Dunia Mistis Gunung Hutan di Indonesia – Part 1


Dunia Mistis atau sering disebut “Dunia lain” selalu menjadi hal yang menarik bagi banyak orang, terutama bagi orang yang belum mengalaminya. Tetapi, bagi orang sepertiku yang punya “indera lain”, hal seperti ini taklah begitu mengenakkan walaupun terkadang membuat adrenalin terpacu. Kemanapun pergi, selalu ada hal yang kulihat dan kurasakan di saat orang lain tak tahu apa-apa. Apalagi, ketika aku masuk hutan atau mendaki gunung. Sejak dari SMA, aku suka mendaki gunung dan pernah ikut perhimpunan pendaki gunung dan penempuh rimba, Wanadri  di ITB. Saat itu Wanadri membuka wadah bagi anak-anak ITB yang telah menjadi anggota Wanadri dan juga anak-anak ITB yang ingin menjadi anggota. Naik gunung, arung jeram, manjat tebing, susur pantai adalah sebuah rutinintas. Sayang, aku tak meneruskan ikut pendidikan dasar Wanadri karena kuliah yang hancur. Aku akhirnya memutuskan untuk konsentrasi kuliah.

Bersama teman-teman Wanadri ITB, aku banyak melakukan pendakian gunung.  Selama pendakian dan menyusuri hutan, aku juga mengalami “hal-hal aneh” . Gunung-gunung dan hutan di Indonesia memang sarangnya “dunia lain”, tempat yang cocok untuk uji nyali….:-). Selama pendakian di gunung hutan, kita selalu berteriak Hello Gang dan dijawab dengan Wanadri untuk memastikan keberadaan teman atau mencari teman yang sudah jauh dari rombongan. Selain itu kita selalu berhitung 1, 2,3,….dan seterusnya. Bukan karena takut anggota berkurang, tetapi takut nambah. Walaupun aku belum pernah mengalaminya, tetapi beberapa teman sudah.  Kalau anggota bertambah, katanya kami tak bakal bisa pulang karena akan terus berputar-putar di tempat yang sama.  Walaupun semua orang berjalan menuju arah yang benar, pasti kembalinya ke tempat semula. 

Petama kali aku mengalami “dunia lain” dalam pendakian adalah ketika aku  mendaki gunung Slamet bersama beberapa orang teman di Wanadri ITB. Saat itu kami mendapat tugas wajib untuk mendaki gunung di atas ketinggian 3000 meter. Kami mendaki melalui Desa Bambangan. Satu hal yang paling kuingat tentang desa ini adalah anak-anak yang mengikutiku dan meneriakiku “Londo ireng”. Mungkin anak-anak itu berpikir kenapa tampangku “londo” tapi kulitnya kok “ireng”…..:-p.

Salah seorang penduduk desa pemilik warung tempat kami nongkrong sempat menasehati supaya kami membakar cerutu sebelum naik ke Gunung Slamet sebagai penghormatan kepada “penunggu gunung ini”. Seperti anak-anak kota lainnya, kami hanya cuek dengan saran pemilik warung. Aku sendiri punya kepercayaan tak akan mengikuti aturan-aturan seperti ini karena akan membawaku ke dalam pengaruh “si penunggu”. Artinya, aku takluk terhadap “si penunggu” . Saat itu aku masih “atheist”, tetapi mempelajari sedikit banyak tentang dunia okultisme dari beberapa buku sehingga sedikit banyak tahu tentang aturan-aturan seperti ini. Yang jelas, aku tak mau takluk terhadap “si penunggu”.

Pendakian kami mulai setelah makan siang. Saat malam menjelang, kami masih melakukan pendakian sampai pos terakhir sebelum beristirahat. Selama perjalanan aku melihat “lidah-lidah api” seperti orang yang membawa obor berjalan beriringan. Aku berteriak-teriak memanggil mereka, tetapi seorang teman yang sudah sering melakukan pendakian di gunung ini menyuruhku berhenti memanggil karena “lidah-lidah api” tadi bukanlah manusia. Aku pun akhirnya berhenti dan “lidah-lidah api” tadi hilang entah kemana.

Mahluk-mahluk dari alam lain di Gunung Slamet tak hanya berhenti di situ saja. Ketika seorang teman yang lain duduk bengong pagi harinya, kami pun menegurnya. Kami bercanda dia persis kayak orang “kesambet”. Teman ini pun bercerita hal yang mengejutkan kepada kami. Dia bercerita kalau dia memang benar-benar “kesambet” sebab pada saat kami tidur, dia dibangunkan oleh “seorang berpakaian putih dan bersorban putih” yang menunggang kuda putih dan seoraang pengawalnya. Kami pun langsung menduga bahwa “orang berpakian dan bersorban putih” yang membangunkan teman kami ini adalah “Pangeran Diponegoro” dan “pengawalnya”. Selama perang, Pangeran Diponeogro memang menggunakan kawasan Gunung Slamet sebagai basis perjuangannya.  Soal siapakah sebenarnya mahluk bersorban itu, terserah pada pandangan masing-masing pembaca.

Lain halnya ketika kami berada di Situ Lembang, tepatnya di barak latihan Kopassus. Wanadri dan Kopassus memang punya hubungan yang erat sejak dulu. Kami berada di situ untuk melakukan latihan Search and Rescue (SAR). Sebelum pergi menuju Situ Lembang, aku sudah mendengar tentang betapa angkernya tempat ini. Banyak “cerita-cerita seram” yang kudengar dari teman-teman seperti suara-suara pasukan berjalan, tentara yang mukanya berdarah-darah atau berwajah rata, dan sebagainya. Yang tak terbiasa pasti kecut mendengarnya. Bagiku, hal yang biasa saja.

Saat malam kami menginap di Situ Lembang, aku kebelet kencing sekitar lewat tengah malam. Inilah saatnya aku membuktikan cerita-cerita seram tersebut. Aku keluar dari barak tempat kami bermalam. Tentu saja ada rasa sedikit gentar dalam diriku karena pengaruh cerita-cerita seram tersebut. Padahal, selama ini aku selalu menganggap hutan adalah salah satu tempat terdamai di dunia karena sedari kecil aku sudah sering keluar masuk hutan. Kesunyian di dalam hutan sangat hening sehingga membuatku selalu merasa tenang.

Aku akhirnya menemukan semak-semak sekitar belasan meter dari barak. Sambil “memenuhi panggilan alam”, mataku berkeliaran melihat ke sekeliling. Aku memang merasakan aura yang tak mengenakkan dan membuatku sedikit mau muntah serta sesak nafas. Tetapi, aku tak melihat hal-hal yang seperti dikatakan teman-temanku. Tak ada hantu tentara bermuka darah, tak ada suara derap kaki pasukan berbaris, tak ada tentara bermuka rata. Yang ada hanyalah kesunyian malam yang sangat hening Situ Lembang yang menyegarkan hati dan pikiranku. Aku malah menikmati keheningan tersebut sebelum kembali lagi ke barak untuk melanjutkan tidur…….

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: http://www.mynextfone.co.uk/