Wisata Kuliner Di Kairo Versi Travel X


Di dalam blog travelku ini, aku sama sekali tak pernah menulis soal wisata kuliner. Bukan aku tak suka makan atau makanan, tetapi karena aku doyan makan apa saja baik dari yang normal sampai abnormal. Aku coba saja semua sehingga tak ada yang terlalu heboh untuk diceritakan bagiku. Namanya makanan walaupun bentuknya menyeramkan aku makan saja. Setelah dicoba, baru aku akan memutuskan untuk terus memakannya lagi atau tak akan menyentuhnya sama sekali di kemudian hari.

Kali ini aku mau menceritakan wisata kuliner di Kairo versiku yang jelas tak akan bercerita betapa enaknya makanan ini dan itu. Maklum saja, aku sering sekali tak pernah ingat makanan apa yang kumakan….:-). Selain itu, sudah terlalu banyak orang yang lebih tahu soal makanan. Yang kuceritakan pengalaman-pengalamanku yang kupikir menarik ketika mencoba menjelajahi dan mencoba berbagai restoran dan kuliner jalanan di Kairo.

Kisahku menjelajahi kuliner di Kairo kulakukan ketika aku menunggu visa Tanzania disetujui oleh Kedutaan negara ini. Dua hari tak bisa pergi jauh dari Kairo membuatku punya ide berjalan menyusuri kawasan pusat kota  dan sekitarnya dan mencobai beberapa restoran yang ada di kota ini. Aku berjalan kaki sampai ke kawasan Ramses yang dekat dengan stasiun sentral sambil menikmati jajanan pasar dan makanan tradisional yang ada. Aku jadi memperhatikan bahawa ada kesamaan restoran-restoran tradisional di berbagai negara Timur Tengah dalam meramu kebab atau felafel.  Si penjual makanana selalu meramu kebab atau falafel dengan tangan telanjang, tak terkecuali di Mesir. Awalnya aku sempat merasa jijik juga karena aku membayangkan apa yang dilakukan oleh si penjual sebelum meramu makanan. Mungkin ngorek-ngorek hidung, gigit jari atau garuk-garuk bagian yang gatal di “tempat-tempat yang terlarang”….:-p. Tetapi, akhirnya aku memakannya saja. Kalau merasa jijik, aku tidak akan pernah bisa menikmati makanan tradisional Arab yang murah meriah.

Tuna Sandwich ala Mesir

Tuna Sandwich ala Mesir

Ada restoran yang terletak tak jauh dari Mindah Tahlal. Restoran ini adalah sebuah restoran cepat saji ala Mesir. Menunya mulai dari koushari, kofta, sandwich ala Mesir, dan sebagainya yang tak kuingat. Kebanyakan yang datang ke restoran ini adalah orang lokal. Aku selalu datang ke sini karena saladnya yang segar dan cukup murah. Tapi, aku selalu kesal dengan pelayannya yang selalu menambah bakshees (tips) di tagihan hanya gara-gara mereka menunjukkan bangku kosong kepadaku. Mereka tak pernah melakukan hal tersebut kepada orang lokal. Akhirnya karena kesal, aku hanya memesan makan “to go” karena tak mau diporotin para pelayan yang doyan minta bakshees.…:-p.

Restoran tradisional yang paling unik yang kumasuki adalah sebuah restoran lokal yang terletak persis di salah satu sisi bundaran Midan Tahrir Kairo. Sayang, aku juga lupa nama restorannya. Aku sempat dibuat bingung ketika memesan makanan di tempat ini. Si pelayaran restoran melarangku duduk setelah memesan makanan. Aku tidak tahu kenapa aku dilarang duduk. Salah seorang pegawai restoran kemudian menunjukkan papan daftar harga di dinding restoran. Di situ terpampang harga makananan yang dimakan sambil berdiri dan harga makanan jika dimakan sambil duduk. Tentu saja harga makanan akan semakin mahal jika dimakan sambil duduk.  Harga makanan yang kubeli adalah harga makanan yang dimakan sambil berdiri. Terang aja aku bengong. Seumur hidup, baru pertama kali aku masuk ke sebuah restoran yang mematok harga makanan berdasarkan cara makan duduk atau berdiri….:-p.

Satu hal yang paling unik di Kairo soal restoran ini adalah kegemaran orang Kairo memakan fastfood khususnya McDonald’s. Ada 7 resotran McDonald’s yang kutemui dalam radius 200m di sekitar kawasan Midan Tahrir. Itu belum lagi ditambah 3 restoran KFC. Dan, restoran-restoran cepat saji ini selalu dipenuhi oleh orang-orang lokal. Mungkin orang Kairo sudah bosan dengan Kofta, falafel ataupun koushari. Ketiga jenis makanan ini justru lebih sering dimakan oleh turis karena harganya yang murah.

Walaupun bukan penggemar fastood, aku cukup sering makan di Pizza Hut. Tercatat aku pernah tiga kali datang ke restoran Piza Hut yang persis terletak di depan American University in Cairo. Alasanku makan disini  karena bisa makan salad sepuasnya.  Satu hal yang aneh makan di restoran ini adalah kelalian pegawainya dalam masalah uang kembalian. Ssewaktu makan yang pertama dan kedua kalinya, uang kembalian yang diberikan kepadaku selalu lebih. Sialnya, aku baru sadar ketika balik ke penginapan sehingga aku malas kembali ke restoran karena jarak yang cukup jauh.

Awalnya aku merasa senang tetapi kesenanganku tidak berlangsung lama karena ketika aku  makan untuk yang ketiga kalinya di restoran ini, uang kembalian yang aku terima kurang dari yang seharusnya. Lagi-lagi aku baru menyadarinya ketika tiba di penginapan. Sialnya, kekurangan kembalianku melebihi total kelebihan uang kembalian yang  sebelumnya aku terima. Kali ini aku benar-benar kena batunya (Nggak jujur sih!!).

Copyrtight: Jhon Erickson Ginting

Sumber: PengalamanPribadi

Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting