TRIK PARA CALO (TOUTS), PENIPU (CON ARTIST), DAN SCAM DI BERBAGAI NEGARA (PART 2)


Sudah sekitar dua bulan yang lalu aku menulis tentang trik para calo dan penipu bagian pertama dan baru punya kesempatan untuk menulis lagi sekarang karena urusan pekerjaan dan keluarga yang sangat menyibukkan. Ideku juga sedikit tersendat karena sudah terlalu lama tak menulis. Tetapi, mudah-mudahan masih bisa memberi inspirasi kepada teman-teman pembaca. Cerita soal calo dan penipu memang menjengkelkan tapi terkadang bagiku menjadi sebuah hal yang menghibur. Menurutku, itu hanya soal cara pandang saja. Semoga setelah membaca tulisanku ini, teman-teman pembaca bisa sedikit berimproviasi ketika menghadapi para calo dan penipu……:-)

SCAM

Malaysia

Tukang Becak Pulau Penang

Aku pernah tinggak di Kuala Lumpur selama dua tahun dan bekerja di Petronas sebagai engineer. Di sela-sela pekerjaanku, aku menyempatkan diri menjelajahi sebagian besar negara ini, salah satunya kota Penang. Di Penang, aku pernah memesan becak untuk mengantarku pergi makan malam bersama seorang mantan “teman spesial”. Tawar menawar harga pun terjadi dan kami sepakat di harga 10 Ringgit untuk jarak yang tak lebih dari 1 km. Tukang becak itu pun membawaku ke sebuah “food court” murah meriah yang terletak di pinggiran jalan.  Aku lalu membayar si tukang becak dan menyuruhnya pulang karena aku berencana akan memakai becak yang lain,  tapi dia menolak menerima uangku dan ngotot untuk menungguku. Dia memintaku untuk membayarnya setiba di hotel kembali. Aku sebenarnya sudah curiga dengan omongannya tapi membiarkan saja karena perutku sudah lapar.

Setelah sekitar hampir sejam menikmati seafood murah meriah di salah satu lapak, kami pun berencana balik ke hotel. Si tukang becak rupanya ide yang lain dan menawari kami untuk keliling kota tua Penang yang kebetulan tak jauh dari “food court” tempat kami makan. “Tak apalah, ” pikirku saat itu. Si tukang becak pun membawa kami berkeliling sekitar setengah jam dan kemudian balik ke hotel. Becak pun tiba di depan hotel dan berlanjut dengan insiden kecil karena si tukang becak tiba-tiba minta 50 Ringgit.   Bah….emosiku mulai naik ke ubun-ubun dan perdebatanpun terjadi. Ingin rasanya kutonjok wajah si tukang becak. Tapi, sebelum amarah kulampiaskan aku melihat sekeliling. Aku melihat banyak tukang becak yang menyaksikan perdebatan kami. Yup, apa boleh buat aku pun terpaksa mengalah kepada permintaan si tukang becak sontoloyo ini. Rugi uang beberapa puluh Ringgit rasanya masih jauh lebih baik daripada dipukuli puluhan tukang becak…..:-). Bukan begitu saudara-saudara?

Cina

“Petugas Urusan Turis”

Baru saja saja menyeberang perbatasan darat Vietnam-Cina dari Lao Cai ke Heikou, aku harus berhadapan dengan penipu ketika tiba di sebuah terminal bus antar kota. Setelah dikadalin habis-habisan di Vietnam, tentunya aku tak ingin kena lagi di Cina. Kali ini yang berusaha menipuku adalah seorang laki-laki kurus dan botak yang mengaku sebagai “Petugas Urusan Turis”. Dia berusaha meminta uang $ 5 kepadaku dengan alasan dia berkewajiban untuk menjaga barang-barang yang kubawa. Aku pun tak percaya dengan omongannya. Dia berusaha meyakinkanku sambil teriak-teriak dan melakukan gerakan-gerakan yang terkesan dramatis supaya aku percaya. Gerakan-gerakan yang dilakukannya sangat teatrikal dan membuatku tertawa. Orang-orang yang ada di sekitar terminal pun sampai terbengong-bengong melihat aksi si petugas urusan turis ini dalam mendapatkan uang 5 dollar-ku. Aku membiarkan saja dia terus teriak-teriak sampai bosan dan terus melakukan gerakan-gerakan heboh. “Mungkin ntar dia juga berhenti kalau sudah capek,” pikirku saat itu. Tapi, ternyata aku salah. Orang itu tak menyerah. Sampai aku mau naik bus pun, dia tetap ngotot dengan “pertunjukan seni” yang dilakukannya. Aku pun akhirnya membiarkan dia menaikkan barang-barangku kedalam bus. Aku memberikan uang $ 5 yang dia minta sambil berkata, “Good performance. Thank you for entertaining me”.  Walaupun menipu, paling tidak dia telah menghiburku dengan kehebohannya sambil menunggu bus yang terasa membosankan. Uang $ 5 aku rasa layak diberikan kepadanya…….:-)

“Pelukan sayang”

Trik mengemis bisa bermacam-macam tapi tak ada yang seheboh trik mengemis yang dilakukan oleh seorang anak di kota Kunming. Ketika aku sedang berjalan-jalan di pusat kota, seorang anak berlari menuju ke arahku dan tiba-tiba saja dia memelukkan dengan keras sambil teriak-teriak.  Terus terang aku kaget dan beberapa menit pertama, aku tahu apa yang harus dilakukan. Untunlah beberapa orang yang ada disitu memberi kode kepadaku untuk memberi uang. Uang RMB 1 rupanya cukup membuat anak ini melepas “pelukan sayangnya” terhadapku. Menurutku cara dia mengemis sangat ekstrim dan tergolong perampokan dalam skala kecil. So, yang ingin pergi ke Kunming siap-siap saja dengan aksi anak ini…:-p.

Pemalakan Di Tiger Leaping Gorge.

Aku tak pernah punya buku Lonely Planet CIna tapi kata seorang teman traveler asing, pemalakan di Tiger Leaping Gorge salah satu topik yang penting dalam buku itu. Aku pernah mengalaminya dan kebetulan pernah menulis tentang hal tersebut di: “Pemalakan Di Tiger Leaping Gorge” . Semoga bisa menjadi pelajaran.

India

Bajaj Kota Mumbai

Banyak traveler yang menjuluki India sebagai negara dengan scam terburuk. Aku berpikir orang-orang yang berpendapat seperti itu belum pernah ke negara-negara Afrika yang jauh lebih buruk dalam soal scam.  Harus diakui, aku memang tak mengalami masalah berarti dengan para “scammer” di negara ini. Mungkin karena aku hanya mengunjungi satu kota saja, Mumbai atau mungkin tampangku yang mirip orang India. Satu-satunya pengalaman “dikerjai” selama berada di Mumbai adalah “tur dalam kota” yang sering dilakukan oleh tukang bajaj. Setiap kali naik bajaj, pasti itu supir bajaj membawaku keliling-keliling kota terlebih dahulu. Maklumlah, bajaj di kota Mumbai sudah dilengkapi dengan argometer seperti taksi di Jakarta.  Ulah mereka menurutku biasa saja dan banyak supir taksi di Jakarta melakukan hal yang sama bukan?

Nepal

Insiden di Perbatasan Nepal-Cina

Aku dan ketiga temanku asal Amerika dan Cina pernah hampir dipukuli orang sekampung gara-gara ulah seorang calo yang menawari kami tumpangan di kota perbatasan Kodhari di Nepal. Cerita selengkapnya aku pernah tulis di: “Insiden Di Perbatasan Nepal-Tibet” .

Yordania

Supir Taksi Kota Amman

Aku tiba di Amman dengan penerbangan dari Kuala Lumpur tepat pada saat kondisi cuaca musim dingin di kota ini mulai memburuk. Dari bandara aku naik bus menuju terminal bus yang tak jauh dari pusat kota Amman. Sesampainya disana, aku berusaha mencari taksi menuju pusat kota untuk mencari penginapan. Bukanlah ide yang baik mencari penginapan dengan cara “go show” pas musim dingin. Sialnya, supir taksi yang kutumpangi “berinisiatif” mencarikan hotel untukku tanpa kuminta. Dia berhenti di sebuah hotel yang tak jauh dari terminal. Tentu saja aku menolak keras-keras. Aku pun langsung sewot. Aku pun teriak pakai bahasa Inggris dan dia juga teriak, tapi pakai bahasa Arab. Setelah saling tukar teriakan, akupun keluar dari taksi dan ongkos. Dan, terpaksalah aku berjalan kaki menuju pusat kota sambil berjalan diiringi jatuhnya salju dari langit. Beruntung, seorang supir taksi berbaik hati mengantarku ke penginapan yang kutuju.

Naik Sado Di Petra

Aku rasa mungkin ini bukan scam tapi aku hanya tak setuju saja para turis “dikerjai” tukang sado yang banyak mangkal di kawasan Al Khazneh yang terkenal di Petra. Untuk perjalanan naik sado yang sangat singkat dan tak lebih dari satu kilometer, harganya sangat mahal, antara 5 – 10 JD (Jordanian Dinar) atau sekitar Rp 70,000 – 140,000. Biasanya “korban” tukang sado ini adalah turis-turis yang datang dalam rombongan tur. Kapan lagi merasakan naik sado di sebuah kota kuno walaupun harganya selangit? Yang jelas, orang itu bukan aku………:-)

Seri ketiga tulisan ini akan bercerita soal calo dan tukang tipu di Turki dan Mesir. Kalau ada waktu, mungkin aku tambahkan trik para calo dan penipu di negara-negara Afrika.

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: http://www.tothetick.com/top-scams-in-history