Hotel-Hotel Berhantu atau Hantu-Hantu Dalam Hotel?


Aku terinsipirasi menulis cerita ini setelah mengalami kejadian berbau mistis di kamar hotelku yang mewah dalam perjalanan bisnis ke China baru-baru ini. Sebenarnya pengalaman-pengalaman mistis seperti ini bukanlah “hal yang aneh” lagi bagiku karena sejak kecil aku mengalaminya. Aku mampu melihat dan merasakan hal-hal yang orang biasa tak bisa lakukan. Tak hanya “mahluk-mahluk gaib”, aku juga pernah melihat bola-bola api dan juga mengetahui sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Jujur saja, kemampuan seperti ini bukanlah yang menyenangkan bagiku karena banyak hal-hal yang seharusnya tak perlu kuketahui sebelum itu terjadi sehingga aku “membuang” kemampuan tersebut di tahun 1993 dengan bantuan doa-doa beberapa pelayan gereja karena aku sudah tak tahan dengan segala gangguan yang kualami. Sebagian besar kemampuanku memang hilang, tetapi tubuhku masih memelihara kesensitifan terhadap “mahluk-mahluk gaib” ini. Terkadang aku masih mampu merasakan dan melihat “mereka”.

Hotel Berhantu

Hotel Berhantu

Kembali ke cerita perjalanan bisnisku di China. Saat itu kami sedang mendesain sebuah rig untuk keperluan tempatku bekerja sekarang di perusahaan pembuat rig di kota Jingzhou di Provinsi Hubei, sekitar 228km dari kota terbesar China, Wuhan. Kota Jingzhou adalah sebuah kota kuno yang berumur sekitar 6000 tahun. Berbagai dinasti di China pernah berkuasa di kota ini. Salah satu ciri khas kuta ini adalah tembok kuno  yang masih kokoh berdiri mengelilingi di salah satu sisi kota.

Diskusi soal desain rig sangat alot sampai kami lupa waktu sehingga meeting baru selesai pukul 02.00 pagi. Aku dan rombongan yang lain balik ke hotel.  Kami semua benar-benar dalam kondisi yang sangat lelah. Begitu sampai ke hotel, kami langsung menuju kamar masing-masing. Tak ada yang aneh kurasakan ketika masuk ke hotel. Hal aneh kualami ketika aku akan tidur. Supaya membuat tidurku terlelap, aku mematikan semua lampur dan langsung merebahkan diri di kasur setelahnya. Di saat itulah aku tersadar jika ada yang bergerak menjalar di dalam bantalku. Aku menghidupkan lampu kembali dan memeriksa bantalku. Tak ada binatang atau hal-hal lain yang membuat sesuatu bergerak di bantal ini. Lampu lalu kumatikan dan kurebahkan kembali kepalaku di bantal. Baru saja kepalaku menyentuh bantal, kejadian yang sama terulang. Sesuatu yang bergerak menjalar menyentuh mulutku berkali-kali. Kali ini bukan itu saja, wajahku seperti ditempeli telapak tangan. Aku tak merasa takut dan cenderung tak perduli karena rasa kantuk dan lelah yang sangat parah. Aku hanya berdoa sebentar dan kemudian tertidur. Aku tidur sangat lelap sampai pagi tanpa gangguan sedikitpun.

Kejadian yang kualami langsung membuatku berspekulasi tentang kota tua Jingzhou. Kebanyakan kota-kota tua yang dikelilingi tembok di China hanya punya dua gerbang utama, Gerbang Utara dan Gerbang Selatan.  Sebagaimana kebiasaan masa lalu di China, kuburan biasanya ditempatkan di Gerbang Selatan. Satu pertanyaan dalam pikiranku, mungkin hotel yang kami tempati berada di gerbang Selatan bekas kota tua Jingzhou? Aku tak pernah tahu karena tak sempat melakukan “check dan rechek” dengan beberapa teman di sana.

Beberapa tahun sebelumnya, aku juga mengalami hal yang gaib di sebuah hotel yang berbentuk kamar-kamar paviliun di sebuah kota di Banten sana. Kala itu aku sedang mengikut sebuah tranining. Tak menguntungkan bagiku karena aku ditempatkan di kamar yang paling belakang dan merupakan kamar paviliun yang paling tua. Begitu masuk kamar aku sudah langsung merasakan aura yang bikin aku sesak nafas yang artinya kehadiran “dunia lain” sangat kuat. Aku berusaha cuek walaupun was-was. Kejadian aneh mulai kerasakan ketika aku akan tidur sekitar pukul 10.00 malam. Tiba-tiba saja muncul suara anak kecil yang sedang bermain-main. Aku keluar dari kamar untuk ngecek asal suara. Tak ada orang sama sekali, apalagi anak kecil. Suara anak kecil itu juga menghilang. Ketika aku balik ke kamar, suara tawa anak kecil tersebut muncul kembali. Tak puas hanya keluar kami, aku mengelilingi kompleks paviliun dan meneliti setiap suduat. Tak ada anak kecil sama sekali. Akhirnya aku kembali ke kamar dan berusaha tidur. Sulit rasanya karena aura dari “alam lain” sangat terasa. Tubuhku seperti terjaga terus karena tak mau diserang tiba-tiba oleh “mahluk-mahluk tak kasat mata tersebut”.  

Keesokan harinya ketika aku melakukan training, aku bercerita dengan teman sebelahku yang rupanya punya indera ke-enam yang lebih kuat dan malah melatihnya. Dia mengaku hal yang lebih parah karena “setan penghuni hotel” yang berupa perempuan cantik mendatanginya. Sama sepertiku, dia juga tak bisa tidur…..:-p. Teman di sebelahku ini mengaku jika dia berkomunikasi dengan “setan cantik” tersebut. Intinya, “si setan cantik” itu mengaku jika dia menjadi korban perkosaan dan pembunuhan bersama seorang anak laki-lakinya pada sekitar jaman perang kemerdekaan Indonesia. Lokasi kejadiannya berada di sekitar paviliun tempat aku tidur.

Sore hari selesai training, aku ngobrol dengan manager hotel tentang pengalaman aneh yang kualami. Awalnya, manajer hotel ini membantah jika ada “mahluk-mahluk gaib” di sekitar kawasan hotelnya dengan berbagai alasan. Setelah memberitahu dia jika aku bisa merasakan dan melihat “mahluk-mahluk gaib”, barulah dia mengaku bahwa kejadian yang kualami sudah sering terjadi. Nah, dia bilang bahwa orang-orang yang diganggu biasanya laki-laki yang nakal yang doyan bawa pelacur dan selingkuhan. Bah……!!!!

Malam kedua aman-aman saja karena aku pindah kamar di kamar. Malam ketiga, kejadian aneh datang lagi. Sekitar pukul 3.30 pagi, telepon berdering dan membangunkanku. Dengan mata yang masih mengantuk, aku mengangkat telepon. Tak ada suara sama sekali walaupun aku sudah berkali-kali aku teriak “halo”. Aku pun sadar jika “setan iseng” itu pasti ngulah lagi. Aku pun kembali tidur walau tak senyenyak sebelumnya.

Pagi harinya aku bertemu dengan teman-teman training. Salah satu teman ternyata mengalami hal yang lebih seram, ada orang yang mengetuk pintunya sekitar jam 3 pagi. Selain itu ada beberapa orang yang mendengar kaki yang berjalan di seret di lorong-lorong kamar. Yah, ternyata bukan aku doang yang dikerjai tadi malam.  Aku kembali bertanya kepada teman yang indera ke-enamnya lebih kuat. Ternyata dia mengalami hal yang lebih parah, semalaman dia bergumul dengan “setan penghuni hotel” sampai tak bisa tidur. Ketika kutanya kenapa kami berdua yang selalu diganggu oleh “setan” tersebut, dia menjawab bahwa karena kami berdua mampu mendeteksi kehadirannya.

“Dia mau berkomunikasi mas,” jawab temanku ini.

“Waduh repot kalau gitu karena di ajaran kami, tak diperbolehkan berkomunikasi dengan setan,” jawabku.

Bertahun-tahun sebelum kejadian di hotel di kawasan Banten tersebut, aku juga pernah mengalami kejadian aneh di sebuah hotel di kawasan Puncak. Kala itu aku juga sedang training. Sebuah bayangan hitam tinggi besar  selalu membayangi di kamarku setiap aku sedang belajar materi training di sore hari. Aku kesal juga karena merasa terganggu dengan aura mahluk ini. Sama dengan kasus di Banten, aku juga bertanya kepada beberapa petugas hotel soal keberadaan “mahluk-mahluk gaib”  di hotel mereka. Awalnya mereka tak mengaku, tetapi setelah kuberitahu aku bisa merasakan dan melihat “mahluk-mahluk gaib” itu, barulah keluar cerita-cerita yang menyeramkan dari mulut mereka.

Pengalamanku bertemu dengan “mahluk-mahluk gaib” di dalam hotel bukan hanya di tiga hotel yang kuceritakan di atas. Hampir setiap hotel yang kumasuki, pasti aku merasan aura yang tak mengenakkan. Mungkin di ketiga hotel di atas saja pengalamanku yang bisa dibilang paling ekstrim. Selain di hotel, aku juga pernah melihat “mahluk-mahluk gaib” ini di kantor tempatku bekerja, rumah, kos-kosan, hutan, dan berbagai tempat lainnya termasuk platfrom dan rig pemboran minyak tempatku bekerja. Ada yang tinggi hitam dan berbulu, ada yang berjubah hitam tanpa kepala, ada seperti bola api, ada yang kayak kuntilanak, atau hanya sekedar bayangan dan cahaya yang berkelebat. Sebuah “resiko” yang harus dialami oleh orang-orang yang punya “indera ke-enam” sepertiku. Walaupun demikian, aku tak pernah takut (mungkin ketika masih kecil) karena aku percaya ada Sesuatu Yang Lebih Besar daripada semua “mahluk-mahluk gaib” itu, Tuhan yang hidup.  

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: www.arizonafoothillsmagazine.com