Suatu Malam Di Adelaide…..Australia


Australia awalnya bukanlah tujuan petualanganku yang utama, tetapi sekitar setahun lalu aku melakukan rencana perjalanan mengelilingi benua ini lewat darat yang tentunya sangat menantang. Kawasan gurun Australia yang tak berpenghuni menyimpan keindahan alam yang dahsyat. Sayang rencana itu belum sempat kulaksanakan karena keburu menikah….:-p. Aku malah “terjebak” dalam sebuah perjalanan kerja ke kota Adelaide, salah satu kota yang paling selatan di Australia. Walaupun cuma sebuah perjalanan kerja tentunya aku selalu punya waktu untuk jalan-jalan keliling melihat-lihat kota ini dan mengalami hal-hal yang sedikit ekstrim.

Pantai Glenelg, Adelaide

Seperti kota-kota medium lainnya di Australia, Adelaide adalah kota yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk kota layaknya kota besar seperti Jakarta dan Sidney. Kota ini memang cocok untuk orang ingin mencari ketenangan. Tingkat kriminal kota ini juga paling rendah. Hal yang sedikit menggangguku adalah kota ini terlalu cepat mati. Pukul 6 sore, jalanan sudah sepi. Orang-orang lebih memilih untuk beristirahat di rumah. Sial bagiku yang baru saja tiba di Adelaide dari Jakarta. Adelaide yang punya waktu 3.5 jam lebih awal dari Jakarta membuatku sedikit masalah dalam urusan makan. Ketika sebagian besar restoran sudah tutup pada pukul 6 sore, aku belum lapar sama sekali. Hotelku memang berada di kawasan jalan King William yang merupakan kawasan downtown tapi semua restoran disana juga sudah tutup setelah pukul 6 sore. Restoran yang terakhir yang buka adalah sebuah restoran makanan China tetapi aku datang ketika restoran sudah mau tutup sekitar pukul 8 malam.

Aku tak punya pilihan lain selain pergi ke kawasan Pecinan sekitar kurang lebih 500 meter dari hotelku. Disana, restoran-restoran buka sampai tengah malam. Angin kencang dan udara dingin menusuk ketika aku keluar dari hotel menjelang pukul 9: 30 malam. Ada sedikit keraguan soal keamanan karena jalanan sudah sangat sepi tapi aku rasa kota ini jauh lebih aman dari Jakarta atau kota-kota Afrika yang pernah kumasuki. Jadi, aku percaya diri saja ketika berjalan kaki melewati salah satu kawasan yang cukup gelap di Victoria Square. Memang benar, tak ada masalah sama sekali ketika aku tiba di salah satu restoran China dan menikmati makan malamku.

Pulang dari makan malam, aku memakai jalur yang sama untuk balik ke hotel. Kali ini rupanya, perjalanan tak seindah sebelumnya. Tepat di kawasan paling gelap di Victoria Square, seorang bule Australia setengah baya berpas-pasan denganku di jalan. Dia memandangiku tanpa alasan yang jelas. Aku juga memandanginya dengan pikiran mungkin orang ini mengenalku. Tiba-tiba orang ini jadi ngamuk-ngamuk tanpa alasan yang jelas. Kata-kata yang kasar dan kotor keluar dari mulutnya.  Aku tak tahu kenapa orang itu tiba-tiba memaki-maki. Aku hanya tertawa menanggapinya walaupun tanganku cukup gatal untuk menampolnya. Masalahnya aku bukan berada di Afrika dimana orang bisa main hajar…:-p. Di Australia, siapa yang mukul duluan dia yang dipenjara. Tak mungkin aku menaboknya duluan karena kawasan ini dipasang kamera pengawas. Seperti nenek-nenek cerewet, orang bule ini juga hanya teriak-teriak doang karena dia juga tahu kalau dia nabok duluan dia pasti yang kena. Jadilah dia cuma jadi “anjing yang menggonggong”. Parahnya dia terus “menggonggong” walaupun aku berjalan menjauh dari dia. Dasar orang sakit!

Terus terang inilah pertama kalinya aku tidak melawan ketika dimaki-maki. Watakku memang jauh berubah sejak aku menikah dan punya anak. Perilaku agresif yang dulu sering kutunjukkan dalam perjalananku di berbagai daerah berbahaya sudah jauh berkurang.  Mungkin lain ceritanya pada saat aku masih single dan belum punya anak. Orang ini pasti “kukerjai” sampai dia benar-benar emosi dan memukul duluan. Setelah itu tentu saja aku punya kesempatan untuk memukulinya sampai bonyok. Tetapi, sekarang aku sepertinya menjadi orang yang lebih cinta damai….:-p.

Orang yang mengajakku ribut (baju kotak2 merah putih) sedang mengejek para pengkotbah di Rundle Mall

Aku sempat bertanya kepada beberapa teman yang tinggal di Australia tentang perilaku agresif orang Australia di Adelaide terhadap pendatang. Semua temanku orang Indonesia yang tinggal disana mengaku pernah mengalaminya walaupun tidak sering terjadi. Kebanyakan pelakunya adalah orang-orang yang lagi mabok. Orang yang menggangguku mungkin tidak sedang mabok saat itu. Aku lebih mendefinisikannya sebagai orang yang putus asa dan pengangguran…:-p. Aku bisa mengatakan begitu karena keesokan harinya aku melihat orang ini sedang “memaki-maki” beberapa pengkotbah Kristen yang sedang mengabarkan tentang akhir zaman di kawasan Rundle Mall yang ramai dengan pengunjung. Dia dan beberapa orang skeptis dan agnostic yang lain berteriak-teriak memaki-maki si pengkotbah. Orang ini masih memakai baju yang dipakainya tadi malam yaitu kemeja kotak-kotak putih merah lengan pendek. Pria setengah baya ini menjadi sedikit kontras dengan para penganut skeptis dan agnostic lainnya yang rata-rata masih berumur belasan dan dua puluhan tahun. Dia sudah terlalu tua untuk teriak-teriak kayak orang gila. Mungkin sebuah kebahagian tersendiri baginya bisa memaki-maki orang. Yup, bahkan di kota setenang Adelaide tetap saja ada orang gila yang putus asa…:-p.

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi
Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting