Travel Di Negara Konflik Dan Bertahan Hidup, Part 1


Aku sudah sering membaca keinginan seseorang untuk traveling di sebuah negara perang dengan hayalan yang tinggi. Sayangnya, kebanyakan dari orang-orang yang berangan-angan pergi ke negara konflik ini mempunyai pemahaman yang salah soal travel di sebuah negara konflik. Mereka berpikir traveling kesana seperti nonton film Indiana Jones yang ditembaki ribuan tapi tak pernah kena atau seperti bermain game “Medal of Honor” atau “Call of Duty” dimana pemainnya bisa mati bisa hidup berkali-kali. Petualangan di negara konflik seperti ini sering digambarkan sangat heroik dan menantang. Aku tidak menyalahkan ada orang berpikir seperti itu karena banyak orang berpikir perang atau konflik adalah sebuah romantika. Kenyataan yang aku lihat tidaklah demikian karena di negara-negara konflik seperti ini terlalu banyak kematian, kemiskinan, perkosaan, pembunuhan, dan hal-hal mengerikan lainnya. Walaupun begitu, aku merasa tak perlu terlalu paranoid dengan semua yang kulihat karena selalu ada cara untuk bertahan hidup.

Tantangan atau thriller bukanlah hal yang paling kucari ketika berada di negara-negara seperti ini. Banyak cerita dan pengalaman dari orang-orang yang terlibat dalam perang dan konflik itu sendiri memberikan inspirasi kepadaku untuk lebih menghargai hidup. Paling tidak aku tidak terlalu banyak berkeluh kesah tentang kesulitan yang kuhadapi walaupun terus terang aku masih perlu belajar sangat banyak untuk itu.

Tulisan ini berisi hal yang kupelajari selama perjalananku di berbagai negara yang sedang konflik yang aku piker mungkin berguna bagi kawan-kawan yang suatu sangat ingin masuk ke negara-negara konflik yang berbahaya. Apa yang kuceritakan disini adalah pengalaman-pengalaman perjalananku di Irak (2007), Nepal (2006), Kenya (2008), dan perbatasan Kongo-Rwanda, Goma (2008) ketika negara-negara ini masih terlibat perang dan konflik etnis. Aku juga pernah ke Israel dan Palestina tapi sudah hampir 12 tahun lalu sehingga aku tak banyak hal yang kuingat disana. Selain itu ada juga beberapa tambahan dari beberapa traveler gila yang pernah menjelajahi Afghanistan.

1. Mendapatkan Visa Masuk

Visa adalah salah satu bagian tersulit untuk didapatkan. Kebanyakan pemerintah negara yang sedang perang akan selalu melihat curiga kepada setiap orang yang masuk ke negara mereka. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan mulai dari yang sederhana sampai yang ekstrim. Visa Irak tak susah kudapatkan karena aku memang kerja disana sehingga dengan mudah disetujui dengan rekomendasi dari perusahaanku. Visa Kenya juga tak susah kudapatkan karena konflik tahun 2008 disana bersifat konlik etnis dan tidak melibatkan pihak lain di luar Kenya. Kenya justru membutuhkan turis-turis datang kembali ke negara mereka karena turis-turis yang biasanya memenuhi Kenya melarikan diri saat konflik berlangsung. Visa Nepal tahun 2006 adalah yang paling mudah walaupun negara ini mengalami perang sipil bertahun-tahun tapi orang asing yang masuk tidak dipersulit bahkan dengan mudah didapatkan dengan visa on arrival. Visa Kongo sedikit sulit untuk mendapatkannya. Konflik yang berkepanjangan di negara ini dan telah berlangsung lebih dari 14 tahun serta menewaskan 4.5 juta orang hanya menyisakan sedikit wilayahnya untuk bisa dimasuki. Setelah mencari informasi kesana dan kemari, cara yang paling mudah mendapatkan visa adalah dengan mengurus lewat penginapan-penginapan dan juga travel agent yang melakukan trip ke Kongo. Perjalanan bisa dilakukan dengan group atau pun perorangan.

Ada seorang traveler dari Italia yang kukenal ketika makan malam di restoran Chef Pride Dar Es Salaam. Traveler Italia ini bernama Paulo dan seorang yang sangat nekad. Beberapa tahun yang lalu di masuk Afghanistan dari wilayah Waziristan dengan menyamar sebagai anggota Taliban. Selama beberapa bulan dia bergabung dengan Taliban sebelum keluar dari Afghanistan. Tampangnya yang memang mirip dengan orang Arab membuatnya mudah untuk berbaur. Nah, mungkin ada teman-teman yang mau travel dengan cara begini? Selalu banyak cara jalan ke Roma..:-p

2. Tentang Perang Modern

Sebagian besar orang membayangkan perang seperti jaman perang dunia I dan II dimana setiap negara yang bertikai memobilisasi pasukan besar-besaran. Aku rasa tak salah juga orang berpikiran seperti itu karena kebanyakan orang memang tidak punya gambaran yang memadai soal perang. Perlu diketahui bahwa perang modern berbeda sekali dengan perang dunia I dan II. Perang modern lebih bersifat terbatas yang tak memerlukan jutaan jutaan pasukan infanteri untuk bertempur tetapi lebih banyak menggunakan alat perang berteknologi tinggi yang efisien dan efektif. Pertempuran juga tidak terjadi setiap saat karena perang yang terjadi lebih bersifat kepada perang gerilya dimana musuh yang menyerang tidak jelas dan menghilang sekejap setelah melakukan serangan. Oleh karena sifatnya yang terbatas, tak semua bagian negara yang dilanda konflik terlibat dalam pertempuran.

3. Wilayah “Aman” Dalam Sebuah Negara Konflik.

Kebanyakan orang berpikir bahwa sebuah negara yang dilanda peperangan pastilah seluruh bagian negara tersebut tidak aman. Pemikiran ini tidak salah dan wajar kalau ada orang yang berpikir seperti itu. Masalah aman atau tidak aman itu memang sangat relatif. Bagiku dan orang-orang yang suka bertualang dengan cara yang sedikit ekstrim, Irak Utara adalah bagian yang “aman” walaupun perang antara pasukan Turki dan pemberontak Kurdi tak jauh dari tempatku bekerja. Serangan bom dan tembak menembak juga terjadi di tempat ini ketika aku berada disana tetapi frekuensinya tidak sesering di Baghdad atau Falujah dan skalanya juga lebih kecil. Jadi menurut pemikiranku dan beberapa orang lainnya, Irak Utara relatif aman.

Kongo yang dilanda perang selama belasan tahun sebagai kepanjangan dari peristiwa genocide di Rwanda dan telah menewaskan 4.5 juta orang masih menyisakan “kawasan yang aman” bagi para traveler yaitu kota Goma yang berbatasan dengan kota di Rwanda Ruhungeri. Traveler-traveler yang ke Rwanda termasuk aku biasanya menyeberang ke Goma. Sialnya walaupun termasuk “aman”, aku hampir saja dirampok oleh sekelompok pemuda disini kalau saja aku tidak ditolong oleh seorang penduduk lokal yang baik hati. Makanya, dari awal aku bilang “aman” itu relatif sifatnya.

Pengalamanku di Kenya ketika kerusuhan melanda negara itu di awal 2008 juga tak jauh berbeda. Banyak sekali traveler yang angkat kaki dari negara itu ketika konflik politik yang bermuara pada konflik etnis itu meletus. Tembak menembak terjadi di beberapa kota tetapi itu tidak termasuk kota-kota pantai Timur Kenya seperti Mombasa dan Milindi. Kota-kota ini “aman-aman” saja dan jauh dari hiruk pikuk teriakan massa dan suara peluru yang berdesingan. Aku merasa tidak aman bukan karena tejadi konflik tetapi karena aku salah satu dari turis yang ada di Mombasa saat itu sehingga aku menjadi target operasi anak-anak jalanan.

Aku tak perlu bercerita tentang Nepal yang terlibat perang sipil berkepanjangan antara pemerintah kerajaan Nepal dengan partai komunis negara itu. Walaupun dalam keadaan perang sipil, tak ada turis yang pergi karena pemberontak komunis juga bisa dibilang “friendly” saat itu. Mereka cuma minta “sumbangan sukarela” $ 25 dollar kepada setiap turis atau traveler asing yang lewat daerah mereka. Sumbangan sukarela ini memang lebih tepat dikatakan sebagai pemerasan karena orang yang meminta sumbangan dilengkapi dengan senjata berat (Bersambung ke:  Travel Di Negara Konflik Dan Bertahan Hidup,Part 2)

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi
Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting