Travel Di Negara Konflik Dan Bertahan Hidup, Part 2


Postingan ini adalah sambungan postingan sebelumnya Travel Di Negara Konflik Dan Bertahan Hidup, Part 1

4. Faksi-Faksi Yang Ada Dalam Negara Perang & Hukum Yang Berlaku

Sebelum aku masuk ke Irak, aku hanya tahu bahwa tentara sekutu Amerika berperang melawan gerilyawan Irak karena memang berita di TV dan di koran memang hanya bicara tentang itu. Maklumlah, media sering dijadikan alat propaganda sehingga sering beritanya bersifat sepihak. Berbeda sekali cerita yang kudengar selama aku berada di Irak tahun 2007. Banyak sekali faksi atau kelompok bersenjata yang terlibat pertempuran dengan Amerika dan sekutunya tetapi juga bertarung dengan sesama mereka. Tidak sedikit juga faksi yang bekerja sama dengan Amerika tergantung perjanjian yang mereka buat. Biasanya faksi-faksi yang punya tujuan politik dibentuk atas dasar persamaan agama, suku atau klan. Setiap faksi membawa agendanya masing-masing sesuai dengan ideology yang mereka anut.

Konya, Irak Utara 2007

Selain faksi-faksi bersenjata yang bertujuan politis, ada juga kelompok-kelompok bersenjata yang punya tujuan yang jauh berbeda. Kelompok seperti ini terdiri dari para kriminal yang memanfaatkan lemahnya hukum di sebuah negara perang.  Kelompok bersenjata yang oportunis seperti ini memang sangat berbahaya karena mereka melakukan penculikan dan juga pembunuhan demi uang. Target mereka bisa beragam, mulai dari orang kaya sampai orang-orang asing yang kebetulan lewat.

Dengan lemahnya hukum di sebuah negara yang berperang, faksi-faksi yang bertarung dan juga kelompok-kelompok bersenjata yang oportunis membuat hukum sendiri sesuai dengan selera mereka. Aku bisa katakan hukum yang berlaku di sebuah negara yang sedang perang adalah hukum rimba karena siapa kuat dia yang berkuasa dan siapa bersenjata dia yang punya hukum. Dengan adanya beragam “hukum rimba” di dalam kelompok-kelompok bersenjata, istilah main hakim sendiri menjadi sangat populer di negara-negara konflik. Kebanyakan yang menjadi korban adalah rakyat sipil yang tak bersenjata. Siapa saja bisa jadi korban. Penculikan, perkosaan, perampokan, dan pembunuhan terhadap penduduk sipil adalah hal biadab yang paling sering terjadi di sebuah negara konflik akibat “hukum rimba” tadi. So, masih berani mau pergi?

5.  In the good place at the good time.

Kalau memang berani masuk ke negara perang berarti sudah tahu resikonya. Seperti yang kusebutkan sebelumnya dua resiko terbesar ketika travel di negara konflik adalah diculik atau dibunuh (terbunuh). Terbunuh disini bisa terjadi akibat dibunuh orang sengaja tetapi juga bisa lagi sial aja,  terkena serangan bom atau peluru nyasar. Pengawalku di Irak selalu berkata begini “Don’t ever trapped in the wrong place at the wrong time.” Masalahnya aku dan pengawalku juga tidak pernah tahu kapan dan dimana kami berada dalam kondisi “in the wrong place at the wrong time”. Artinya, di dalam sebuah negara konflik hal ini bisa terjadi kapan saja, dimana saja dan menimpa siapa saja. So, bersiaplah untuk itu……

6. Mengenal Budaya Di Negara Konflik.

Mungkin sedikit mustahil rasanya masuk ke sebuah negara konflik dengan hukum yang tidak jelas, tetapi tetap saja ada orang yang cukup nekad melakukannya. Alasannya seperti yang kusebutkan di point no 2 bahwa tak semua bagian negara yang dilanda konflik itu wilayah yang berbahaya dan diatur oleh “hukum rimba” tadi. Mungkin ada kesepakatan antara pemerintah dan pemberontak seperti yang terjadi di Nepal di masa perang sipil.  Pihak komunis dan pemerintah punya kesepakatan untuk tidak mengganggu turis walaupun kenyaataannya setiap orang yang lewat dalam wilayah komunis diminta $25 sebagai “sumbangan sukarela”.  Selain itu, beberapa wilayah diatur oleh hukum-hukum suku yang mendiami wilayah tersebut ribuan tahun sehingga faksi-faksi yang bertempur tak berani untuk melanggar hukum tersebut. Hal seperti ini banyak terjadi di wilayah-wilayah Afghanistan. Beberapa orang yang kuceritakan adalah orang-orang yang berani tetapi juga memahami budaya dan hukum setempat selama keberadaan mereka di Afghanistan.

Rory Stewart, seorang bekas tentara Inggris dan juga diplomat menulis buku “The places in Between”. Buku ini tentang perjalanannya menyusuri Afganistan dengan jalan kaki. Dia menyusuri daerah-daerah berbahaya di Afganistan dengan dikawal dua orang tentara Afghanistan yang lebih sering berusaha menguras isi kantongnya. Dia bisa membuktikan dia bisa keluar hidup-hidup walaupun travel di negara konflik seperti Afghanistan.

Marcus Luttrell seorang anggota Navy Seal yang disergap Taliban di pegunungan Hindu Kush. Dia menulis sebuah buku yang berjudul  “Lonely Survivor”. Buku ini adalah tentang pengalamannya diselamatkan oleh orang-orang dari suku Pashtun yang terkenal mempunyai kode etik Lokhay Warkaway atau Pasthunwali. Salah satu isi kode etik mereka adalah memberi penampungan dan tempat tinggal kepada orang-orang yang membutuhkan. Bahkan anggota Taliban sendiri terutama yang dari Suku Pashtun tak berani membunuh Marcus karena satu kampung Pasthun akan memepertahankan dia dengan nyawa mereka. Prinsip keramahan ini juga dipegang oleh suku pengelanan Bedouin yang sering mengajakku minum teh saat aku berada di Sinai Mesir. Kode etik suku Bedouin ini dikenal dengan nama Diyafa.

Seorang petualang dan juga pionir pembangunan sekolah wanita di Afghanistan, Greg Mortenson menulis sebuah buku yang berjudul “Three cups of tea”. Buku ini berkisah tentang pergulatannya membangun sekolah di kampung-kampung suku Balti dan juga tentang keramahan orang-orang Balti ini. Salah satu kode etik suku Balti yang diperkenalkan oleh Greg adalah tentang keramahannnya, “The first time you share tea with a Balti, you are a stranger. The second time you take tea, you are an honored guest. The third time you share a cup of tea, you become family…”

Mengenal budaya suatu suku atau bangsa ketika traveling adalah sesuatu yang sangat penting apalagi travel di negara konflik. Taruhannya bisa nyawa melayang. Aku selalu belajar bahasa ke negara tempat aku pergi, paling tidak aku harus tahu beberapa kata untuk berkomunikasi. Hal ini bisa disamakan dengan menghargai budaya setempat. Orang-orang yang kusebutkan diatas adalah orang-orang yang mengenal budaya suku-suku di Afghan sehingga mereka bisa bertahan hidup. Sebelum aku pergi ke Irak karena pekerjaan, aku telah lebih dahulu mencari informasi tentang kehidupan orang-orang Irak dan budayanya. Dari situ aku mengetahui bahwa orang-orang Irak tidak “menganggu orang Indonesia karena Indonesia tak punya kepentingan disana dan juga Indonesia adalah mayoritas beragama Muslim sehingga ada sebuah kedekatan. Kalau tadi aku berasal dari Inggris atau Amerika, mungkin aku perlu khawatir karena aku pasti jadi target.

Goma, “Kota Paling Aman” Di Kongo

Asumsi yang kupakai di Irak dan negara-negara Timur Tengah tidak bisa kupakai ketika masuk negara-negara konflik di Afrika. Budaya di Afrika berbeda sekali dengan budaya di Timur Tengah. Budaya disini jauh lebih keras dan tak punya kode etik. Tak seperti di Irak yang mungkin masih mempertimbangkan orang Indonesia, di Afrika semua orang bisa jadi korban baik yang berkulit putih, merah, kuning, hijau maupun hitam. Mereka tak perduli dengan kulit warna seseorang, yang penting kalau kelihatan punya duit pasti jadi sasaran. Di Afrika, jangankan perampok, polisi saja ikutan malak….:-p. Apa yang kulakukan tak perlu dicontoh karena aku hanya modal nekad saja masuk ke Goma di Kongo atau Kenya yang sedang dilanda kerusuhan. Terus terang, aku tak tahu pendekatan apa yang harus kulakukan untuk bisa tetap aman. Kenyataannya, selama berada di kedua negara ini aku hampir dirampok berkali-kali. Beruntung saja aku tak benar-benar kena rampok.

7. Common Sense (Akal Sehat)

Hal terakhir yang aku mau katakan soal travel di negara konflik adalah soal common sense atau akal sehat. Ketika aku travel di negara-negara ini, aku sudah tahu konsekuensi yang akan aku hadapi yaitu diculik, dirampok, atau dibunuh. Artinya aku tak perlu mencari gara-gara yang menjadikan aku sebagai target. Di dalam negara yang aman aku sangat suka sedikit mencari bahaya seperti pergi ke tempat-tempat underground seperti mencari ganja dan juga menyusuri malam-malam yang gelap. Di negara-negara seperti ini, aku tak perlu mencari bahaya karena bahaya sudah berada disana sejak awal. Contoh yang paling sederhana adalah ketika aku masuk ke perbatasan Rwanda Kongo. Baru saja nongkrong sebentar aku sudah diincar beberapa pemuda yang ingin merampokku. Untung seorang penduduk lokal yang baik memberitahuku. Terus terang, aku mengukur kemampuanku bertarung dengan 7-10 orang yang mungkin bersenjata. Tak ada kemungkin aku menang kecuali aku memegang senapan mesin, granat atau peluncur roket. Aku lebih memilih mundur daripada sok jagoan.

Satu hal yang paling sering terjadi di negara konflik adalah pemeriksaan oleh militer di berbagai militer checkpoint baik dari pemerintah maupun pemberontak. Bersikap bersahabat dan tidak sok jagoan sangat penting. Para tentara ini sudah sangat stress dengan tugas mereka, tak perlu menambah stress mereka dengan bertindak tidak sopan dan sok jagoan. Popor senjata mungkin bisa mendarat di perut atau dikepala. Lah, wong sopan aja bisa ditabok, gimana kalau nggak sopan.

Semua orang kalau travel pasti suka foto-foto. Saranku, bawa karema kecil (poket) saja. Tak perlu bawa peralatan kamera yang berat kecuali anda seorang fotografer pengalaman. Aku hany membuat foto di negara-negara seperti ini dengan kamera hp-ku yang sederhana. Selain itu jangan pernah memotret pos-pos militer ataupun tentara yang lagi bersiweleran kalau tidak mau jadi urusan. Banyak hal-hal lain yang mungkin tidak bisa kuingat dan kusebutkan satu persatu tapi aku rasa apa yang kusebutkan diatas cukup bisa dimengerti. Kalau nggak ngerti juga, ya jangan pergi ke negara-negara seperti ini daripada nanti cuma ngantar nyawa doang…….:-p.

Semoga bermanfaat……

Tulisan-tulisanku soal Travel Tips Yang “Aneh” lainnya:

Travel Tanpa Buku Panduan

Menghadapi Masalah-Masalah Sosial Yang Tak Terduga Pada Saat Travel Di Luar Negeri

Travel Tak Harus Gembel

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber:  Pengalaman Pribadi, “Places In Between”, “Lonely Survivor”, “Three Cups of Tea”
Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting