Sekelumit Kisah Tentang “Indon Girls” Di Malaysia……..


Aku pernah tinggal di Kuala Lumpur selama dua tahun dari tahun 2005 sampai tahun 2007, tapi sedikit sekali aku bercerita tentang Malaysia. Bisa dibilang aku sedikit lupa tentang pengalaman-pengalaman perjalananku menjelajahi berbagai tempat di negara ini. Mungkin terlalu banyak kenangan yang indah sekaligus pahit yang kualami selama tinggal di negara ini sehingga membuatku sedikit hati-hati untuk bercerita….:-).

Seperti cerita-cerita dalam blogku, aku tak akan bercerita tentang indahnya Langkawi, Penang, Genting atau indahnya Petronas Twin Tower yang pernah menjadi kantorku. Emak-emak di Medan sana termasuk mendiang emakku sendiri pasti lebih tahu dariku soal tempat-tempat ini…:-p. Ceritaku ini adalah kumpulan pengalaman-pengalamanku ketika bersentuhan dengan teman-teman sebangsa yang mungkin kurang beruntung seperti kami-kami yang bekerja di Perusahaan Minyak Nasional Malaysia dan perusahaan-perusahaan minyak asing lainnya.

Sesuai judul aku akan bercerita tentang “Indon Girls”.  Awalnya agak risih memang mendengar kata “Indon” tapi kemudian aku anggap biasa saja karena orang Malaysia dan Indonesia yang sudah lama tinggal di Malaysia menyebut Indonesia dengan kata “Indon”. Kali pertama kudengar kata-kata “Indon Girls” ketika seorang teman kerjaku orang Malaysia mengajakku nongkrong di bar. Dia bilang banyak “Indon Girls” cantik-cantik yang bakal menemani kami di bar. Tampangku yang memang tampang pemabok (sadar diri…:-p) selalu saja menjadi sasaran ajakan dari berbagai teman untuk nongkrong di bar dan diskotik. Tentu saja aku tak pernah menolak karena tak ada salahnya juga menikmati hidup. Tapi, kali ini aku menolak ajakan teman kerjaku ini.  Bukan karena tersinggung dengan ada kata “Indon” yang diucapkannya, tetapi karena merasa risih dengan tambahan kata “Girls” di belakang kata “Indon”. Sudah pasti para hostes dan juga “wanita-wanita penghibur” di bar tersebut berasal dari Indonesia. 

Terus terang, dulu aku doyan “minum”, tapi tak pernah menjadi penikmat “wanita penghibur”. Walaupun pekerjaan menjadi “wanita penghibur” di luar batas standar moralku, aku tak pernah mencemooh wanita-wanita yang menekuni profesi ini karena bukan hakku juga menjadi hakim atas perbuatan mereka. Hanya saja, tengsin juga rasanya ketika aku nongkrong di bar bareng teman-temanku dari negara lain, yang menemani adalah “wanita-wanita penghibur” dari Indonesia apalagi di negara yang bertetangga dengan Indonesia seperti Malaysia. Pasti malu banget rasanya. Ini memang hanya pendapatku pribadi saja. Jika orang lain punya pendapat berbeda, itu urusan masing-masing. Aku hanya tak mau melihat teman-temanku dari negara lain memandang rendah Indonesia karena melihat “wanita-wanita yang malang” ini. Bisa-bisa aku lepas kontrol juga. Aku pernah hampir kelepasan menonjok rekan kerjaku orang bule yang berkata, “Indonesian women are cheap!!!” 

Di lain waktu  aku singgah di Kota Kinabalu. Aku sering sekali berkunjung ke kota ini karena urusan pekerjaan. Berbeda dengan kunjungan-kunjungan sebelumnya, kali ini aku datang ke Kota Kinabalu untuk mendaki Gunung Kinabalu. Kalau urusan pekerjaan, tentulah aku selalu nginap di hotel mewah. Karena urusan pribadi, aku pun memilih tinggal di hotel yang lebih murah. Ternyata aku salah pilih hotel karena sepertinya hotel yang kupilih berada di kawasan “Red District” Kota Kinabalu. Hotel ini tepat bersebelahan dengan sebuah diskotik. Aku pun hanya bisa menggerutu kesal karena kelalaianku.

Malam harinya aku keluar makan malam. Aku sudah tahu restoran yang kutuju, sebuah restoran seafood yang dikelola oleh orang Indonesia, sebut saja namanya Bang Hasan. Dia sudah belasan tahun tinggal di Kota Kinabalu dan merasa betah tinggal di kota ini. Istri dan anak-anaknya pun tinggal bersamanya di sini. Dia belum berpikir untuk kembali ke kampung halamannya di salah satu kota di Jawa Tengah sana. Setiap kali berkunjung ke Kota Kinabalu, aku selalu nongkrong di restoran Bang Hasan untuk makan ikan bakar dan sekedar berbagi cerita dengannya. 

Saat aku kembali dari makan malam, suara dentuman musik dari diskotik sebelah sudah terasa hingar bingar.  Suara tawa cekikikan wanita terdengar sampai keluar. Yang membuatku penasaran adalah teriakan-teriakan yang sangat khas Indonesia keluar dari mulut wanita-wanita itu. Aku pun langsung menduga jika mereka adalah “wanita-wanita bar” asal Indonesia. Perasaanku jadi campur aduk, antara kesal dan sedih. Kesal karena wanita-wanita Indonesia itu cukup mempermalukan nama negaranya dengan bekerja seperti ini dan sedih karena negara mereka belum sanggup memberi yang terbaik buat rakyatnya. Mungkin mereka memilih bekerja seperti ini  untuk bertahan hidup atau yang lebih parah lagi, mungkin saja mereka korban perdagangan manusia sehingga tak punya pilihan selain menuruti kemauan orang-orang yang memperdagangkan mereka. 

Aku sempat mengintip ke dalam diskotik karena kebetulan pintu diskotik dibuka lebar, mungkin untuk memancing tamu. Beberapa wanita berpakaian seksi yang bisa kupastikan berasal dari Indonesia sedang bergerombol ngerumpi dan cekikikan. Tadinya aku  ingin masuk untuk sekedar ingin tahu, tapi kuurungkan niatku karena aku takut kebablasan. Kalau sudah kena alkohol, aku jadi suka lupa diri….:-p. Kalau sudah begitu, repot jadinya. Bisa-bisa aku gagal mendaki Gunung Kinabalu.

Sepulang dari mendaki Gunung Kinabalu, aku kembali nongkrong di restoran Bang Hassan untuk makan malam dan ngobrol. Tentu saja topik obrolanku kali ini adalah soal wanita-wanita Indonesia yang cekikan di diskotik sebelah hotelku sebelumnya. Bang Hasan langsung saja nyeletuk,”Banyak bang cewek-cewek dari Indon kerja di klub-klub malam di sini bang.”

“Kerja mereka apa bang?

“Macam-macam, ada yang jadi pelayan bar, tapi ada juga yang jadi pelacur.”

“Korban perdagangan manusia bang?”

“Tak semuanya, banyak juga yang memang sudah jadi pelacur dari sononya.”

“Kalau yang jadi korban perdagangan manusia, tak ada kah yang mau nolong mereka bang?”

“Bagaimana pula mau nak tolong. Ada samseng (preman, mafia) yang jaga mereka.”

Aku tak lagi bertanya kepada Bang Hasan karena dia dengan sukarela bercerita tentang wanita-wanita Indonesia yang menjadi “pekerja malam” di Malaysia. Menurut Bang Hasan, praktek seperti ini sudah terjadi sejak dia datang ke Malaysia. Beberapa dari “pekerja-pekerja malam” asal Indonesia malah suka makan di restorannya. “Wanita-wanita penghibur” yang bekerja di klub-klub malam di Malaysia memang tak melulu dari Indonesia karena banyak juga yang berasal dari Filipina, Thailand, Vietnam, Kamboja, dan lain-lain.

Aku tak pernah benar-benar ingin tahu soal kehidupan “Indon Girls” di Malaysia karena aku juga tak bisa berbuat apa-apa untuk merubah keadaan. Dunia yang melingkupi mereka adalah dunia bawah tanah yang tak sembarang orang bisa masuk. Media-media di Indonesia sudah sering menceritakan tentang perdagangan manusia dari Indonesia ke negara lain termasuk ke Malaysia. Walaupun terkesan tak mencari tahu, entah kenapa aku kembali bertemu dengan orang-orang yang pernah berkecimpung dalam dunia beginian. Kali ini aku bertemu langsung dengan seorang wanita asal Indonesia yang pernah masuk dalam kehidupan dunia malam di Malaysia, sebut saja bernama Mawar. Aku bertemu dengan Mawar ketika sedang asyik menyusuri jalan-jalan di Pulau Labuan, sebuah pulau tempat peristirahatan di Utara negara bagian Sabah.

Mawar telah dua puluh tahun lebih tinggal di Malaysia dan berpindah dari satu kota ke kota yang lain. Kehidupan masa lalunya cukup kelam karena dia mengaku pernah menjadi salah satu “wanita malam” di klub-klub malam di kota Miri yang terkenal sebagai Kota Minyak Malaysia. Mawar yang berasal dari Sulawesi ini banyak bercerita kepadaku tentang kehidupan wanita-wanita Indonesia yang menjadi pekerja di klub-klub malam di Miri. Tak sedikit yang menjadi “wanita penghibur”. Pada masa jayanya di sekitar tahun 90-an, Miri memang menjadi tempat nongkrong orang-orang Minyak. Pengunjung-pengunjung yang datang kebanyakan dari Brunei yang ingin mendapat sedikit hiburan di Miri. Maklumlah, Brunei memang tak memberi tempat untuk klub-klub malam yang seperti di Miri. Klub-klub malam bertumbuh seperti jamur dan pastinya klub-klub ini memerlukan banyak pekerja termasuk “wanita-wanita penghibur”. Seperti penjelasan Bang Hasan, Mawar juga bilang jika “wanita-wanita penghibur” tersebut berasal dari berbagai bangsa, tak hanya Indonesia. 

Walaupun tak lagi segemerlap dulu, kehidupan malam di Miri memang masih menarik banyak wanita Indonesia untuk “mencari nafkah” disana. Dia ngomong saja blak-blakan tanpa merasa risih sedikitpun bercerita di depan suaminya yang asli orang Malaysia. Aku tak heran karena suaminya juga dulu kerja di klub malam. Suaminya memang sama gilanya dengan dia. Dia juga banyak bercerita tentang kehidupan gila di masa lalunya. Sekarang kehidupan keduanya jauh dari dunia malam. Mereka berdua membuka warung makan tak jauh dari hotel tempatku menginap.  Mereka memang bertemu di klub malam dan akhirnya memutuskan untuk menikah dan meninggalkan kehidupan masa lalu yang kelam.

Mawar yang mengaku bekerja sebagai pelayan bar bisa dibilang punya kehidupan yang lebih baik. Nasibnya juga baik karena bisa meninggalkan kehidupan lamanya dan berkeluarga secara baik-baik. Tapi, tak semua bernasib baik seperti dia. Banyak yang berakhir dengan menyedihkan terutama yang terperangkap mafia perdagangan manusia dan dijadikan budak seks. Harus terus melayani nafsu laki-laki pencari kepuasan sesaat sampai suatu waktu yang mereka tak tahu kapan berakhir. Susah bagi mereka untuk keluar dari cengekeraman “para pembeli” mereka. Banyak dari para wanita ini yang tertipu dengan iming-iming kerja sebagai pekerja domestik. Secara hukum posisi mereka sangat lemah karena banyak dari mereka diseludupkan ke Malaysia secara ilegal.  Para wanita ini tak punya dokumen yang bisa menyatakan keberadaan mereka di Malaysia secara legal . 

Total orang Indonesia baik yang legal dan ilegal di Malaysia lebih dari 2 juta orang atau sekitar 11% dari jumlah penduduk Malaysia. Begitu banyaknya orang Indonesia yang berani masuk secara ilegal ke negara orang lain yang dianggap lebih maju menandakan bahwa sebagian rakyat kita masih melihat negara lain lebih menjanjikan daripada negara mereka sendiri. Selain itu, hal ini juga menandakan bahwa rata-rata pemahaman orang Indonesia terutama di masyarakat kalangan bawah sangat rendah. Wajar saja para wanita ini menjadi korban bulan-bulanan para mafia perdagangan manusia. 

Pemerintahan yang sekarang juga aku rasa sudah mulai berusaha untuk berhenti “mengekspor” pekerja domestik tanpa keahlian ke berbagai negara. Hal yang paling penting adalah memberi pemahaman hukum kepada para wanita-wanita yang berpotensi menjadi korban  sehingga pencegahan bisa dilakukan. Tak perlu menunggu terjadi kerusakan terlebih dahulu baru diurus seperti yang sudah sering terjadi. Mudah-mudahan, dengan demikian tak ada lagi yang bilang “Indon Girls” walaupun itu hanya di angan-anganku saja. Karena, tak semua yang disebut “Indon Girls” itu  korban. Banyak juga wanita-wanita Indonesia yang  memang menekuni profesi sebagai “wanita penghibur” secara profeisonal dengan sadar dan sukarela. Mungkin “Indon Girls” yang dimaksud teman yang mengajakku dugem itu termasuk kategori yang satu ini……:-). 

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Photo: