Orang-Orang Tua Yang Punya Nyali


Petualangan bukanlah milik orang muda saja. Paling tidak itulah yang kurasakan ketika bertemu dengan Professor Peta dan istrinya di Laban Rata, pos terakhir sebelum puncak Gunung Kinabalu enam tahun yang lalu. Aku “melarikan diri” sejenak dari pekerjaanku di menara kembar Petronas sana untuk mendaki Gunung Kinabalu bersama Daniel, seorang engineer dari Swiss.  Kami berdua bertemu dengan Profesor Peta dan istrinya yang sudah berumur 65 tahun ketika sedang menikmati kopi panas di kantin Laban Rata. Walaupun mereka sudah berumur, tetapi semangat mereka bertualang sangat menyala-nyala. Terus terang, aku sedikit skeptis ketika pasangan suami istri ini bilang bahwa mereka akan mendaki sampai puncak Gunung Kinabalu. Aku bertaruh secangkir coklat panas dengan Daniel kalau pasangan tua ini tidak akan pernah mencapai puncak. Sikap skeptisku sepertinya tidak pada tempatnya. Profesor Peta dan istrinya “berhasil” mendaki puncak dan akupun kalah taruhan dengan Daniel. Sepasang suami istri tersebut memang punya nyali lebih di usia mereka yang sudah lanjut.

Prof Peta, His Wife, Me and Daniel

Henry dan istrinya yang aku lupa namanya adalah orang Kanada kelahiran Hongkong yang sedang melakukan perjalanan keliling dunia ketika aku bertemu mereka berdua di Hongkong. Henry menjual sebagian usahanya untuk modal keliling dunia karena merasa sebagian besar tugasnya sebagai orang tua telah selesai. Maklum saja, anak-anak mereka sudah mandiri dan punya pekerjaan yang hebat di Kanada sana. Walaupun perjalanan mereka tidak ekstrim, tetapi nyali mereka untuk berkeliling dunia dalam usia yang sudah lanjut patut dihargai karena mereka sama sekali tidak menggunakan travel agent dalam perjalanan mereka. Entah kenapa dia bisa akrab denganku. Beruntung juga karena selama keliling Hongkong, aku kerab ditraktir oleh mereka…..:-p

Perjalananku berikutnya di Afrika mempertemukanku dengan berbagai orang lanjut usia yang sedang melakukan misi keliling dunia. Kembali aku bertemu orang tua bernama Henry, tetapi dia berasal dari Jerman. Dia mengaku sebagai pensiunan dokter gigi. Aku bertemu dengannya karena kami menginap  di penginapan yang sama. Orangnya sangat ceria dan suka bercerita. Mungkin dia tak punya banyak teman untuk diajak bicara di Jerman sana karena kehidupan mereka yang sangat individualistis. Henry memang dokter gila karena dia bukan hanya pergi ke negara-negara yang aman tetapi juga sampai ke negara-negara Amerika Selatan yang tidak aman. Salah satu kegilaanya adalah menempel visa Kuba di dalam paspornya yang membuat dia tidak akan pernah bisa masuk ke Amerika lagi. Padahal, visa Kuba tak perlu ditempel di paspor karena memang untuk menghindari orang yang masuk Kuba tidak diperbolehkan masuk ke Amerika. Dia bilang persetan dengan Amerika. Aku hanya tertawa saja melihat ulahnya yang nyentrik. Di usianya yang sudah lebih dari 60 tahun, dia punya energi seperti orang 20 tahun. Tak ada yang tidak kenal dia di penginapan karena selain ramah, dia juga sangat enerjik. Suaranya yang kencang bisa membangunkan semua penghuni penginapan…..:-p

Orang lanjut usia dengan nyali gede berikutnya yang akan kuceritakan adalah Shigehishe Masuda dan istrinya dari Kyoto, Jepang. Pasangan Jepang ini memang tidak setua pasangan Professor Peta tetapi dari tampang, umur mereka mungkin sudah mendekati 60 tahun. Perkenalanku dengannya memang sedikit aneh. Saat itu aku lagi bengong di tepian sungai Nil di kota Luxor sana. Dia dan istrinya dengan wajah takut-takut mendekatiku sambil melirik kamera Nikon D-70S-ku yang dilengkapi dengan lensa Nikkor 200 mm, F-28. Entah apa yang dia kagumi dari kameraku sampai aku tak tahan  juga melihat ulah mereka yang melirik-lirik terus. Dengan polosnya dia bilang “good” berulang kali sambil mengacungkan jempol. Aku tak tahu yang dia maksud dengan “good” itu. Akupun langsung mengajak kenalan untuk mencairkan suasana. Shigehishe pun langsung menceritakan masalah yang dia hadapi. Dia berusaha mencari info cara pergi ke Kairo dan menyeberang perbatasan dengan ferry ke Yordania. Aku merasa sedikit aneh ada orang Jepang yang bertanya soal informasi perjalanan kepada orang non Jepang karena traveler Jepang pasti punya “buku primbon” traveling versi Jepang yang lebih kerena daripada buku-buku panduan terbitan negara-negara Barat. Kenapa aku bilang lebih keren karena di buku panduan Jepang banyak sekali informasi restoran, penginapan, dan tour yang sangat murah.

Shigehimeshu  mengaku memang punya buku panduan versi Jepang ini sebelum dia berangkat traveling, tetapi dia dirampok di Johanesberg, Afrika Selatan ketika sedang berbelanja di sebuah pasar rakyat. Banyak barang-barang mereka hilang termasuk buku-buku panduan dan juga alat penterjemah elektronik. Tanpa buku panduan dan alat penterjemah, mereka berhasil sampai ke Luxor dari Afrika Selatan lewat jalan darat dan udara. Gila bener…..!!! Terus terang aku sangat salut dengan pasangan ini. Dengan keterbatasan bahasa dan juga informasi, mereka berhasil menjelajahi bagian-bagian yang berbahaya di benua Afrika. Akupun tak segan untuk menolong mereka. Segala informasi yang kuketahui soal Yordania aku tuliskan buat dia dan istrinya. Di akhir pertemuan kami, Shigehimeshu menuliskan alamatnya di buku jurnalku dan memohon dengan sangat supaya aku datang ke rumahnya di Kyoto sebagai ucapan rasa terima kasih. Benar-benar pasangan yang ramah dan berani.

Sebenarnya, aku  banyak bertemu dengan orang-orang tua  yang lain tetapi aku rasa orang-orang yang kuceritakan diatas bisa mewakili orang-orang tua yang masih punya kegilaan untuk menjelajahi dunia.  Usia boleh tua tapi nyali tetap muda.  Nobody is too old for an adventure……..

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting