Trik Para Calo (Touts), Penipu (Con Artist), dan Scam Di Berbagai Negara (Part 1)


Melakukan perjalanan ke berbagai negara di dunia pastilah menyenangkan. Bertemu dengan orang-orang baru, pengalaman-pengalaman baru, pemandangan baru, dsb. Tapi, pasti ada satu yang pasti selalu kita hindari dalam perjalanan-perjalanan tersebut yaitu penipu, calo, con-artist, perampok dan teman-temannya yang sejenis. Tak ada traveler yang mau bertemu dengan mereka karena ujung-ujungnya pasti duit melayang dan terkandang bisa nyawa juga. Begitu juga denganku tapi hanya di awal-awal perjalananku di luar negeri. Setelah merasa tak mungkin para penipu dan kriminal ini kuhindari, aku malah berusaha menikmati interaksi dengan mereka dan terkadang aku juga berusaha balik ngerjain mereka juga….:-).  Aku pikir tak ada salahnya untuk berbagi sedikit tentang pengalamanku  bertemu dengan “orang-orang serem” tersebut di berbagai perjalananku di dunia.

ConArtist2

Bangkok, Thailand

1. Scam Paket Wisata Di Bandara

Aku mulai dengan kota ini karena di kota inilah aku pertama kali memulai perjalananku di luar negeri secara indpendent sekitar 7 tahun yang lalu. Sebelum Thailand, aku memang sudah pernah pergi ke berbagi negara yang lain tapi kebanyakan karena urusan kerja dan jalan-jalan wisata…:-). Sebagai pemula dalam urusan traveling di luar negeri, tentunya aku tak begitu paham soal Bangkok. Ketika tiba di bandara Dong Muang, aku langsung saja kepincut dengan seorang calo yang menawarkan paket “city tour” Bangkok dengan harga selangit. Aku melakukan tawar menawar dan harga berakhir di sekitaran $ 100 untuk “satu hari” city tour. Keesokan harinya, aku dijemput oleh orang dari pihak travel agent yang paket city tour-nya telah kubeli. Terlalu lama hidup jadi “juragan minyak” membuatku merasa terlalu nyaman dengan hidup dan melupakan perjalanan-perjalanan ekstrim yang dulunya sering kulakukan ketika menjelajahi pulau-pulau di Indonesia dengan modal dengkul…:-p. Berangkatlah kami ke berbagai objek wisata di Bangkok yang tentunya langsung membuatku hampir mati bosan. Saat itu juga aku tersadar bahwa this is not the journey that I want. Tapi apa boleh buat, uang $ 100 sudah melayang untuk sebuah tour keliling kota ke tempat-tempat yang membosankan yang berlangsung hanya sekitar 3.5 jam. Aku langsung mencak-mencak ke “tour guide” yang membawaku. Tapi, dia malah menyalahkanku dan bilang kenapa mau ditipu waktu di bandara….:-p. Aku hanya bisa dongkol. Jadi, jangan pernah ambil penawaran paket wisata di bandara karena isinya banyak “tipu-tipu”.

2. Tuk-Tuk Bangkok

Sebagian besar sudah tahu untuk hati-hati jika naik tuk-tuk di Bangkok terutama di malam hari. Jika pergi sendirian, supir tuk-tuk ini bukannya mengantar ke tujuan, tapi malah mengantar tamunya ke tempat-tempat maksiat.  Aku sendiri mengalaminya ketika supir tuk-tuk dengan santainya mengajakku untuk “menikmati wanita-wanita Thai” di sebuah tempat mesum.  Untung saja aku tak doyan pelacur walaupun si supir tuk-tuk memberiku brosus berupa gambar-gambar wanita Thai yang cantik mulus dalam keadaaan bugil dengan posisi yang seronok. Aku menolak ajakan supir tuk-tuk itu dan tetap pada tujuanku untuk makan malam. Seandainya aku mengikuti kata supir tuk-tuk, aku akan kena tambahan fee atas jasa supir tuk-tuk yang mengantarku. Soal besaran aku tak mengerti karena aku tak pernah sampai ke dalam tempat mesum tersebut. Mungkin ada pembaca yang ingin mencoba?

3. Vagina Show Scam

Aku tentu sangat penasaran ketika salah seorang teman perempuanku bercerita soal “Vagina Show” yang pernah ditontonnya di Bangkok. Tentu saja aku ingin melihat langsung ketika ada di Bangkok. Sebelum aku melaksanakan niatku, aku bertemu Andrei yang pernah kuceritakan dalam tulisanku “Kisah Cinta Pilu Dari Pathpong. Dia langsung berkomentar begini, ” Don’t go there man. They will ripped you off. The drink is so fucking expensive!!!”. Tapi, jika ada yang mau berkorban uang membayar  mahal minuman beralkohol untuk sebuah acara seperti “Vagina Show”, ya monggo saja. Itu terserah panggilan masing-masing…..:-).

4. Bangkok – Siem Reap Big Scam.

Salah satu jalur perjalanan klasik di Indocina adalah menyeberang ke Kamboja dari Thailand melalui Aranyapathet dengan tujuan akhir Siem Reap. Aku pun termasuk orang yang “ikut-ikutan” melalui jalur ini. Karena masih kurang berpengalaman, aku membeli tiket di kawasan Sukhumvit dengan harga tiket 1000 Baht. Keesokan harinya aku berangkat ke Siem Reap melalui Khaosan Road. Aku bertemu dengan Insun Park, engineer asal Korea yang kemudian menjadi teman perjalananku. Usut punya usut, Park membeli tiket bus dengan harga lebih murah, 800 Baht. Tapi, kemudian kami merasa jengkel ketika ada traveler bule bernama Adrian yang mengaku membeli tiket seharga 600 Baht. Kami berdua benar-benar merasa dirampok, terutama aku yang harus membayar hampir dua kali lipat daripada yang dibeli Bryan.

Bus yang kami tumpangi memang bus reot yang bermasalah. Hampir separuh perjalanan, AC bus rusak. Udara yang sangat panas pada saat itu membuat suasana di dalam bus seperti sebuah sauna.  Sialnya lagi, bus sempat ngadat dan harus masuk bengkel. Terus itu, jalan bus tak lebih cepat dari bekicot…:-p. Semua penumpang pastinya memaki-maki sepanjang perjalanan…:-p. Perjalanan yang harusnya cuma sekitar 4 jam harus berlangsung selama 7 jam dengan penuh kesengsaraan. Sebelum menyeberang ke Kamboja, bus kami berhenti di sebuah warung di pinggir jalan di Rongklua sekitar 1 km dari perbatasan. Di warung ini, ada seseorang yang mengaku sebagai pegawai bus yang mau menawarkan pengurusan visa on arrival dan juga penukaran mata uang Baht Thailand ke Poipet Kamboja. Dia mengatakan bahwa uang dollar dan Baht Thailand tidak berlaku di Poipet, kota perbatasan Kamboja. Temanku Insun Park kemakan juga sama bualan orang ini sehingga urusan visa dan penukaran uang diserahkan kepada orang ini. Beberapa orang yang lain juga mengikut jejak Park. Kali ini aku tak termakan sama sekali. Aku hanya bilang bahw visa dan uang Kamboja sudah aku punya. Penukaran yang dilakukan orang ini pastinya jauh lebih rendah dari nilai tukar normal. Setelah hampir 1 jam di warung tersebut, kami pun diberangkatkan ke perbatasan dengan truk, bukan dengan bus.  Semua orang mulai bertanya-bertanya, kenapa bus rongsokan yang kami tumpangi tidak bisa langsung ke Siem Reap.

Urusan imigrasi di perbatasan berlansung cepat karena petugas mendahulukan traveler asing daripada penduduk lokal. Di kota perbatasan Poipet, kami menunggu selama hampir tiga jam sebelum berangkat ke Siem Reap. Kami membeli makanan dan minuman di kota ini sebagai bekal di perjalanan. Para penjual pun teriak-teriak menawarkan dagangan mereka sambil menyebut kalimat terakhir, “Dola ok, Bat ok.”. Keruan aja Park mencak ketika mendengar teriakan pedagang karena merasa ditipu orang di warung tadi. Aku hanya tertawa saja. Park yang lebih pengalaman daripada aku karena telah keliling Asia masih saja kena tipu, gimana aku yang baru saja melek dunia…

Bus yang akan membawa kami tiba sekitar pukul 7:30 malam. Kami semua shock melihat kondisi bus yang sudah seharusnya dibesituakan. Semua penumpang yang bersama kami sejak dari Bangkok teriak-teriak memaki. Sang supir pura-pura bego aja. Dia mungkin sudah terlalu sering mendengar makian traveler yang merasa kena tipu……

Ragkaian scam dari Bangkok ke Siem Reap ini baru berakhir ketika kami tiba di Siem Reap sekitar jam 1:30 pagi. Bus rongsokan kami berhenti persis di depan sebuah hotel. Semunya memang sudah sangat rapi direncanakan. Si perancang scam pasti sudah tahu tak akan ada orang yang mau capek-capek mencari penginapan di pagi buta sepert ini setelah melakukan perjalanan hampir 18 jam. Sebagian besar memang memilih penginapan tersebut walaupun aku dan Park mencari alternatif lain karena “harga yang kelewat mahal”.  So, untuk perjalanan ke Siem Reap dari Bangkok lebih baik jangan menggunakan jasa bus dari Khaosan Road. Naik bus umum dari terminal Chatucak dan menuju Aranyapathet dan mencari bus di perbatasan menuju Siem Reap lebih cepat, efisien, dan murah.

Kamboja

1. “Penjual Buku” Siem Reap

Selama perjalananku yang pertama di Siem Reap, aku tak sekalipun kena scam. Perjalanan berjalan mulus dan menyenangkan karena Siem Reap belum terlalu turistik saat itu. Perjalanan keduaku di Siem Reap kulakukan bersama istriku. Istriku yang lama tinggal di US dan hanya suka melancong dengan jasa tour ke negara-negara maju seperti Eropa, Australia, Jepang, dan lain-lain tak begitu memahami dinamika yang ada di negara-negara di jalanan. Ketika ada yang menawarinya buku tentang Siem Reap seharga 1 dollar, dia langsung tertarik. Berbeda denganku yang kenyang di jalanan, aku langsung mencium gelagat penipuan ketika orang ini menawarkan harga yang kurang masuk akal. Tak ada buku dengan gambar berwarna dan paket yang menarik dihargai hanya $ 1. Aku langsung melarang istriku untuk bernegosiasi dengan “si penjual buku”. Tapi, istriku terlanjur jatuh cinta dengan buku itu setelah membolak-baliknya. Tapi kemudian harga naik menjadi $ 10 ketika istriku berniat membeli. Aku sudah tahu trik model begini tapi tak ada yang bisa kubuat karena istriku setuju dengan harga $ 10 dengan syarat dia mendapatkan buku baru yang masih dalam bungkusan. “Penjual buku” pun setuju. Dia pergi sebentar dan membawa “buku baru” dalam bungkusan plastik. Setelah dia menerima uang dari istriku, dia langsung ngeloyor dengan sepeda motornya secepat kilat dan hilang dari pandangan. Tak ada yang salah dengan buku yang baru dibeli istri sampai ketika istriku membolak-balik isinya. Tak ada kalimat yang kami mengerti dari buku tersebut karena buku tersebut berbahasa Prancis, bukan berbahasa Inggris seperti buku yang dipegangnya ketika sedang tawar menawar dengan si “penjual buku”. Aku pun hanya bisa bilang kepada istriku, ” I’ve told you……”

2. Tuk-Tuk Phnom Penh.

Setiap kali aku pergi ke bergai negara, aku selalu berusaha membangun hubungan dengan “orang-orang yang bergerak dalam bidang transportasi” seperti supir taksi, supir tuk-tuk, tukang ojeg, dan sebagainya. Ada alasan kenapa aku harus membangun hubungan dengan mereka. Orang-orang ini punya segudang informasi mulai dari legal sampai ilegal. Nah, kalau cuma travel model hura-hura atau pakai paket tour, tak perlu susah-susah membangun hubungan karena nggak penting juga….:-p. Nah, ketika di awal-awal perjalananku di Phnom Penh aku juga tak membangun hubungan. Aku hanya memanggil salah satu tukang tuk-tuk di pinggir jalan. Akibatnya, aku hampir saja jadi korban pencurian si tukang tuk-tuk jika saja teman seperjalananku tidak memergoki tukang tuk-tuk yang sedang menyelinapkan tangannya kedalam tasku. So, bagi teman-teman yang suka jalan bergaya nemplok kayak lalat, sebentar kesana dan sebentar kesini tanpa berusaha menikmati motto traveling is a journey mungkin bisa sedikit meluangkan waktu “menikmati perjalanan” sambil bergaul dengan orang disekitar supaya tak perlu dikerjain…

Vietnam             

Aku sudah kehabisan kata-kata soal scam di Vietnam terutama di Kota Hanoi. Scam di kota ini sudah seperti mendarah daging dan terorganisasi dengan rapi. Penipuan berlangsung mulai dari bandara sampai ke kamar hotel.  Semua bekerja sama dengan rapi untuk menipu “turis linglung” yang lagi sial. Pertama kali aku ke Hanoi di tahun 2006, aku memang salah satu “turis linglung” yang ketiban sial itu. Kedua kali aku kesana, kembali aku harus berhadapan dengan para penipu di Hanoi. Kali ini aku sudah sangat siap dan melampiaskan dendam lamaku. Aku sangat menikmati momen tersebut walaupun istriku menjadi sangat benci dengan Hanoi setelah kejadian tersebut. Saking menariknya pengalaman “tipu-menipu” di Hanoi, aku sudah lebih dulu menulis pengalaman berhadapan dengan scammers di kota ini dalam tulisan yang berjudul “Hanoi Yang Tak Pernah Berubah (Hanoi Scam)”. Aku rasa tak perlu lagi menuliskan pengalamanku tersebut. Bagi teman-teman yang ingin membaca pengalamanku yang  menarik dengan para scammer di Hanoi, tinggal di klik saja link “Hanoi Scam”‘ Selamat menikmati…..:-). (Bersambung ke Part 2)

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi
Copyright Photo: http://www.befraudaware.ca/identify-con-artists