“Backpacker” Jadul


Sejak dulu aku memang suka jalan-jalan. Tapi,  aku tak pernah suka cuma jalan-jalan biasa seperti kemping ataupun jalan  “haha-hihi” doang. Aku lebih senang melakukan jalan-jalan yang menantang dan juga tak jauh dari bahaya. Sselain itu, aku paling senang kalau bisa jalan-jalan gratis…:-p. Terus terang, jaman kuliah bukanlah jaman dimana aku punya uang untuk jalan-jalan. Berbagai cara kulakukan untuk bisa jalan-jalan terutama mendaki gunung dengan biaya yang terbatas. Sedikit memalukan memang ketika aku sampai ngibulin orang tua minta duit untuk beli buku, padahal uangnya kugunakan untuk jalan-jalan dan mendaki gunung.

Awal tahun 90-an, para petualang lokal Indonesia sangat jarang mencari penginapan atau guesthouse kalau pergi bertualang. Aku tak berbeda jauh dengan mereka.  Menginap di masjid atau rumah penduduk adalah pilihan favorit kami karena penginapan walaupun hanya guesthouse adalah sebuah barang mewah untuk mahasiswa berkantong tipis seperti kami saat itu.  Membeli buku panduan jalan-jalan seperti yang dilakukan oleh para “backpacker” masa kini tentu saja bukan pilihan bagi kami. Bisa nggak makan sebulan urusannya…..:-p. Selain masjid dan rumah penduduk, aku juga pernah tidur di pasar dan juga emperan. Bahkan ada teman yang memanfaatkan kantor polisi untuk tidur. Mandi dan buang air dipikirin belakangan karena di terminal bus pasti ada toilet dan kamar mandi.

Untuk mengakali pengeluaran dalam tranportasi, aku selalu berusaha naik truk atau naik mobil pribadi yang mau “ditebengin”. Dengan modal mengacungkan jempol di pinggir jalan, selalu saja orang baik hati yang mau memberiku tumpangan. Lumayan kan bisa naik mobil gratisan….:-).   da juga beberapa teman yang suka naik kereta api tanpa membeli tiket. Aku pernah melakukannya juga, tetapi karena jalan malam aku terlalu ngantuk untuk main kucing-kucingan dengan kondektur kereta sehingga aku bayar saja tiket dengan beribu alasan yang masuk akal supaya tidak didenda.

Makanan adalah salah satu pengeluaran terbesar dalam traveling, tetapi aku tak pernah kurang akal untuk bisa makan gratis. Walaupun tak separah seorang temanku yang suka mengais-ngais makanan dari teman seperjalanan, aku bisa lebih menghemat uang dengan “cara yang sedikit lebih terhormat”. Menginap di rumah seorang teman adalah salah satu cara yang paling favorit bagiku. Nah, pernah suatu kali karena saking lamanya menginap di rumah salah seorang teman, ibunya jadi “tengsin” melihatku. Aku pernah mendengar ibu temanku ini bertanya seperti ini kepada anaknya, “Kapan temanmu itu pulang?” Ibunya mungkin sudah tak sabaran aku segera minggat, apalagi makanku cukup banyak…..:-]]. Apa boleh buat, karena tak punya uang aku harus pasang tampang “rai gedek” alias muka tembok. Kalau kuingat kejadian itu, aku selalu tersenyum. Maklum, anak kos…..

Salah satu hal “konyol” yang pernah kulakukan untuk jalan-jalan gratis adalah ikut latihan integrasi dengan AKABRI tahun 1996 yang diadakan di Lombok. Untuk pergi ke Lombok dengan biaya sendiri jelas-jelas aku tak punya uang. Nah, dengan ikut latihan aku bisa ke Lombok gratis dan malah diberi uang saku. Semua biaya makan, minum, dan tempat tinggal walaupun di barak ditanggung oleh pemerintah. Sayangnya, aku lupa bahwa selama ikut latihan aku hidup dibawah hukum militer yang ketat. Untuk jalan-jalan saja, kami harus berkelompok dan terkoordinir yang dalam istilah militernya disebut “pesiar”. Cita-cita awalku yang mulia untuk melihat Lombok harus kulupakan, tetapi interaksiku dengan dengan orang-orang Sasak di pedalaman Lombok Timur sana memperkaya pengalamanku. Aku tak akan pernah tahu kalau budaya orang Sasak untuk menikah itu cukup unik jika aku tak pernah hidup bersama mereka. Dalam adat perkawinan suku Sasak, calon pengantin pria harus berani menculik gadisnya dari rumah orang tuanya dengan resiko digebukin sampai bonyok jika ketahuan. What a difficult way to get married huh…….

Kalau dipikir-pikir, aku tak pernah tahu kalau apa yang kulakukan dulu itu adalah sebuah petualangan yang hebat. Aku dan teman-temanku memang suka jalan dengan “cara-cara yang sedikit ekstrim”. Bukan kami mau “sok jagoan” atau “show off”, tetapi karena kami punya uang yang terbatas dan cara beginilah yang kami tahu dalam bertraveling. Tak pernah satupun dari kami yang mengaku sebagai “backpacker”, kata yang sedang populer saat ini. Mengenal kata itu juga kami tidak. Mungkin kami memang bukan backpacker, hanya “bocah-bocah gila” yang doyan cari penyakit demi sebuah kesenangan yang disebut jalan-jalan. Semoga tulisan ini bisa sedikit memberi pencerahan kepada pencinta jalan-jalan yang tidak punya duit seperti jaman kami kuliah dulu……:-).

Cerita Perjalananku Lainnya Di Indonesia:

“Kutukan” Bali

Pengalaman “Gila” Di Kapal Perang

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi