Kumar…….”My Cosmic Brother” Dari Nepal


Aku mengenal Kumar saat aku dan  Ben, Vivian, dan Jerry, tiga teman perjalananku di Tibet dan Nepal mengunjungi “Durbar Square” di Kathmandu, Nepal. Ben yang luluasn Stanford dan juga keturunan Yahudi yang selalu punya rasa ingin tahu merasa sayang jika hanya datang ke “Durbar Square” tanpa ada orang bisa memberitahu tentang sejarah tempat ini. Kami pun lalu berdebat soal penting atau tidaknya menyewa seorang tour guide yang banyak berkeliaran di sekitar “Durbar Square”. Selagi asyik berdebat, seseorang tiba-tiba datang memperkenalkan diri bernama Kumar dan bekerja sebagai seorang tour guide berlinsensi di “Durbar Square”. Ben yang dari tadi pingin menyewa tour guide langsung bertanya soal harga kepada Kumar. Kumar menyebutkan harga sewa per jam yang memang cukup murah sehingga kami semua sepakat menyewa dia sebagai tour guide.

Kumar punya potensi menjadi tour guide yang hebat. Selain bahasa Inggrisnya yang bagus, Kumar juga suka bercanda dan punya pengetahuan yang luas tentang sejarah “Durbar Square”.  Tak perlu waktu lama bagi Kumar untuk membuat kami akrab dengannya. Bahkan dia punya panggilan khusus untukku, “cosmic brother”. Mudah-mudahan panggilan tersebut tidak terlalu “gay” kedengarannya….:-p. Alasan Kumar menjulukiku sebagai “cosmic brother” karena menurutnya wajah kami ada kemiripan. Dan, katanya lagi jika ada dua orang  yang wajahnya mirip berarti keduanya bersaudara dalam ruang kosmik yang lain. Terus terang, aku hanya menganggap Kumar main-main saja ketika dia menganggapku sebagai “cosmic brother”. Aku juga merasa kami tak begitu mirip. Mungkin hanya hidung kami yang mirip….:-p. Namun begitu, aku kami sempat bertukar email karena Kumar meminta jika ada orang Indonesia yang mau ke Nepal aku bisa merekomendasikannya sebagai tour guide di Durbar Square.

Aku rasa kami tak begitu mirip...:-p

Aku rasa kami tak begitu mirip…:-p

Singkat cerita, aku kembali ke Kuala Lumpur, kota tempat aku tinggal saat  itu dan tak pernah mendengar lagi tentang Kumar sampai suatu saat aku merekomendasikan dia kepada seorang teman dari Indonesia yang mau jalan-jalan ke Nepal. Kebetulan saat itu Nepal berada pada masa-masa sulit, sekitar akhir tahun 2007. Demonstrasi tak kunjung reda dan bentrokan serta kerusuhan melanda negara tersebut. Nepal dalam keadaan kondisi kritis dan tentu saja membuat turis menghindari negara ini sebagai tujuan jalan-jalan.

Tak berapa lama setelah temanku pulang dari Nepal, Kumar mengirimku email dengan pesan bahwa kehidupannya sedang sulit di Nepal akibat sepinya turis yang datang ke negara itu. Dengan alasan itu dia meminta uang kepadaku sebesar $ 50. Dalam tulisan tersebut, dia menjelaskan bahwa sebagai “cosmic brother” aku berkewajiban membantunya.  Entah dari mana dia mendapat logika seperti itu. Aku sebenarnya bersimpati kepadanya, tapi aneh rasanya jik aku memberi uang kepada orang yang cuma pernah bertemu sekali dan mengaku-ngaku sebagai “cosmic brother”. Aku tak pernah membalas emailnya dan kuanggap sebagai kerjaan orang iseng saja.

Kumar rupanya tak menyerah dan berkali-kali menulis email kepadaku sampai beberapa bulan berikutnya. Sedikit kejam terdengar, tapi tak sekalipun aku membalas emailnya sampai suatu kali aku merasa bosan dengan alasannya yang selalu meributkan soal  “cosmic brother”. Akupun  membalas emailnya dengan sebuah pesan singkat: “Dude, I haven’t got any message from the cosmic regarding our brotherhood. We only met once. Stop pitying yourself. Life is tough!!!”

Sejak saat itu Kumar tak pernah lagi mengirim email dan meminta uang. Aku tak pernah punya masalah dalam hal memberi, tetapi aku juga tak mau begitu saja percaya. Namun begitu aku berharap Kumar baik-baik saja. Dengan tulisan ini aku juga merekomendasikan dia jika dia masih bekerja menjadi tur guide lepas di Durbar Square, Kathmandu karena orangnya memang baik dan juga punya pengetahuan yang baik soal Nepal. Dia juga punya kualifiakasi sebagai tur guide untuk trekking. Kumar dulunya suka nongkrong persis di depan pintu masuk Durbar Square. 

Hidup memang tak mudah, tapi bukan berarti kita harus menjadi seorang peminta-minta……

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Photo: Jhon Erickson Ginting