta pertolongan kepada “Sesuatu Yang Lebih Maha” itu. Itu hanya asumsiku saja. Mungkin penganut atheis yang lain punya pendapat yang berbeda.

Suasana yang tadi tegang berubah menjadi sedikit lebih ceria ketika susu yang kubuat kubagi-bagikan. Hanya Aswin saja yang kelihatan “memble”, terbaring lemah di dalam kantung tidurnya yang basah dan tampak pasrah. Berbeda sekali kondisinya dengan kelima anak-anak remaja Sungai Penuh yang sudah bisa tertawa kembali seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal, beberapa jam yang lalu mereka semua berteriak-teriak ketakutan. Bule juga kelihatan lebih rileks dan memuji ketenanganku. Dia tidak tahu saja kalau aku juga merasa takut….:-p.

Pukul 2 :00 pagi, hujan dan badai tiba-tiba berhenti. Langit yang tadi tertutup awan gelap sekarang penuh dengan bintang-bintang kembali. Anak-anak remaja Sungai Penuh bersiap mendaki ke puncak Kerinci, sedangkan aku masih berusaha membujuk Aswin yang meringkuk di dalam kantung tidur supaya ikut mendaki ke puncak. Sudah kubujuk-bujuk sampai mulutku berbusa, tetapi dia tetap menolak dengan seribu macam alasan. Dia merasa lebih baik meringkuk dalam kantung tidurnya yang basah. Aku dan Bule terpaksa meninggalkan Aswin sendirian setelah memastikan keadaannya baik-baik saja. Memang, kelihatannya aku dan Bule terkesan sedikit egois karena meninggalkan dia sendirian. Tapi, aku rasa Aswin tak punya masalah dengan fisiknya. Mentalnyalah yang bermasalah.

Kami berhasil mencapai puncak Kerinci sekitar pukul 6:00 pagi dan menghabiskan waktu selama 3 jam disana sebelum kembali turun ke lokasi tenda kami. Hari sudah menjelang siang, sekitar 11:00 pagi saat kami tiba kembali disana.  Aswin yang tadi malam “memble” sekarang sudah kelihatan segar bugar dan berniat mendaki ke puncak sendirian. Aku tentu saja merasa perlu memberi “sedikit penjelasan” kepadanya. Untung Aswin mau menerima dan kami pun bisa turun ke Kayu Aro.

Anak-anak Sungai Penuh turun lebih dahulu karena mereka tak perlu membereskan peralatan. Cepat sekali mereka turun karena tak membawa apa-apa. Ketika kami mulai beranjak turun, mereka sudah jauh dan tak terdengar suara candaan mereka lagi. Kami baru bertemu mereka lagi sesudah kami keluar dari hutan Gunung Kerinci. Mereka berlima lagi duduk-duduk sambil bercanda di padang rumput dekat kebun teh. Aku, Aswin, dan Bule menghampiri mereka untuk ngobrol sebentar

“Makasih yo bang semalam,” ucap anak yang menangis tadi malam.

“Kau bisa ketawak sekarang. Semalam kau manggil emak kau,” ucapku meledek. Anak-anak yang lain langsung ketawa riuh rendah meledek anak remaja yang manggil emaknya itu.

“Kalau abang tak ado semalam, kami bisa mati semua,’” ucap Iwan menambahi.

“Ah, biaso ajalah,” balasku.

Setelah ngobrol hampir setengah jam dengan kelimanya sambil menikmati angin sore di padang rumput, kami bertiga meneruskan perjalanan menuju rumah Kuncen Kerinci di Kayu Aro. Anak-anak Sungai Penuh itu masih mau menikmati padang rumput sambil beristirahat. Mereka bercanda dan tertawa-tawa riang,  berbeda sekali dengan kondisi mereka tadi malam. Tak terlihat lagi wajah-wajah ketakutan yang penuh kepasrahan. Aku senang melihat mereka hidup…….

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Photo: Wikipedia (Photo2ku sudah hilang entah kemana)