Batik Afrika


Seseorang menyapaku di Arusha, Tanzaniadengan sebuah sapaan yang seharusnya kudengar di Indonesia, “Sir, do you want Batik?”  Agak aneh rasanya jika seorang Indonesia sepertiku ditawari batik di Afrika sana. Aku pun membalas pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan. “Do you know batik originally from Indonesia?”

“I don’t know,” jawab si penjual batik dengan santai. “I thought batik is from Africa.”

Seperti orang Indonesia yang “selalu tersinggung” bila ada negara lain yang mengklaim batik, aku pun sedikit tengsin mendengar jawaban si penjual batik. Aku lalu menjelaskan asal-usul batik dan sejarahnya yang mungkin sebagian besar salah. Maklumlah, aku bukan orang Jawa yang tahu soal seluk-beluk batik secara detail…..:-p. Si penjual batik hanya manggut-manggut mendengar penjelasanku dan kemudian bertanya dengan nada kesal, “Do you want to buy my batik or not?”  Si penjual batik pasti bosan kuceramahi….:-p. Dia pun menggerutu kesal ketika aku jawab, “No, thanks.”

Batik Afrika, Sumber: http://www.maridadiartz.com

Setelah debat kusir dengan penjual batik di Arusha, aku mulai mempelajari asal-usul batik yang diklaim berasal dari Indonesia. Kata batik sendiri memang berasal dari bahasa Jawa yaitu amba yang artinya menulis and titik.  Secara harfiah, batik artinya menulis titik. Soal seni membatik sendiri yaitu melukis dengan teknik pewarnaan yang menggunakan lilin tidak hanya dikenal diIndonesia, tetapi juga sudah sejak lama dikenaldi Mesir,India,Nigeria, Cina Jepang, dan lain-lain. Dan, teknik membatik ini memang sudah dikenal sejak lama di negara-negara tersebut bahkan dari sejak sebelum Masehi. Perbedaan teknik membatikIndonesia (khususnya Jawa) dengan negara-negara lain mungkin terletak di alat melukisnya dimana batikIndonesia aslinya dilukis dengan menggunakan canting. Canting sebagai alat lukis batik tidak dikenal di negara-negara lain kecuali diMalaysia yang mempunyai kedekatan sosial budaya denganIndonesia.

Soal kata “batik” bisa sampai ke Afrika, itu masih sebuah misteri bagiku. Tak kutemui referensi bagaimana kata itu sampai ke Afrika. Memang kedengarannya sedikit aneh kalau orang Afrika memilih kata batik dan tidak kata lain untuk karya seni membatik mereka. Aku pernah bertanya kepada beberapa pedagang batik di beberapa negara Afrika apakah mereka tahu kalau kata batik asalnya dari Indonesia. Semua mereka bilang tidak tahu. Mereka malah mengklaim bahwa seni batik dan kata batik itu berasal dari Afrika dan merupakan bagian dari budaya mereka. Bayangkan kalau yang ngomong tadi orang Malaysia, pasti banyak orang Indonesia yang langsung memaki-maki. Sayangnya orang Indonesia sulit memprotes orang Afrika yang mengklaim batik sebagai bagian dari kebudayaan mereka.  Jauh euy, berat diongkos kalau mau protes……:-p.

Lukisan Surealis Pada Batik Afrika. Sumber: http://www.youth4media.eu

Mungkin tak banyak orang Indonesia yang tahu soal batik Afrika. Aku bisa memberi gambaran bahwa corak batik Afrika memang berbeda dengan batik Indonesia. Gambar-gambar yang ada di seni batik Afrika lebih mirip lukisan, lukisan surealisme tepatnya.  Selain itu batik Indonesia lazimnya digunakan sebagai pakaian, sedangkan batik Afrika selain digunakan untuk pakaian, juga digunakan sebagai karya lukisan, taplak, dan sebagainya. Warna-warna yang digunakan dalam batik Afrika lebih ekstrim daripada batik Indonesia yang mengikuti pakem dan pola. Batik Afrika benar-benar karya imajinasi dari sang pelukis batik sendiri. Sayangnya, banyak pelukis batik Afrika terutama yang menjual karya batik mereka di jalanan hanya mencontoh dari pola-pola lukisan batik yang sudah ada. Aku bisa menemukan dua lukisan batik yang sama di beberapa negara Afrika yang berbeda.

Kalau bicara soal kualitas bahan, batik Indonesia memang jauh lebih baik dibandingkan batik Afrika. Di Afrika, bahan pakaian batik yang digunakan lebih kaku dan kasar dibandingkan bahan yang digunakan di Indonesia. Sedangkan bahan yang digunakan untuk mbuat lukisan batik biasanya sangat kasar, persis seperti kanvas lukisan. Teknik membatik di Afrika juga sedikit ugal-ugalan. Sering sekali lilin yang digunakan untuk membatik masih menempel di kain batik. Tentunya harga batik di Afrika tidak semahal di Indonesia. Walaupun begitu kepintaran menawar karena harga turis pasti akan sangat berbeda dengan harga lokal.

Bicara soal batik, aku selalu mengingat Nelson Mandela, bekas Presiden Afrika Selatan yang sangat menggemari batik Indonesia. Aku sering melihat di TV dalam berbagai acara kenegaraan, dia selalu menggunakan batik buatan Indonesia. Sepertinya belum ada orang penting Indonesia yang menjadi penggemar berat batik Afrika, mugkin suatu saat jika orang-orang penting Indonesia lebih memilih ke Afrika daripada Amerika Utara atau Eropa untuk “studi banding”……:-p.

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: Sumber Disebutkan.