Perjalananku Di Rwanda Dalam Gambar


Rwanda adalah negara terakhir yang kujelajahi di Afrika. Negara ini tidaklah umum menjadi tempat tujuan para pelancong karena imejnya yang buruk akibat peristiwa genosida di tahun 1994. Bila kebanyakan orang takut datang ke negara ini karena alasan tersebut, aku justru sangat penasaran untuk menggali lebih dalam lagi tentang peristiwa tersebut. Memotret di Rwanda bukanlah hal yang mudah. Sering kali aku ditegur karena memotret. Aku jadi merasa rikuh sendiri dan seringkali aku harus menyembunyikan kamera di balik jaketku supaya tidak membuat orang curiga. Maaf saja dengan hasil fotoku yang sedikit nggak jelas karena kebanyakan foto-foto ini adalah hasil curi-curi. Orang Rwanda masih merasa curiga terhadap pendatang walaupun mereka sangat ramah. Mungkin peristiwa genosida sangat membekas dalam pikiran mereka sehingga mereka selalu memandang curiga setiap orang asing yang memasuki “pekarangan” mereka.

Pemandangan Sepanjang Perbatasan Ke Kigali

Aku masuk ke Rwanda dengan menggunakan bus malam dari Kampala, Uganda dan tiba di Kigali, ibukota Rwanda sekitar pukul 10 pagi. Tujuan pertamaku di Kigali ada Gisoji atau Kigali Genocide Memorial yang menyimpan sekitar 250.000 korban genosida.

Salah Satu Sisi Kigali

Kigali Genocide Memorial – Ada 250,000 mayat di dalam kompleks ini

Rwanda adalah sebuah negara kecil. Jadi, aku bisa mengunjungi kota-kota di Rwanda dengan hanya naik bus dari Kigali. Kota kedua yang kukunjungi adalah Ntarama. Tujuanku ya pingin lihat Ntarama Genocide Memorial yang dulunya adalah sebuah gereja.

Ntrama Genocide Memorial

Bus Yang Membawaku Ke Berbagai kota Di Rwanda

Kota yang selanjutnya yang kumasuki adalah Ruhungeri. Kota ini terkenal dengan gorilla dan Volcanoes National Park-nya.  Sayang, tour melihat gorilla yang mencapai $ 600 per hari membuatku mengurungkan niat melihat gorilla. Mahal bow……

Kota Ruhungeri

Goma, “Kota Paling Aman” Di Kongo

Danau Kivu Di Gisenyi

Dari Ruhungeri, aku meneruskan perjalanan ke Gisenyi, kota di pinggir Danau Kivu yang berbatasan dengan Goma di Kongo. Tak ada yang istimewa karena kota yang dulunya terkenal sebagai tempat peristirahatan orang kaya Rwanda ini sangat sepi dari pelancong.  Danau Kivu terkenal dengan ribuan mayat yang membusuk pada masa genosida

Murambi

Butare dan Murambi Genocide Memorial adalah kota dan memorial terakhir yang kukunjungi di Rwanda sebelum kembali ke Kigali. Aku tak menganggap Kongo sebagai negara yang kujelajahi karena aku hanya sampai di perbatasan Goma.

Dengan berakhirnya perjalananku di Rwanda, berakhirlah perjalananku di Afrika……Sebuah benua yang penuh misteri, perang, kematian, penyakit, dan kemiskinan dimana orang-orang yang hidup di dalamnya telah mengajariku banyak tentang belas kasih, semangat hidup, dan juga arti mengampuni……

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi
Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting