Pengamen Kota Wuhan, Tiongkok


Sudah lama aku tak menulis. Kesibukan membangun perusahaanku yang bergerak dalam pembangunan pembangkit listrik murah membuat waktuku cukup tersita. Menulis pun jadi sedikit terlupakan. Sorry buat teman-teman yang suka mengunjungi blog-ku. Baru beberapa hari ini aku punya waktu senggang sehingga aku bisa menulis lagi.  Kali ini aku mau bercerita sedikit tentang pengalamanku di kota Wuhan, Tiongkok beberapa bulan yang lalu.

Wuhan taklah terkenal sebagai kota turis. Aku juga tak begitu banyak mengerti soal kota ini. Kebetulan, aku datang ke kota ini karena urusan pekerjaan dari perusahaan tempatku bekerja untuk mencari mesin-mesin pengeberoan produk Tiongkok. Selama dua belas hari kami mengunjungi belasan kota-kota besar di China termasuk Wuhan. Seorang teman rombonganku yang telah lama bekerja di perusahaan ini dan sering berkunjung ke Tiongkok memberitahuku bahwa Wuhan adalah kota terbesar di Tiongkok. Aku baru tahu soal itu. Selama ini aku pikir Beijing atau Shanghai yang menjadi kota terbesar.  Menurut informasi temanku lagi, saking besarnya kota Wuhan dibagi menjadi tiga bagian (distrik), yaitu Wuchang, Hankou, dan Hanyang.

Rombongan kami yang terdiri dari empat orang tersebut menginap di sebuah hotel megah dan mewah yang tak jauh dari pusat kota Wuhan. Maklumlah ini bukan “Travel X’ seperti yang sering kulakukan dalam perjalanan-perjalananku. Ini adalah perjalanank bisnis. Satu-satunya kejadian mendebarkan yang kami alami adalah ketika “supir gila” yang membawa kami dari kota Jingzhou ke kota Wuhan melajukan mobil sampai 180 km/jam.  Namun begitu, tak berarti kami tak harus mengalami pengalaman yang unik. Teman rombonganku yang paling banyak pengalaman soal kota ini mengajak kami ke kota tua untuk mencari “makanan-makanan unik” khas Tiongkok yang sering membuat kening berkerut seperti makanan-manakan yang terbuat dari serangga dan binatang-binatang yang tidak umum. Aku terus terang tak begitu tertarik memakan “makanan-manakan unik” tersebut walaupun aku pernah mencobanya. Tapi, aku setuju saja karena pasti ada keramaian di wilayah kota tua Wuhan.

Berangkatlah kami berempat dengan menumpang taksi dari hotel menuju kota tua. Alih-alih mencari “makanan-makanan unik”, kami malah nyangkut di sebuah restoran yang cukup mewah. Hal pertama yang menarik perhatianku bukan makanan restoran ini tetapi gerombolan pengamen yang nyanyi berbarengan di tiap meja. Suasana di restoran jadi riuh rendah oleh suara nyanyian mereka.  Ada yang menyanyi lagu tradisional TIongkok, lagu barat, dan ada juga yang bermain alat musik saja. Campur aduklah pokoknya dan bikin pusing……:-p.

 Selesai kami memesan makanan, grup pengamen pertama datang yang terdiri dari dua orang wanita muda berpakaian khas Tiongkok. Dengan membawa gitar, mereka menyanyikan lagu tanpa kami minta. Gejreng…….gejreng……Terus terang, suara mereka lebih mirip suara lengkingan kuntilanak yang tercekik di malam hari. Kami semua hanya tertawa-tawa saja saja dan cuek. Sialnya, kedua wanita muda ini tak perduli dengan bahas tubuh kami yang “menolak” mereka dan mereka menyanyi sampai enam lagu. Setelah itu dengan santainya mereka meminta imbalan. Temanku memberi uang 10 Yuan, tapi kedua wanita pengamen ini menolak. Mereka bilang satu lagu seharga 20 Yuan atau sekitar Rp 36.000. Masih lumayan kalau nyanyinya bagus, nah ini suaranya saja sudah kayak suara kuntilanak tercekik…..:-p. Terang aja temanku jadi sedikit shock. Baru kali ini kayaknya pengamen masang tarif, mahal pulak. Dimana-mana pengamen ya dikasih seikhlas orang yang memberi. Tahu begini, dari awal dia sudah suruh pergi kedua wanita pengamen ini. Temanku berusaha nego tapi kedua pengamen ini ngotot. Apa boleh buat, daripada bikin rusuh di negara orang, terpaksa temanku yang memegang uang kas perjalanan kami membayar sebanyak 120 Yuan.

Kedua Wanita Pengamen Itu....

Kedua Wanita Pengamen Itu….

Di belakang dua cewek pengamen ini, sudah berdiri kelompok pengamen lain yang terdiri dari tiga orang cowok. Alat musik yang mereka bawa cukup lengkap, ada yang pakai saxophone segala. Aku dan teman-teman sudah bersiap mendengarkan musik yang bagus. Ketika mereka mulai bernyanyi kami pun mulai tertawa lagi. Lagu-lagu yang mereka bawakan sangat mendayu-dayu dan tidak cocok dengan suasana musim dingin.  Serasa ingin bunuh diri mendengar lagu-lagu “alay” mereka yang mendayu-dayu.  Walaupun begitu, kami membiarkan ketiganya bernyanyi sampai lima lagu. Keluarlah lagi uang 100 Yuan untuk membayar mereka.

Melihat mahalnya harga satu lagu yang dinyanyikan pengamen, tentu saja kami menolak tawaran kelompok-kelompok pengamen lainnya. Bisa bangkrut kami kalau menuruti permintaan mereka. Tak semuanya ternyata yang ditolak. Temanku yang mengajak kami makan di sini rupanya dari tadi terkesan dengan dua pengamen yang menyanyikan lagu-lagu barat dengan bahasa Tiongkok. Ketika keduanya datang ke meja kami, temanku langsung memesan lagu untuk dinyanyikan. Permainan gitar dan harmonika kedua orang ini lumayan mumpuni, sangat serasi dengan lagu barat berbahasa Tiongkok yang mereka bawakan. Untuk menambah meriah suasana di restoran yang mulai sepi, aku pun berjoget bersama dengan kedua pengamen. Teman-teman kerjaku langsung merekam adegan tarian konyolku.

Kedua pengamen ini membawakan lima lagu. Semuanya berirama ceria dan dinyanyikan dengan baik sehingga membuat suasana makan malam kami yang tadinya membosankan kembali ceria. Ketika kami tanya soal tarif, keduanya meminta 50 Yuan per lagu, jauh lebih mahal daripada tarif kedua kelompok pengamen sebelumnya. Walaupun nanyinya bagus, tapi kok tarif ngamennya kelewat mahal menurutku. Mungkin karena merasa kami menikmati, kedua pengamen ini “main tekan” aja soal tarif.  Temanku juga sebenarnya juga kaget, tapi dia masih rela membayar 250 Yuan untuk lima lagu karena keduanya menyanyi dengan bagus dan menghibur. Total jendral, kami menghabiskan uang 470 Yuan untuk membayar pengamen. Kalau dirupiahkan sekitar Rp 850,000. Baru kali ini rasanya “dikompas” pengamen dengan uang yang cukup besar. Untung saja bukan pakai uang pribadi………:-p.

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi