Jakarta “Kota Paling Berbahaya” Di Dunia


Kalau orang ditanya soal kota paling berbahaya di dunia, hampir semua orang akan mengindetikkan kota-kota di dalam sebuah negara perang atau konflik. Aku tak bisa tak setuju dengan pendapat tersebut.  Aku sendiri memang pernah pergi  ke negara-negara konflik dan berbahaya di dunia seperti  Irak, Israel, Palestina, Kongo, Rwanda, Kenya, Nepal, dan beberapa tempat lainnya. Diperiksa polisi dan tentara adalah makanan sehari-hari ketika melakukan perjalanan di negara-negara tersebut. Aku merasa cukup beruntung karena  tak sekalipun aku mendapatkan masalah yang berarti kecuali diserang oleh anak-anak jalanan di Nairobi dan Mombasa, sedikit “upaya” penjambretan di perbatasan Kongo-Rwanda dan Nairobi, serta sedikit insiden pengeroyokan di perbatasan Nepal-Tibet. Aku menganggap itu kecil saja dan tak berarti apa-apa, tetapi mungkin tidak bagi orang lain.

Kontrasnya Jakarta dari Bekas Kamar Kosku

Karena kegemaranku masuk daerah-daerah konflik, seorang teman traveler dari Hungaria hanya bisa geleng-geleng kepala melihat hobiku yang sedikit nyentrik ini. Suatu saat ketika  kami lagi nongkrong bareng di sebuah kafe di Kairo, dia bilang begini kepadaku, “If nothing can stop you a bullet will.” Kata-katanya terus terang membuatku sedikit terkesiap juga, apalagi saat itu aku sudah berencana pergi ke Kenya yang sedang dilanda kerusahan etnis (tahun 2008). Sepanjang perjalanan Afrikaku, kata-kata temanku ini selalu terngiang di kepalaku karena mungkin saja aku tertembak di salah satu negara yang kukunjungi. Syukurlah, ucapannya tak terbukti. Insiden yang terjadi cuma insiden skala kecil seperti yang kuceritakan di awal-awal tulisan ini.

Setelah perjalananku di Afrika, aku pun kembali ke Jakarta sekitar pertengahan tahun 2008 untuk menetap. Aku memang memutuskan untuk pulang ke Indonesia daripada kerja dan tinggal di negara lain karena mau “nggoleki bojo”. Cukuplah aku beberapa tahun menikmati kehidupan di luar Indonesia. Aku merasa perlu untuk mencari istri dan menikah….:-p.

Di awal-awal kedatanganku di Jakarta, aku memang cukup terkejut karena sekarang Jakarta dipenuhi oleh motor-motor bebek yang bersileweran kayak setan…..!!!!!! Aku benar-benar seperti orang kampung yang baru masuk Jakarta …:-p. Ada yang memang sedikit aneh dengan kota Jakarta ini. Semakin maju sebuah kota biasanya motor akan semakin berkurang. Nah ini beda, semakin maju kota ini (atau mundur?) motor semakin banyak. Kota Jakarta seperti hendak menyaingi Hanoi soal banyak-banyakan motor. Kegilaan para pengendara sepeda motor juga sudah hampir sama dengan pengendara motor di Hanoi.

Baru beberapa bulan disini aku langsung mengalami “teror” yang cukup bikin adrenalinku mengalir deras. Aku hampir ditabrak motor 3 kali dan mobil 3 kali hanya dalam waktu tiga bulan. Untuk menyeberang jalan saja, perlu gerakan akrobatik supaya tidak ditabrak. Maklum saja, walaupun sudah diberi tanda “STOP” dan lampur merah menyala, para pengendara kendaraan baik motor dan mobil tetap saja menyerobot. Anehnya, salah satu mobil yang hampir menabrakku adalah type Mercy S Class yang mengabaikan begitu aja tanda “STOP”. Tingkat intelektualitas dan kemapanan tidak mempengaruhi kesopanan orang berkendaraan sepertinya. Orang di Jakarta semaunya banget!!! Kaya tapi “ndeso” abis!!!! Hal tersebut membuatku lebih berhati-hati jalan kaki di Jakarta. Bukan karena perampok atau gerilyawan yang akan mengancamku, tetapi kendaraan bermotor. Sepertinya kendaraan bermotor di jakarta lebih berbahaya dari peluru dan roket di Irak……:-p

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi
Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting