Kisah Tiga Traveler dan Tiga Yang Lainnya……


Dalam sebuah renungan, aku tiba-tiba saja mengingat beberapa traveler veteran yang pernah kutemui dalam perjalanan-perjalananku. Nama sebagian orang-orang ini tertulis  dalam berbagai buku panduan perjalanan seperti Lonely Planet, Rough Guide, Frommer’s dan lain-lain. Mungkin aku pikir tak ada salahnya aku menulis kisah-kisah mereka supaya kita semua bisa mendapat pelajaran dari perjalanan hidup mereka.

Seorang penulis terkenal dan menulis buku Cloud Atlas, David Mitchell berkata,“Travel far enough, you meet yourself. Seharusnya orang yang traveling membuat orang menemukan dirinya, tetapi sebagian orang malah “tersesat”. Tak apalah “tersesat” sebentar di pertengahan jalan asal akhirnya menemukan tujuan, seperti beberapa teman traveler-traveler hebat yang kutemui dalam perjalananku. Orang-orang ini telah mengajariku tentang arti kata-kata David Mitchell. Aku telah bertemu beberapa diantaranya, salah satunya adalah Chef Pride. Untuk traveler yang pernah nongkrong ke Dar Es Salaam, Tanzania pasti tahu nama ini karena Chef Pride adalah salah satu restoran terbesar di Dar. Nama ini diambil dari nama julukan pemiliknya yang bernama asli Ali Baba. Dia keturuanan campuran Pakistan dan Oman.

Satu hal yang sangat menarik dari Chef Pride adalah sikapnya yang sangat ramah terhadap para traveler yang mengunjungi restorannya. Aku tak pernah menyangka bakal bertemu dengan Chef Pride langsung ketika sedang asyik ngobrol dengan traveler-traveler lain dari berbagai negara. Dengan cueknya dia ikut nimbrung menceritakan masa lalunya sebagai hippie yang keliling dunia dan doyan ganja serta pesta. Nama besarnya yang tertulis di berbagai buku panduan seperti Lonely Planet, Rough Guide, dan lain-lain tak menghalanginya mendatangi para traveler muda untuk berbagi pengalaman dan cerita.

Chef Pride bercerita tentang bagaimana dia dulu traveling pada tahun 70-an ke berbagai negara, terlibat dalam cinta terlarang dengan wanita Israel dan akhirnya tiba di Afrika  sebelum akhirnya terdampar di Dar Es Salaam, Tanzania. Dia menjadikan kota ini sebagai pelabuhan terakhirnya. Chef Pride merasa telah berkelana cukup jauh sebelum “menemukan dirinya” di Dar. Chef kelahiran Oman campuran Pakistan dan Arab ini akhirnya menetap di Dar dan tak pernah berkelana lagi. Sejak saat itu Chef Pride membangun bisnisnya di kota ini yang hubungannya tak jauh dari dunia traveling. Tak hanya restoran, dia juga punya kapal ferry dan hotel. Hidup Chef Pride adalah sebuah contoh perjalanan dari seorang traveler yang berhasil  “menemukan dirinya” dan tetap menjadi orang yang rendah hati.

Shadows of Three Travellers

Shadows of Three Travellers

Filsuf China Lao Tze pernah berkata,“A good traveler has no fixed plans and is not intent on arriving.”  Jean Paul, wartawan majalah traveling di Luxembourg yang campuran Perancis dan Argentina mungkin adalah orang yang cocok dengan kata-kata tersebut. Aku bertemu dengannya di Petra, Yordania. Umurnya sudah lebih 50 tahunan. Rambut juga sudah beruban, tapi dia tak pernah berhenti berjalan. Satu persatu negara di Amerika, Afrika, Eropa, dan Timur Tengah yang pernah dijelajahinya sejak tahun 80-an dengan sepeda, motor, dan sekarang quads (motor roda empat). Berbagai konflik di negara-negara Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan Afrika telah dialaminya. Tapi, Jean Paul belum mau berhenti. Dia mengaku tak pernah kena tembak atau dirampok.

Walaupun dia sudah mengelilingi 2/3 dunia, Jean Paul bukanlah orang yang sombong dan berego tinggi yang merasa paling hebat. Dia masih suka berbagi cerita kepada “green” traveler yang bertanya padanya.   Tak sekalipun dia mengejek atau meremehkan pertanyaan yang diajukan kepadanya oleh kami termasuk aku yang saat itu ingin sekali mendapat sedikit pencerahan tentang Afrika yang akan kujelajahi. Semua dijawab dengan senyum dan keramahan. “I feel young when having conversation with you guys,” katanya suatu saat. Aku tak heran karena sikap Jean Paul yang membumi membuat dia bisa bergaul dengan siapa saja tanpa memandang status. Mungkin attitude inilah yang membuat Jean Paul bisa “survive” dari berbagai negara konflik yang pernah dilaluinya. “Efek samping” dari sikap Jean Paul yang sangat ramah ini adalah Jean Paul juga disukai oleh para wanita….:-). Tentang Jean Paul, aku pernah bercerita sedikit dalam tulisanku yang berjudul: “Petra Yordania, Perjalanan Ke Ribuan Tahun Yang Silam”

Seorang sufi, Maulana Jalaluddin Rumi pernah berkata,“Travel brings power and love back into your life.” Kata-kata ini mungkin cocok untuk Danielle, seorang traveler asal Jerman yang tersentuh hatinya melihat penderitaan wanita-wanita Malawi yang ditelantarkan oleh suami-suami mereka. Tergerak oleh empati yang dalam, Danielle membantu wanita-wanita malang ini untuk bisa mandiri. Dia mengajari mereka berbisnis kerajinan dan menginvestasikan uangnya di bank. Kisah lengkap Danielle ini bisa dibaca pada tulisanku yang berjudul: “Danielle, Traveler Yang Membuat Perbedaan”

Bagaimanapun cara  kita bertraveling, kita pastinya melihat lebih banyak hal selama kita membuka diri karena seperti kutipan kata-kata Mark Twain, “Travel is fatal to prejudice, bigotry, and narrow-mindedness.”  Mau santai, mau hura-hura, ramai-ramai atau ekstrim dan off beaten track seperti yang kulakukan pasti ada hal yang baru yang bisa kita temukan dalam perjalanan kita. Traveling is personal. Tak perlu sibuk mengurusi bagaimana orang lain melakukan sebuah perjalanan atau mentertawai seseorang karena pengalaman traveling yang masih hijau karena setiap orang punya pengalamannya sendiri dan mencari makna perjalanannya sendiri. Seharusnya semakin lama dan jauh kita bertraveling, kita semakin mampu mengatasi ego, berempati terhadap orang lain dan rendah hati karena kita belajar dari berbagai budaya, kearifan lokal, dan manusia-manusia yang  kita temui.

Dar To Mbeya on Train

Oh ya, aku belum bercerita juga tentang traveler-traveler yang “dimakan” oleh egonya sendiri. Mungkin hal ini penting juga untuk kuceritakan supaya kita tak jatuh ke dalam kebodohan yang sama. Aku pernah menceritakan dua traveler Israel yang tewas karena hepotermia di Gunung Snow Jade Dragon di China karena terlalu percaya diri dalam tulisanku yang berjudul “Kenekadan Traveler Israel”. Mereka mendaki gunung yang tingginya 5800 m tersebut dengan hanya memakai pakaian biasa. Mereka menganggap enteng alam. Walaupun mereka bekas tentara yang terlatih, tak sepatutnya meremehkan alam dan terlalu memandang tinggi kehebatan mereka. Fatal akibatnya.

Salah satu traveler paling fenomenal yang pernah kutemui adalah Margo. Bisa dibilang, dulu aku adalah pengagumnya. Aku pernah cerita sedikit tentang dirinya dalam tulisan yang berjudul “Wanita-Wanita Petualang Dan Pebisnis”. Dulu, nama wanita asal Australia ini tercantum di berbagai buku panduan dan menjadi legenda di Tiger Leaping Gorge, Lijiang, China.  Dia terkenal sebagai pejuang lingkungan yang tangguh. Dari berbagai orang yang pernah mengenalnya lebih dalam dariku, Margo memang penuh kontroversi. Seperti kedua traveler Israel, Margo juga tewas karena Hipotermia. Dia tewas saat melakukan trekking di Pegunungan Kawa Karpo, Degin, China. Dari penuturan orang yang trekking bersamanya saat dia tewas, Margo merasa terlalu percaya diri dengan dirinya karena berpengalaman trekking di Tiger Leaping Gorge selama puluhan tahun sehingga tak perduli dengan aturan basic survival. Orang-orang yang trekking bersamanya sudah mengingatkan supaya dia memakai pakaian yang hangat, tetapi Margo malah memarahi mereka. Sikapnya yang aneh tersebut sampai sekarang menjadi misteri. Aku juga merasa aneh karena Margolah yang menceritakan tentang “kenekatan” dua traveler Israel yang tewas di Snow Jade Dragon Mountain tersebut. Aku hanya bisa merenung bahwa seorang traveler sekaliber Margo pun bisa membuat kesalahan fatal ketika dia tak bisa mengalahkan egonya.

Kisah Margo dan kedua traveler Israel di atas adalah contoh dari ego dan kesombongan manusia yang berakhir tragis. Semoga kita bisa lebih bijaksana dalam bertraveling supaya tak berakhir tragis akibat kesombongan dan egosentris yang tak akan ada ujungnya jika terus diikuti. Karena, kita bisa saja berperilaku sebaliknya seperti dikatakan oleh Joe Abrecombie dalam bukunya yang berjudul “Last Converstation of The Kings”, “Travel brings wisdom only to the wise. It renders the ignorant more ignorant than ever.”

 

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting