Survived In The Busway


Busway adalah moda transportasi favoritku di Jakarta walaupun sebagai engineer aku merasa membangun busway di Jakarta sangat tidak cocok dengan konsep teknologi. Dibanding metromini yang sering menurunkan penumpang seenaknya busway pasti jauh lebih baik. Aku mulai naik busway ketika aku kembali ke Indonesia tahun 2008 karena di saat pembangunan jalur busway di  Jakarta, aku sedang bekerja di luar Indonesia. Jadi, bisa dikatakan aku sama culunnya dengan orang-orang yang baru pertama kali datang ke Jakarta dan mencoba naik busway.

 Sebagai orang awan dalam dunia “perbuswayan”, aku tak pernah menyangka pengalaman naik busway bisa menjadi sebuah pengalaman yang berbahaya terutama saat hujan lebat turun di Jakarta. Seperti diketahui, hujan selalu membuat orang-orang Jakarta lebih paranoid dari kambing yang takut hujan. Biasanya kalau hujan turun, terminal busway pasti penuh dengan penumpang yang pingin cepat pulang. Dalam kondisi seperti ini, terminal busway bisa lebih tidak manusiawi daripada metromini.

Busway Di "Masa Damai"

Saat itu, aku baru tiga bulan tinggal di Jakarta dan kota ini sedang diguyur hujan. Aku naik busway dari terminal Polda menuju terminal  Karet. Nah,  pada saat aku mau keluar dari busway, para penumpang yang bersiap naik di terminal Karet tidak mau menunggu penumpang yang turun untuk keluar terlebih dahulu. Mereka dengan semangatnya mendorong masuk tanpa peduli penumpang yang akan keluar. Beruntung aku bisa keluar dengan cepat, tetapi tidak bagi seorang wanita muda yang memakai hak tinggi. Pada saat dia melangkah keluar, dia didorong begitu saja oleh orang-orang yang masuk busway tanpa sedikitpun rasa empati dari mereka. Wanita muda itu hampir terjatuh ke dalam celah antar busway dan terminal. Kakinya yang satu sudah terperosok ke dalam celah. Kalau dia tidak segera mengeluarkan kakinya dengan segera, dia pasti terjatuh ke aspal atau terseret busway.  Kemungkinan cedera berat bahkan tewas sangat mungkin terjadi. Teriakannya akhirnya menyadarkan orang kalau dia berada dalam keadaan bahaya. Saat itu aku langsung bertanya dalam hati, apakah sudah sebegitu parahnya empati orang di Jakarta terhadap orang lain?

Jujur saja, aku tidak pernah berpikir kalau kejadian yang menimpa wanita berhak tinggi itu akan menimpaku sampai suatu ketika aku mengalaminya. Seperti kejadian dengan wanita yang memakai sepatu hak tinggi, hujan juga sedang mengguyur Jakarta saat itu. Seperti biasa aku naik dari terminal busway Polda dan turun di terminal busway Karet. Terminal busway Karet disesaki para penumpang yang sudah tidak sabar untuk segera pulang. Para penumpang yang sedang ngantri ini memaksa masuk tanpa menunggu penumpang yang keluar. Petugas busway sepertinya tidak mau jadi korban juga memilih mundur. Kali ini tidak seberuntung sebelumnya. Aku yang sudah keluar dari busway dan berdiri persis di pintu masuk didorong begitu saja sampai hampir terjatuh terjengkang. Insting survivalku yang sangat kuat karena terbiasa pergi ke daerah-daerah berbahaya di dunia membuatku berbuat jauh lebih kasar. Dengan santainya aku mendorong balik dan melompat sambil menjatuhkan badan ke kerumunan orang yang sedang asyik dorong mendorong tersebut. Beberapa jeritan kesakitan terdengar dari kerumunan orang yang tertimpa oleh tubuhku yang lumayan gede, tetapi peduli amat!!! Soalnya mereka juga tidak peduli kepada keselamatan orang lain.

Selama ini aku pergi ke berbagai negara dan kota-kota berbahaya di dunia hanya untuk memuaskan adrenalinku.  Sepertinya aku tak perlu pergi jauh lagi, Jakarta cukup layak menjadi tempat yang menarik untuk orang-orang pencinta “adrenalin rush” karena setiap hari hidup di kota ini bisa menjadi perjuangan hidup dan mati……:-)

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting