Perjalananku Di Uganda Dalam Gambar


Uganda adalah negara kelima di Afrika yang aku jelajahi setelah Mesir, Tanzania, Malawi, dan Kenya. Aku mendapatkan visa Uganda di Kenya setelah “merayu” petugas konsuler kedutaan Uganda di Nairobi…:-p. Bus menjadi transportasi pilihanku menyeberang ke Uganda dari Kenya. Kenya yang saat itu masih dilanda konflik etnis membuat bus kami memilih menyeberang melewati kota Busia yang selama ini hanya dilewati truk-truk karena beberapa kota di Kenya yang biasanya dilewati jalur bus masih terlibat tembak-menembak.

Busia, Kenya-Uganda Border

Aku tiba di kota Kampala sekitar pukul 11:30 malam dan menginap di “Backpacker Guesthouse”. Kota Kampala adalah salah satu “kota paling aman” di Afrika sehingga aku masih merasa aman berkeliaran sendirian mencari makan pukul 00:30 di sebuah pasar rakyat yang tak jauh dari  guesthouse. Tentunya ada sedikit gangguan, tetapi bisa kuatasi dengan mudah…..:-p.

Pasar Sentral Kampala
Masjid Qadafi Kampala

Beberapa hari di Kampala melakukan hal-hal yang klise membuatku bosan. Aku memutuskan untuk melakukan arung jeram grade-5 Sungai Nil di Jinja. Arung jeram pertamaku sejak “insiden” arung jeram Sungai Citarum hampir 16 tahun sebelumnya. Sayang 250 foto arung jeramku di Sungai Nil Uganda hilang karena CD yang menyimpan foto-foto itu pecah. Jadilah, aku tidak bisa “menyombongkan diri” tentang arung jeram grade-5 yang kulakukan dengan foto-foto yang sangat heroic….:-p.

Kemacetan Di Kampala, Semrawutnya mirip Jakarta kan?
Kawasan Elite Kampala

Sebelum Uganda dijajah oleh Inggris dan kemudian berubah menjadi sebuah republik, negara ini adalah sebuah kerajaan yang bernama Buganda. Kerajaan Buganda sempat menjadi salah satu kerajaan terkuat di Afrika Timur. Aku menyempatkan diri melihat sisa-sisa kejayaan kerajaan ini di  Kasubi Tombs  yang menjadi kuburan raja-raja Kerajaan Buganda. Bukan hanya kuburandi Kasubi Tomb Complex terdapat sebuah hut yang menjadi istana raja.  

Istana Kerajaan Buganda
Gambar Raja-Raja Buganda
Kompleks Makam Kasubi

Satu hal yang menarik yang lain dalam perjalananku di Kampala adalah ketika aku menemukan iklan baterei buatan Indonesia, Panashiba

Panashiba, baterei buatan Indonesia di Uganda

Hari terakhirku di Uganda aku habiskan di Entebbe yang terkenal dengan peristiwa pembajakan pesawat El Al Israel oleh gerilyawan Palestina. Pasukan komando Israel mendarat di lapangan terbang Entebbe tanpa diketahui oleh radar Uganda dan berhasil membebaskan pesawat El Al tersebut. Selain peristiwa tersebut yang membuatku datang kesini adalah Danau Victoria yang menjadi sumber dari Sungai Nil. Cara terbaik menjelajahi Entebbe adalah dengan menggunakan “boda-boda” atau dalam bahasa Indonesianya disebut ojeg motor..

Entebbe Botanical Garden. Tempat ini pernah menjadi tempat shooting film “Tarzan”

Danau Victoria yang menjadi sumber air Sungai Nil

Sepulangnya aku dari Entebbe, aku langsung naik bus malam menuju Rwanda. Dan, perjalananku di Uganda pun berakhir……..

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Copyright Picture: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi