Amankah Cewek Traveling Sendirian?


Pertanyaan  seperti judul diatas sering ditanyakan kepadaku oleh pengunjung blog yang bergender perempuan. Terus terang, aku bingung menjawabnya dan merasa mereka bertanya pada “orang yang salah” karena aku bukan perempuan dan hampir semua perjalananku bukanlah “perjalanan yang biasa”.  Bahkan, ada seorang teman perempuan asal Indonesia pernah menyuruhku memeriksa kesehatan mentalku setelah jalan bareng di Krakatau sana. Saat itu ada ombak sekitar 2.5-3 meter yang menghantam perahu kecil kami ditambah angin kencang dan hujan deras. Kami sama-sama berteriak walaupun dengan konteks yang berbeda. Dia teriak ketakutan, aku teriak  kegirangan……hehehe. Jadi,  para wanita yang kebetulan membaca tulisanku ini boleh percaya boleh tidak dengan apa yang kutulis. Yang jelas,  aku tidak menggunakan sudut pandangku. Apa yang kutulis  adalah berdasarkan pengalaman teman-teman seperjalananku yang kebetulan bergender perempuan dan berani traveling sendirian ke berbagai pelosok dunia, bahkan  ke tempat yang berbahaya sekalipun. Aku akan membagi mereka menjadi beberapa  tipe sesuai dengan pengamatanku:

1. Tipe Hardcore

Aku mengenal beberapa teman perempuan yang punya gaya “hardcore” kalau bertualang. Mereka tak hanya berani traveling sendirian, tapi juga berani traveling di tempat berbahaya sekalipun bahkan sampai ada yang meregang nyawa.

– Margo.

Margo  kukenal dalam perjalananku di Tiger Leaping Gorge, Lijiang. Bisa dikatakan, dia seorang legenda di Tiger Leaping Gorge sana. Aku pernah bercerita sedikit tentang dia di “Wanita-Wanita Petualang dan Pebisnis. Bisa dikatakan, dialah yang memberi ide padaku untuk tidak bergantung pada buku panduan saat traveling. Dia adalah tipikal trekker yang takut jalan sendirian dan sangat percaya diri. Dia banyak menjelajahi “trekking path” di pegunungan himalaya. Sayang, dia akhirnya meninggal dunia karena terlalu percaya diri trekking sendirian di pegunungan Kawa Karpo di kawasan provinsi Deqin China tanpa perlengakapan yang memadai. Mungkin dia terlalu percaya diri dengan kemampuannya. Percaya diri memang penting, tapi tak perlu sampai berlebih.

– Ann.

Aku bertemu dengan Ann dalam perjalananku di Shangrilla, China. Dia dibesarkan oleh seorang ibu berjiwa petualang yang kebetulan bekerja sebagai seorang antropolog. Ann tak bisa jauh dari hobi ibunya. Dari kecil dia sudah sering diajak ibunya bepergian jauh ke tempat-tempat yang jauh dari peradaban. Wajar saja dia berani traveling  sendirian di negara-negara Amerika Selatan dan Tengah yang rawan dengan perampokan, narkotik, dan perang sipil. Dia juga pernah bekerja di sebuah bar di Lima, Peru. Seperti Margo, Ann juga sangat percaya diri dan independen.

–  Marry

Marry kukenal di Kairo saat lagi nongkrong di warnet. Tak banyak yang kutahu tentang dia, tapi dia berani traveling sendirian di Kenya saat negara ini sedang berada pada kerusuhan etnis yang memakan korban 1000 jiwa di tahun 2008. Alasannya pergi ke Kenya pada masa konflik karena murah…:-p. Tak banyak yang kutahu tentang dia selain doyan travel sendirian kemana-mana.

2. Tipe Party

Aku pernah bercerita tentang Joey dalam tulisanku “Joey, Dokter Gendeng”. Dia memang gendeng adanya. Dia berani meninggalkan kenyamanan yang dia dapat sebagai dokter dan traveling kesana-kemari sendirian.  Di umurnya yang sudah mencapai 38 tahun saat kami ketemu, dia masih doyan minum dan pesta. Kegilaan yang lain, dia lebih memilih jadi pelayan bar daripada dokter….:-p. Yang penting ada…party…party…party……:-).

3. Tipe Pencari Teman.

Tipe yang ini memang memulai jalan sendirian, tetapi kemudian mencari teman terutama yang berlainan gender dalam perjalanan-perjalanan mereka berikutnya. Teman perjalananku di Arusha, Tanzania bernama Jane mungkin paling tepat dikategorikan dalam tipe ini. Dia berasal dari Amerika, tepatnya dari neara bagian Ohio. Sebelum travel di Afrika, Jane tak pernah keluar dari negaranya. Dia juga tak punya pengalaman traveling. Cewek yang juga pemain sepakbola ini tiba-tiba saja punya ide pergi sendirian ke Afrika bahkan ke negara-negara Afrika yang dianggap rawan saat itu seperti Zimbabwe. Tapi, untuk menjaga keselamatannya dia selalu mencari pria yang dianggapnya baik (termasuk aku…..:-p) untuk dijadikan teman melakukan perjalanan. No sex involve, just friend during the journey. Mungkin cara ini yang paling layak dicoba untuk wanita yang doyan traveling sendirian, selama tidak memiliah pria yang salah untuk dijadikan teman perjalanan. Aku rasa teman-teman yang bergender perempuan  tak punya masalah soal “feeling” memilih pria baik-baik  untuk dijadikan teman perjalanan. Yang penting jangan terlalu naif saja.

Satu hal yang patut dicatat dari Jane adalah tak perlu punya banyak pengalaman traveling untuk berani traveling sendirian.  Jane yang tak punya pengalaman traveling sebelum traveling di Afrika telah membuktikannya.

4. Tipe Pencari Ketenangan.

Tipe cuek cocok untuk wanita yang suka jalan sendirian dan lebih senang berada di tempat yang eksotis nan sunyi sepi. Aku bisa bilang teman sekamarku di Pulau Zanzibar bernama Karen yang paling tepat untuk tipe ini. Dia juga berasal dari US dan bekerja sebagai seorang perawat. Dia sangat friendly dan suka bermain kartu denganku untuk menghabiskan waktu. Selama dua minggu menginap di Zanzibar Guesthouse yang sangat penuh kekeluargaan, Karen hanya keluar dari penginapan itu dua kali untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Zanzibar Beach House yang terletak persis di pinggir pantai yang indah membuatnya betah. Sepanjang hari dia hanya membaca buku sambil menikmati ketenangan di guesthouse itu yang memang hanya menampung tak lebih dari 1o orang tamu. Setelah dua minggu dia pergi, sendirian saja untuk mencari tempat tenang lainnya untuk membaca buku….:-).

5. Tipe “Fun and Fearless” Female

Tak selamanya wanita yang berani travel sendirian itu menggunakan “pakaian standar traveler” seperti celana jeans atau celana khaki supaya kelihatan independen. Aku pernah bercerita tentang Margareth, humas sebuah rumah mode di New York yang berdarah Kroasia dan berparas sangat cantik (sayang aku tak sempat memotret wajahnya….:-p). Dia travel sendirian saja dan memilih tempat-tempat yang dianggapnya layak untuk dikunjungi sebagai objek turis. Dia bukanlah tipe hardcore seperti Margo, Ann, atau Marry yang mencoba menaklukkan banyak tantangan atau tipe pencari ketenangan seperti Karen. Margareth sangat ramah dan akrab dengan setiap orang di penginapan. Walaupun demikian, tak ada juga cowok di penginapan yang berani sembarangan karena bahasa tubuhnya yang sangat percaya diri dan tegas.  Dia adalah tipikal wanita modern yang sangat percaya diri dan doyan travel sambil menikmati hidup tanpa harus mengorbankan cita rasa fashion-nya. Istilah kerennya mungkin “fun and fearless” female kali ya.  Menurutku, cara Margareth traveling patut dicoba oleh para perempuan yang doyan traveling sendirian.

Mungkin teman-teman yang membaca tulisan terutama yang bergender perempuan punya trik lain selama travel sendirian. Jadi, tak perlu tulisan ini menjadi acuan yang terlalu dibuat kaku.  Selama nyaman dengan cara sendiri, tak ada salahnya untuk dilanjutkan. Aku hanya mencoba menggambarkan beberapa teman perempuan yang pernah kutemui dalam perjalanan-perjalananku yang kebetulan berani travel sendirian dengan caranya masing-masing. Soal nantinya berani traveling sendirian atau tidak, aku serahkan sepenuhnya kepada para perempuan yang membaca blog ini. Seperti yang selalu aku katakan dalam tulisan-tulisanku, kalau mau travel sendirian itu ya harus percaya diri, jangan pernah kehilangan common sense (akal sehat) dan dignity (harga diri), serta jangan cepat panik.  Selamat mencoba solo traveling buat para perempuan………

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright: Jhon Erickson Ginting