Kisah Para Tentara Bayaran


Seorang pria bule bertubuh tinggi kekar dengan wajah dingin menatapku dengan tajam ketika aku keluar dari pesawat di bandara Sulaymaniah, Irak di pertengahan 2007. Tatapannya tidak membuat nyaliku ciut, hanya membuatku menjadi sedikit penasaran. Jika dilihat dari wajahnya yang sedingin es itu, orang ini sepertinya telah kehilangan sebagian sisi kemanusiannya. Mungkin karena sudah terlalu sering membunuh. Tak mungkin orang ini bekerja sebagai insinyur sepertiku ataupun pekerjaan kerah putih lainnya kalau melihat dari tongkrongannya yang sangar. Dia lebih cocok sebagai pembunuh berdarah dingin dalam film-film “James Bond”.

Di dalam bandara, sudah ada dua orang bule berbadan kekar lain yang menjemputku, sebut saja sebagai Mark dan Joseph. Mereka yang akan bertugas mengantarku  ke tempat kerjaku di sebuah kamp di gurun yang jauh dari peradaban. Mark yang bertugas sebagai supir hari itu mengantarku masuk ke dalam mobil jip “Landcruiser” yang menunggu tepat di luar pintu keluar bandara. Dia menyuruhku menunggu di dalam mobil karena dia akan menjemput satu orang lagi. Joseph kemudian membantuku memasang rompi anti peluru dan helm sebagai pengamanan sebelum kemudian masuk kembali ke dalam bandara. Beberapa menit kemudian aku melihat Mark dan Joseph keluar dari dalam bandara ditemani oleh orang yang bertubuh tinggi kekar dan berwajah dingin tadi. Dia terlihat akrab dengan Mark dan Joseph. Mereka berbincang sambil tertawa kecil sebelum masuk ke mobil. Orang yang berwajah dingin ini persis di belakangku. Dia duduk begitu saja tanpa bertegur sapa denganku.  Mark lalu menghidupkan mesin dan mobil jip kami pun langsung tancap gas meninggalkan bandara. Mobil jip kami diapit oleh dua mobil jip  “Landcruises” lain yang berada di depan dan di belakang kami.  Menurut Mark, kedua mobil itu diisi oleh belasan milisi Kurdi yang akan mengawal kami dalam perjalanan menuju kamp di tengah gurun.

Private Military Contractors

Private Military Contractors

Mark, Joseph dan orang tinggi besar berwajah dingin itu adalah anggota pasukan keamanan swasta yang dalam bahasa Inggris sering disebut dengan istilah populer “private contractor” atau“consultant”. Sebagian besar orang yang tidak mengenal profesi ini dengan baik mungkin menyebut mereka sebagai “mercenary” atau tentara bayaran. Menurutku sendiri, ada perbedaan antara “private contractor” dengan “mercenary”. “Private contractor” lebih banyak bertugas sebagai pasukan pengamanan yang melindungi klien yang menyewa mereka, sedangkan “mercenary” biasanya melakukan misi-misi tempur baik untuk operasi rahasia, kudeta, dan perang terbuka. Persamaannya, mereka sama-sama menggunakan senjata dalam melakukan pekerjaan dan tentunya siap membunuh musuh jika diperlukan. Karena sifatnya yang sama-sama menggunakan senjata, bukan tak mungkin sebagian dari personel “private contractor” adalah bekas “mercenary”. Tapi, aku rasa mereka tak akan mengaku jika ditanya karena konotasi “mercenary” yang cukup jelek di mata orang banyak.

Beberapa hari  di kamp, aku mengenal personel beberapa anggota “private contractor” yang lain selain Mark dan Joseph walaupun aku tak mengingat semua nama-nama mereka. Aku hanya ingat Paul karena dia yang jadi  komandan “private contractor” di lapangan. Menurut Mark, pasukan yang ada sekarang berasal dari beberapa negara yang berbeda. Paul berasal dari Inggris, sedangkan Mark dan Joseph berasal dari Afrika Selatan. Sisanya berasal dari Serbia, Jerman, dan lain-lain. Sebagai anggota pasukan keamaanan swasta di Irak, mereka dibayar cukup tinggi, sekitar $ 500-1500 per hari tergantung dari keahlian mereka. Anggota pasukan yang berasal dari pasukan khusus biasanya dibayar lebih tinggi daripada anggota pasukan yang berasal dari tentara reguler.

Sejak invasi Amerika yang membuat Irak carut-marut oleh perang, keahlian orang-orang seperti Mark, Joseph, dan Paul sangat dibutuhkan. Banyak sekali perusahan-perusahaan pengamanan yang beroperasi di Irak, walaupun masyarakat di Indonesia hanya mengenal beberapa diantaranya akibat skandal yang mereka lakukan seperti Black Water dan Titan Corp. Perusahaan-perusahaan pengamanan yang beroperasi di Irak tak hanya melayani pasukan multinasional dalam soal penghantaran logistik dan pengamanan orang-orang penting Amerika yang datang ke Irak. Mereka juga melayani perusahaan-perusahaan internasional yang beroperasi di Irak seperti perusahaan kami dan orang-orang kaya serta pejabat-pejabat penting pemerintah Irak. Perang yang membuat hukum tak menentu membuat penculikan dan ancaman pembunuhan atas nama uang sangat merajalela. Bagi orang-orang kaya dan pejabat penting, membayar beberapa “consultant” tak menjadi masalah. Akibat permintaan yang sangat banyak, bisnis pernyediaan jasa keamanan ini memang menjadi “booming” di Irak. Pada akhirnya, perang bukan hanya melulu soal pihak-pihak yang saling bertikai. Selalu ada bisnis besar dibaliknya, termasuk binis jasa pengamanan. Wajar kalau dunia ini tak akan pernah damai….:-p.

Semakin aku mengenal Mark dan Joseph, semakin banyak pertanyaan yang muncul di dalam kepalaku soal profesi mereka. Sayang, banyak pertanyaanku yang tidak dijawab oleh mereka. Salah satu pertanyaan yang mereka tidak mau jawab adalah soal dari unit pasukan Afrika Selatan mana mereka berasal. Tentara bayaran asal Afrika Selatan terkenal paling nekad, terutama yang berasal dari bekas pasukan Batalyon 32, unit pasukan khusus Afrika Selatan jaman apherteid yang dibubarkan tahun 1993. Isunya, kenekadan anggota pasukan ini dikarenakan sebagian besar dari mereka telah mengidap HIV/AIDS. Selain itu bekas anggota batalyon ini terkenal dengan pelanggaran HAM dan terlibat dalam berbagai konflik dan juga kudeta di negara-negara Afrika lainnya. Kalau dilihat dari segi umur, Mark mungkin saja bekas anggota batalyon 32. Kelihatannnya usianya memang lebih tua dariku. Sedangkan Joseph, kalau dilihat dari tampang baru berumur sekitar akhir 20-an. Pada saat batalyon 32 dibubarkan, mungkin Joseph baru berumur 14-15 tahun.

Aku berusaha dengan berbagai cara bertanya tentang bekas unit pasukan mereka tetapi aku tak pernah mendapat jawaban. Aku tak tahu alasan mereka tak mau menjawab. Keduanya hanya menjawabku dengan senyuman.  Walaupun Mark tak mau berbagai soal asal unit pasukan mereka, Mark dan Joseph masih mau sedikit berbagi informasi soal keterlibatan milisi Irak sebagai pasukan pengawal di perusahaan kami. Menurutku pasukan-pasukan keamanan dari milisi Kurdi hanyalah pria-pria dengan senjata yang bergaya dengan memakai kacamata “Rayban” dan sangat parah dalam hal kedisplinan….. :-p. Beberapa dari mereka juga masih berusia belasan tahun sehingga aku meragukan soal kemampuan mereka mengkontrol situasi dan emosi. Alasanku berpendapat seperti itu karena beberapa hari sebelumnya aku mengalami sebuah pengalaman yang tak mengenakkan akibat ketidakprofesionalan pengawal-pengawalku asal Kurdi ini. Salah seorang dari mereka bermain-main dengan pistol di dalam lift apartemen yang menjadi safe house kami. Dia memutar-mutar pistol tersebut di tangannya. Aku hanya bisa berharap pin pengaman pistol tak bergeser ketika dia memutar-mutar pistolnya. Mungkin dia ingin menarik perhatianku tapi aku cuek saja. Aku sudah sangat terbiasa bermain-main dengan senjata. Tak ada yang aneh bagiku. Saat itu yang ada dalam pikiranku hanya ingin mematahkan batang lehernya.

Dalam sebuah obrolan kami di safe house, Mark mengakui anggota milisi punya masalah kedisplinan yang parah  karena mereka hanya dilatih sebulan untuk menjadi pasukan keamanan. Sayangnya, perusahaan keamanan tempat Mark bekerja tidak bisa berbuat apa-apa karena salah satu syarat mereka bisa beroperasi di Irak Utara adalah bekerja sama dengan pemimpin klan yang berkuasa untuk menyediakan jasa keamanan.

Mark dan Joseph bukanlah orang yang sangar walaupun profesi mereka terkadang mengharuskan mereka untuk membunuh. Menurut ukuranku, mereka berdua adalah orang yang sangat ramah. Kami pun bisa mengobrol akrab tentang banyak hal. Mark dan Joseph juga mengajakku untuk berlatih menembak. Menurut mereka, latihan menembak itu mungkin saja berguna jika suatu saat konvoi kami berada pada tempat yang salah dan waktu yang salah. Di negara perang seperti Irak ini, terperangkap dalam tembak menembak, terkena serangan bom, dan penyergapan para gerilyawan bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Dengan latihan menembak, aku bisa ikut mempertahankan diri dan kesempatan hidup pun lebih besar jika terjadi penyergapan. Aku masih ingat perkataan Mark saat itu yang terus terngiang di kepalaku sampai sekarang, “If we are all die, you have to know how to defend yourself.” Mereka bisa mengatakan kalimat tersebut dengan entengnya. Mereka tak tahu ucapan mereka membuatku bertanya dalam hati, “What the hell I am doing here?”

Kalau dipikir-pikir dengan nalar orang normal, memang hanya “orang gila” yang mau menjadi “private contractor”. Mendapatkan uang dengan bertaruh nyawa bukanlah hal yang umum untuk dilakukan. Aku rasa gaji yang tinggi seperti yang kusebutkan sebelumnya bukanlah satu-satunya alasan mereka melakukan pekerjaan berbahaya ini. Mungkin saja motivasi mereka bukan uang karena ada sebagian orang-orang seperti Mark dan Joseph yang bisa dikategorikan sebagai “war junkies”, orang yang hidup untuk perang. Mereka tak bisa melakukan pekerjaan lain kecuali bertempur. Apapun alasan mereka, yang jelas profesi ini tak akan pernah ada kalau tak ada perang atau konflik. Sayangnya, dunia ini tak pernah benar-benar aman. Perang dan konflik selalu ada buat orang-orang seperti Mark dan Joseph…………

PS: Semua nama disamarkan. Selain itu foto tidak dimunculkan demi keselamatan orang-orang ini. Foto diatas adalah sebagai contoh yang kuambil dari internet.

Tulisan ini adalah salah satu tulisan naskah yang kukirim ke penerbit buku yang memintaku mengirim naskah tapi sepertinya gagal terbit. Menurut editor disana banyak kandungan dalam tulisanku sangat ekstrim dan “terlalu kriminal”. Heran juga, padahal penerbit ini adalah penerbit yang menerbitkan “Jakarta Underc*v*r” yang terkenal ekstrim. Makanya aku mengirim naskah petualanganku yang ekstrim…..:-).  Jadi, naskahku sudah masuk kategori super ekstrim….hehehe. 

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: WWW.imgarcade.com (GovCOntractJobs.com)