Tibet Tak Selamanya Indah….An Uncovenient Truth


Alam Tibet sudah terkenal dengan keindahannya. Tak ada yang memungkiri hal tersebut. Tetapi, di balik alam yang indah tersebut tersimpan kehidupan yang sangat keras. Hidup di ketinggian di atas 4000 m bukanlah hal yang mudah. Jarang tumbuhan yang bisa hidup di ketinggian tersebut. Sebagian besar Tibet adalah gurun tundra yang sulit ditanami. Kerasnya membuat orang-orang yang hidup di dataran tinggi ini mempunyai watak yang tak kalah keras.

Mungkin banyak yang terpesona dengan kerendahan dan kelembutan hati Dalai Lama, pemimpin spritual Tibet yang berada di dalam pengasingan. Aku mungkin salah satu di dalamnya. Persepsi awalku tentang orang TIbet sebelum datang ke kawasan ini sangat dipengaruhi oleh Dalai Lama. Keindahan alam Tibet yang sangat terkenal membuatku berpikir bahwa orang-orang TIbet hidup dalam keadaan yang seindah alamnya karena begitulah yang selalu terlihat di foto-foto traveler yang masuk sebelum aku (sekitar tahun 2005). Ternyata image yang indah tentang alam TIbet berbeda sekali dengan kehidupan orang-orangnya. Aku awalnya tidak siap dengan hal ini ketika masuk ke Tibet. Aku sedikit terkejut ketika keluar dari bandara langsung disuguhkan dengan keributan antara dua orang calo dari etnis Tibet dengan beberapa traveler yang menolak harga taksi super tinggi yang mereka tawarkan.  Kedua calo ini tak terima ketika para traveler membatalkan niat untuk naik taksi dan memilih untuk naik bus umum. Mereka memaksa dan memaki-maki para traveler tersebut dengan bahasa yang sangat kasar. Aku dan kedua teman perjalananku, Ben dan Vivian sempat was-was juga karena melihat kasarnya dua orang calo tadi mengancam para traveling yang bertransaksi dengan mereka. Berbeda sekali dengan kata-kata bijaksana yang selalu dikeluarkan oleh Dalai Lama.

Sesampainya di Lhasa, Ben dan Vivian langsung mengajakku untuk ikut perjalanan menuju ke Kathmandu dengan jip. Aku pun setuju saja karena tujuan terakhirku memang Nepal, tapi aku tak tahu bagaimana caranya ke sana dari TIbet karena tak punya buku panduan. Tadinya, aku akan mengumpulkan informasi dulu di Lhasa. Untunglah aku bertemu dengan Vivian dan Ben di Shangrilla sehingga aku tak perlu bersusah payah mencari informasi dan teman-teman yang mau urunan nyewa jip. Naik bus memang lebih murah dan menantang, tapi ilegal bagi orang asing. Traveler-traveler nekad dari Korea dan Jepang paling suka naik bus secara ilegal karena tampang mongoloid mereka. Aku sudah pernah mendengar kisah-kisah beberapa teman traveler dari kedua negara ini yang pergi ke berbagai tempat di Tibet tanpa permit dengan “menyaru” sebagai penduduk lokal atau bersembunyi dalam karung di dalam bus. Beberapa yang ditangkap dan tak sedikit yang lolos.Aku tentu saja tak ingin mencobanya karena tampangku jelas sangat jauh dari kesan mongoloid sehingga tak akan mungkin mengelabui tentara dan polisi yang berjaga di berbagai checkpoint. 

Menyewa jip bareng adalah  cara yang paling bijaksana untuk melakukan petualangan di Tibet daripada ikut sebuah group tour yang sangat dianjurkan oleh pemerintah Tiongkok itu . Dengan demikian, kami bisa bebas menjelajahi Tibet tanpa harus terikat dengan waktu yang ketat. Previlege seperti yang aku alami ketika menjelajah Tibet “dengan bebas”  seperti ini tak mungkin lagi dialami oleh traveler-traveler yang menjelajahi Tibet setelah tahun 2011 karena Pemerintah Tiongkok memberlakukan aturan yang ketat masuk ke Tibet.

Selama mencari travel operator yang mau  menyewakan jip, kami bertiga (aku, Ben, dan Vivian) sempat mengalami “diskriminasi” yang sedikit aneh. Semua travel operator milik orang Tiongkok dari etnis Han tidak mau menyewakan jip kepada kami. Vivian yang keturunan Taiwan berusaha membujuk mereka dengan bicara pakai bahasa Mandarin, tetapi mereka tak bergeming. Semuanya menyuruh kami menyewa jip dari travel operator yang dimiliki oleh etnis Tibet. Kami sedikit kebingungan dengan perlakuan seperti ini karena tak pernah ada referensi yang mengatakan ada “diskriminasi” dalam hal penyewaan jip di Tibet.

Pencarian tempat penyewaan jip yang kami lakukan berakhir di Barkhor Street yang menjadi ghetto para traveler dari berbagai negara di dunia. Semua travel operator disini milik etnis Tibet. Kami bertiga lalu masuk kedalam salah satu travel operator. Ben yang berusaha akrab dan juga dipenuhi rasa ingin tahu bertanya kepada salah satu pegawai travel agent yang dimiliki oleh orang Tibet ini. Masalahnya pertanyaan Ben sangat tidak disukai oleh orang Tibet yaitu pertanyaan soal apakah orang Tibet termasuk orang China atau tidak. Si pegawai langsung ngamuk-ngamuk dan sangat tidak menerima pertanyaan Ben.

“We are not Chinese. We are Tibetans!!!” teriaknya keras

Si pegawai travel operator tidak puas hanya teriak saja. Dia juga mengkuliahi kami soal penjajahan pemerintah komunis Tiongkok terhadap tanah Tibet dan segala kejahatan yang pernah dilakukan oleh rejim yang berkuasa. Mulut si pegawai kemudian dipenuhi oleh makian-makian terhadap pemerintah Cinda yang aku rasa sangat tak layak kutampilkan disini. Dia juga memprotes orang-orang Tiongkok dari suku Han yang sengaja ditransmigrasikan oleh pemerintah ke Tibet. Lhasa, ibukota Tibet tak lagi “dikuasai” oleh orang Tibet secara ekonomi. Hampir semua toko-toko dan restoran sepanjang jalan-jalan utama di Lhasa dimiliki oleh orang-orang Tiongkok dari etnis Han sedangkan banyak dari orang-orang Tibet menjadi pengemis di emperan toko-toko ini. Rasa cemburu dan tersingkirkan begitu menggores dalam di hati orang Tibet melihat kemajuan ekonomi yang dimiliki oleh orang-orang Tiongkok dari etnis Han ini.

Pengemis etnis Tibet..

Pengemis etnis Tibet..

Kemarahan-kemarahan yang diungkapkan oleh beberapa teman dari Tibet ini membuatku sedikit mencari tahu tentang Tibet di internet. “Mr Google” memang sangat membantuku dalam hal ini. Dari sini aku tahu bahwa Tibet adalah provinsi termiskin di China dan sebagian besar penduduknya hidup dalam garis kemiskinan. Wajar saja orang Tibet cemburu dengan kesuksesan orang-orang Han yang datang sebagai pendatang di tanah mereka. Soal keadilan pemerintah China terhadap Tibet hanya pemerintah Tiongkok yang tahu. Aku tak mau tulisan ini menjadi sebuah opini politik.

Perjalananku ke pedalaman Tibet semakin membuka mataku tentang kehidupan keras orang Tibet itu sendiri.Tenjin, supir jeep kami memang sangat menguasai jalan-jalan yang tidak umum sehingga aku dan tiga orang teman perjalananku, Ben, Vivian dan Jerry (yang ikut belakangan) bisa menikmati Tibet yang sesungguhnya. Di pedalamaan Tibet di ketinggian 5000m diatas permukaan laut, banyak orang-orang Tibet yang nomaden hidup di dalam tenda-tenda dengan kondisi yang menyedihkan. Aku tak tahu bagaimana cara mereka hidup dengan kondisi seperti ini. Anak-anak mereka juga banyak yang telanjang tanpa sehelai benang sekalipun.

Anak-anak suku nomaden Tibet

Anak-anak suku nomaden Tibet

Di bagian lain di sekitar Shigatse, aku melihat wanita-wanita Tibet bekerja keras sebagai buruh bangunan untuk menopang hidup. Semiskin-miskinnya orang di Indonesia, aku tak pernah melihat wanita menjadi buruh bangunan. Kami juga bertemu dengan seorang ibu dan anak perempuannya memikul beban yang ukurannya lebih besar dari tubuh mereka. Ben sampai tak tega melihatnya dan memberikan uang $ 10 setelah memotret mereka. Tibet rupanya bukan hanya soal keindahan alamnya saja tetapi juga tentang perjuangan hidup yang keras dari orang-orang yang tinggal di dalamnya.  Sepanjang perjalanan  mata kami juga tak terlepas dari buruh-buruh kasar yang berasal dari orang-orang Tibet membangun jalan-jalan mulus di  salah satu titik tertinggi di muka bumi ini. Tenjin benar-benar “memanjai” kami dengan pengetahuannya tentang pedalaman Tibet sehingga kami bisa menikmati sisi lain dari Tibet yang mungkin tak banyak orang melihatnya.

Ibu-Ibu Yang Jadi Buruh Bangunan

Ibu-Ibu Yang Jadi Buruh Bangunan

Everest Base Camp adalah tujuan terakhir kami di Tibet sebelum jeep kami menuju Zikhou, kota terakhir di Tibet sebelum menyeberang ke Nepal. Jip kami berhenti di Rongbuk Monastery dan perjalanan menuju Everest Base Camp  dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh tujuh kilometer. Kami sempat menginap satu malam di sebuah tenda yang bocor sepanjang malam karena tak tahan dilanda salju yang mencair. Karena tak bisa beristirahat sepanjang malam, Ben akhirnya menyewa salah satu dokar yang lagi nongkrong di Everest Base Camp untuk turun kembali ke Rongbuk Monastery. Pengemudi dokar ini adalah seorang perempuang berumur sekitar 50 tahunan kalau dilihat dari gurat-gurat di wajahnya.

Big Burden on High Ground

Big Burden on High Ground

Perjalanan kami dengan dokar ke Rongbuk Monastery sangat menyenangkan jika dibandingkan saat mendaki ke Everest Base Camp karena tak perlu lagi bersusah payah dengan nafas terengah-engah menghirup udara yang sangat tipis. Beberapa teman traveler yang menginap di Everest Base Camp sampai membawa tabung oksigen karena kesulitan bernafas. Ada juga yang sakit kepala akut karena Mountain Sickness yang parah. Untunglah ada ibu si penarik dokar ini yang mungkin nongkrong semalaman di dokarnya menahan dingin.

Keceriaan kami naik dokar berganti dengan keterkejutan ketika kami tiba di Rongbuk. Ibu-ibu pengemudi dokar langsung saja ditabokin oleh  beberapa preman. Aku dan ketiga temanku tentu saja bingung dengan apa yang terjadi. Aku dan Ben sempat ingin menghalangi preman-preman yang nabokin ibu ini, tetapi salah seorang pria yang juga pengemudi dokar  menahan kami supaya tidak ikut campur. Dia memberitahu kami bahwa ibu ini telah menyalahi aturan karena sebenarnya dia tak boleh mengantar kami ke Rongbuk. Kami berempat hanya bisa merasa iba dengan kejadian yang menimpa si ibu pengemudi dokar, tetapi tak ada juga yang kami bisa lakukan. Si pengendara dokar yang memberitahu kami menganjurkan kami untuk diam saja dan tak berlagak jadi pahlawan kalau tak mau jadi korban pengeroyokan.

Kejadian yang menimpa si ibu penarik dokar membuka mataku tentang kerasnya hidup di TIbet. Si ibu penarik dokar pasti sudah tahu resiko yang akan dia hadapi jika dia nekad mengantar kami dengan dokarnya, tetapi dia tetap melakukannya.   Mungkin dia berpikir sedikit rasa sakit tak menjadi masalah jika dibandingkan uang yang didapatkannya.

Perasaan dijajah dan juga kemiskinan pasti membuat orang frustasi. Wujud dari rasa frustasi ini memang akhirnya bisa menjadi anarkis ketika para laki-laki yang merasa superior tidak bisa melampiaskan kesuperioran mereka karena ditindas penguasa. Aku bisa memakluminya, tetapi aku tetap tidak bisa memakumi seorang perempuan tua dipukuli oleh beberapa orang pria hanya gara-gara menyalahi aturan. Sepertinya Tibet memang bukan hanya soal keindahan, tetapi juga tentang kerasnya hidup…….

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo’s: Jhon Erickson Ginting