Petra Yordania, Perjalanan Ke Ribuan Tahun Yang Silam….


Aku pernah tiga kali keYordania dan punya kesempatan satu kali pergi ke Petra, di musim dingin yang menenggelamkan Amman (ibukota Yordania) dengan salju setinggi lutut tahun 2008 yang lalu. Perjalanan  dari Amman ke Petra menjadi sangat sulit karena ketiadaan transportasi. Beruntunglah aku dan beberapa teman traveler dari beberapa negara berhasil melakukan “lobi-lobi”  dengan seorang “penguasa terminal” di terminal bus Utara kota  Amman sehingga dia pun menyuruh salah satu supir bus jurusan Amman-Petra untuk  masuk hari itu. 

Bus yang tadinya cuma mau ngangkut kami malah dipenuhi oleh orang-orang lokal. Kami tak punya masalah untuk itu karena bus akan kosong jika hanya kami bertujuh yang jadi  penumpang, aku sendiri dan teman jalanku dari Irlandia bernama Eouin serta 5 orang kumpulan traveler dari berbagai negara. Walaupun bersyukur mendapatkan bus di saat sulit seperti itu, kami sedikit jengkel karena supir  “merampok kami dengan menaikkan hari 1 dinnar (sekitar 18000 rupiah) dari harga normal 2.5 dinnar. 

Sekita pukul 4 sore, bus kami tiba di Wadi Musa, sebuah kota yang hanya berjarak sekitar 2 km dari Petra. Di kota ini kami berpisah, aku dan Eouin menginap di Valentina Inn dan kelima yang lainnya menginap di penginapan yang lain. Kami tak salah memilih penginapan karena Valentina Inn yang dimiliki oleh seorang wanita Italia bernama Valentina dan suaminya yang asli Yordania adalah penginapan yang sangat friendly. Aku dan Eouin sangat menikmati malam kami bersama disana. Selain itu kami juga bertemu dengan traveler-traveler kelas kakap seperti Jean Paul yang menjadi wartawan sebuah majalah di Luxembourg dan Roberto, seorang petualang Italia yang pernah lama tinggal di Bali sehingga dia selalu ngomong pakai bahasa Indonesia denganku. 

Keesokan harinya, aku dan Eouin bangun pagi  sekali untuk mengejar transportasi gratis dari “Valentina”  yang setiap pukul 6 pagi mengantar penghuni penginapan ke Petra. Musim dingin yang beku membuat traveler yang menginap di “Valetina” memilih meringkuk di balik selimut  sehingga  cuma aku dan Eouin yang memanfaatkan transportasi gratis tersebut hari itu. Sesampai di Petra, aku dan Eouin sempat berdebat sedikit soal tiket masuk yang akan kami beli. Tiket masuk  cukup mahal seharga 50 dollar untuk tiket 1 hari, sedangkan untuk 2 hari seharga $ 75.  Setelah menimbang-nimbang kami pun hanya membeli tiket untuk 1 hari karena kami percaya bisa  menuntaskan seluruh trek di Petra dalam waktu sehari.

Jalan Menuju Petra

 

Sebelum melanjutkan soal cerita perjalananku, aku mau sedikit bercerita tentang  sejarah Petra yang dihuni pertama kali oleh orang-orang Nabatea. Walaupun penggemar  sejarah kuno, aku tak tahu banyak soal suku ini dan baru mendengarnya ketika aku berada di dekat-dekat rombongan turis yang dipandu oleh pemandu wisata. Pada intinya, kota ini dibangun sekitar abad ke-6 sebelum Maasehi oleh orang Nabatea,  salah satu suku yang mendiami Yordania kuno. Mereka menguasai jalur perdagangan di kawasan gurun ini setelah Kerajaan Israel dan Yudea kuno penguasa kawasan ini sebelumnya dikalahkan oleh kerajaan Babel pimpinan Raja Nebudkadnezer. Singkat cerita, orang-orang Nabatea berhasil menjadikan Petra menjadi salah satu pusat perdagangan di kawasan gurun ini sampai akhirnya ditaklukkan oleh  Romawi pada abad awal abad ke-2 setelah Masehi. Kota Petra mengalami kemunduran pada jaman Romawi karena perdangangan lebih banyak dilakukan lewat jalur laut. Kombinasi antara kemunduran ekonomi dan gempat dahsyat yang menghancurkan sistem suplai air ke Petra membuat kota ini kemudian ditinggalkan oleh penduduknya.

Al Siq

 

Satu hal yang menarik dari Petra ini adalah jalan masuk menuju kota ini yang harus melalui celah sempit diantara dinding-dinding batu yang dalam bahasa Arab disebut sebagai Al-Sig. Celah ini dibentuk oleh proses geologi. Di sepanjang celah ini ada saluran air yang dibuat oleh kaum Nabatea ribuan tahun yang lalu untuk menjamin supply air ke Petra. Oranng Nabatea adalah orang-orang yang sangat maju pada jamannya.  

 Setelah ekitar 45 menit perjalanan melewati “Al Siq”, kamipun tiba di sebuah bangunan yang paling terkenal di Petra, yaitu “Al Khazneh” atau dalam bahasa Inggrisnya disebut sebagai “The Treasury”. Al-Khazneh adalah sebuah bangunan ini dipahat langsung dari dinding batu sehingga tak perlu struktur lain untuk mendukungnya. Bangunan ini sangat terkenal setelah menjadi lokasi syuting film “Indiana Jones and The  Last Crusade”. Di sekitar Al-Khazneh, tukang onta sampai tukang sado dan penjual suvenir bertaburan dimana-mana. Kawasan ini memang sudah sangat turistik karena perjalanan yang dilakukan oleh turis-turis yang dipandu oleh tour operator  cuma sampai sini. Wajar sekali tempat ini menjadi pasar dadakan. Aku dan Eouin memilih tak berlama-lama disini dan kembali berjalan menyusuri jalan-jalan di Petra. 

 

Al Khazneh (The Treasury) Yang Terkenal dalam film Indian Jones and Last Crusader

Ada salah satu ciri khas yang paling sering kulihat jika sebuah kota atau negara pernah dikuasai oleh Kerajaan Romawi, yaitu adanya teater. Lokasi teater di Petra berada tak jauh dari Al Khazneh. Seperti bangunan lainnya di Petra, teater Romawi ini juga dipahat langsung dari dinding batu.

 

Theater Romawi

Pemandangan yang paling umum di Petra adalah kuburan-kuburan kuno (Tomb) yang juga dipahat langsung dari batu. Salah satu kuburan kuno yang terkenal disini adalah Royal Tomb. Kuburan ini disebut sebagai Royal Tomb karena bentuknya yang lebih besar dan megah dari kuburan-kuburan kuno lainnya di Petra. Anehnya, sampai sekarang tak satupun yang tahu pasti untuk siapa Royal Tomb ini dibuat. Beberapa pemandu turis yang kudengar menceritakan kepada turis-turis yang dipandunya mengatakan  Royal Tomb ini dibuat untuk kaum bangsawan dan orang-orang kaya Nabatea. Hm, turis-turis hanya mengangguk-angguk bego saja mengiyain si pemandu…..:-p. Selain Royal Tomb, Urn Tomb adalah kuburan kuno lain yang paling sering dikunjungi oleh turis. Alasannya mungkin karena bagian paling atas kuburan ini diubah menjadi gereja oleh orang-orang Kristen yang menguasai kawasan ini di sekitar abad keempat.

Urn Tomb

Kaki kami akhirnya membawa kami ke pintu gerbang kota Petra Kuno yang dinamakan “The Hadrien Gate”. Dibalik gerbang inilah urat nadi perdagangan kota Petra kuno berdenyut. Tak jauh dari “The Hadrien Gate”, ada kuil penyembahan yang disebut sebagai “The Great Temple of Petra”. Melihat ukurannya yang cukup luas, aku bisa membayangkan bahwa kuil ini dulunya pasti sangat megah. Pengaruh Romawi sangat terasa di kawasan ini, terlihat dari dibangunnya jalan Utara-Selatan khas Romawi (Cardo Maximus) yang menuju “The Hadrein Gate”. Jalan Utara-Selatan ini memang selalu dibangun oleh orang-orang Romawi di kota-kota dan juga kamp-kamp militer mereka.

The Hadrien Gate

Sebelum Petra dikuasi oleh kaum Muslim, tempat ini pernah juga dikuasai oleh Crusaders (prajurit Kristen masa perang salib). Mereka bahkan sempat membangun benteng di atas puncak sebuah bukit. Aku dan Eouin sepakat untuk mendaki keatas bukit dan melihat suasana benteng yang dibangun oleh para Crusaders. Benteng ini tak lebih daripada sekedar puing-puing. Kawasan Petra setelah Al Khazneh bisa terlihat jelas dari benteng ini. Pastinya para prajurit yang berada di benteng ini dengan leluasa mendeteksi musuh yang berusaha menyerang benteng. Setengah jam kami berada di atas benteng sambil menikmati semilir angin. Aku dan Eouin kembali turun untuk menikmati makan siang disebuah restoran yang persis terletak di bawah benteng. Dalam perjalan turun, kami bertemu  Roberto yang sedang dalam perjalanan naik. Perut kami yang lapar membuat kami hanya berbasa-basi sebentar saja dengan dia.

Reruntuhan Benteng Crusader

Reruntuhan The Great Temple Of Petra dari atas bukit Benteng Crusader

Reruntuhan The Great Temple Of Petra dari atas bukit Benteng Crusader

Perjalanan menyusuri Petra kami lanjutkan kembali setelah menikmati sandwich yang super duper mahal dan sebatang coklat. Kami tak punya pilihan selain membeli dengan mulut ngedumel. Petra memang sudah sangat komersial. Di sekitar tempat ini kami juga bertemu dengan beberapa rombongan traveler yang bareng naik bus dari Amman kemarin. Jadilah kami berangkat bareng menuju “El Deir” atau  “The Monastery”  yang menjadi tujuan terakhir kami di Petra. Perjalanan kesini memang sedikit sulit karena harus mendaki tebing-tebing terjal selama satu setengah jam. Tapi, perjalanan ini layak dicoba karena banyak pemandangan spektakuler di sepanjang perjalanan. Batu-batuan dengan bentuk yang unik membuatku selalu berhenti untuk mengambil foto.

Bentuk Batuan Menuju Monastery

“El Deir” atau “The Monastery” adalah satu-satunya bangunan yang ada kawasan ini dan juga adalah bangunan terbesar yang pernah dipahat diatas batu di Petra. Bangunan yang megah ini dibuat di abad pertama. Di kawasan perbukitan yang tak jauh dari “El Deir”, ada pos tentara Yordania. Dari salah satu bukit, perbatasan Yordania-Israel yang berupa hamparan gurun pasir yang luas bisa  terlihat. Hal yang menarik lainnya disini adalah adanya “Sacrafice Altar”. Sepertinya orang Nabatea kuno memang masih menganut agama yang mengorbankan manusia. Ini ciri agama-agama kuno penyembah Dewa Baal yang salah satu ritualnya mempersembahkan korban manusia. Sebagai penduduk asli daerah Kanaan (Israel, Palestina, dan Yordania sekitarnya), tak heran kalau orang Nabatea salah satu penganutnya.

El Deir (The Monastery)

Pos Tentara Yordania

Aku dan Eouin tak sengaja bertemu dengan teman kami satu penginapan lainnya, Jean Paul di “El Deir”. Dia menganjurkan kami turun sebelum matahari terbenam karena kawasan ini akan menjadi sangat dingin. Kami memang tak membawa perlengkapan yang cukup untuk menahan hawa musim dingin di Petra.  Aku, Jean Paul dan Eouin lalu turun bareng setelah hampir sejam berada disini.  Ada kepuasan tersendiri rasanya bisa  menyusuri Petra sampai ke “El Deir” dalam sehari yang kebanyakan orang melakukannya dalam dua hari. Aku dan Eouin merasa perjalanan yang kami lakukan di Petra seperti napak tilas perjalanan para pedagang di kawasan ini ribuan tahun yang silam. Gempa dan Erosi memang menggerus Petra sedikit demi sedikit, tetapi tempat ini masih menunjukkan keajaibannya. Semoga Petra masih bisa bertahan ke ribuan tahun ke depan. Semoga saja….

Tulisanku yang lain soal Yordania:
Ada Preman Terminal Juga Di Yordania

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting