Orang Koptik………Dan, Semua Orang Mesir Bersaudara


Selalu saja ada yang menarik perhatianku terhadap suku-suku minoritas di berbagai belahan dunia, apalagi seperti orang Koptik yang sudah ada sejak ribuan tahun yang silam di Mesir. Berita-berita yang tidak mengenakkan tentang kehidupan mereka sebagai minoritas di Mesir memang telah kudengar. Kebetulan berada di Mesir, tak ada salahnya aku mencari kesempatan untuk mengetahui kehidupan mereka lebih dekat. Aku memang selalu punya masalah dengan rasa ingin tahu…..:-p.

Perlu diketahui bahwa  orang Koptik adalah orang-orang Kristen Mesir yang beraliran koptik. Aliran Kristen Koptik  merupakan salah satu aliran Kristen paling tua selain Maronit, Katolik dan Ortodox. Di Timur Tengah, ketiga aliran Kristen ini  yang mendominasi penganut disana. Khusus di Mesir, jumlah penganut Koptik sekitar 9% dari jumlah penduduk Mesir. Tokoh Koptik yang paling terkenal mungkin adalah Boutros Buotros-Ghali yang pernah menjadi Sekretaris Jenderal PBB periode 1992-1997.

Ciri khas yang membedakan orang Koptik dan penduduk Mesir lainnya adalah tanda-tanda Kristiani yang mereka kenakan seperti kalung salib dan juga gambar-gambar Yesus Kristus yang mereka taruh di dinding-dinding rumah atau toko mereka. Secara fisik memang  tidak ada perbedan yang berarti antara orang Koptik dengan orang-orang Mesir lainnya yang berasal dari keturunan Arab. Mereka persis seperti orang-orang Timur Tengah pada umumnya. Orang Koptik juga dipercaya sebagai penduduk asli Mesir yang turun temurun hanya menikah dengan kaumnya saja.  Sedangkan penduduk Mesir yang beragama Islam merupakan hasil pembauran antara orang Mesir dengan orang Arab setelah kerajaan-kerajaan kuno Mesir ditaklukkan oleh pasukan  Muslim keturunan Arab. Pengaruh Arab tak hanya sampai kepada orang Mesir yang muslim saja, tetapi juga kepada orang Koptik. Salah satu contohnya adalah tata bahasa liturgi (tata cara ibadah) gereja ke dalam bahasa Arab.

Interaksiku dengan Orang Koptik terjadi pertama kali ketika aku membeli roti di sebuah toko roti yang dimiliki oleh keluarga Koptik di kawasan Midan Tahrir. Kebetulan toko roti mereka hanya berjarak sekitar 10 meter dari guesthouse tempat aku menginap. Toko roti ini setiap pagi dijaga oleh seorang gadis cantik penganut Koptik. Mungkin dia anak dari pemilik toko. Setelah dua hari berturut-turut melihat dia menjaga toko, akupun berusaha menyapanya. Tidak ada maksud jahat dalam pikiranku, kecuali  sekedar ingin ngobrol-ngobrol seputar agama koptik dan kehidupan mereka sebagai minoritas di Mesir. Aku cukup terkejut dengan reaksi gadis Koptik tersebut. Jangankan mendapatkan namanya, dia malah membalas sapaan perkenalanku dengan ketus dan wajah yang marah. Sebelum kesalahpahaman dengannya semakin lebar, aku pun memilih pergi. Aku tak mau dikira pengganggu anak gadis orang, di negara orang pulak.  Sikap si gadis Koptik menyadarkanku bahwa adalah hal yang tabu bagi seorang wanita di Timur Tengah berbicara dengan seorang pria asing.  Jujur saja, aku awanya berpikir budaya tersebut hanya berlaku untuk wanita-wanita Muslim saja. Ternyata aku salah……..

Aku kembali bertemu dengan orang Koptik yang membuka apotik di Aswan. Penjaga apotik kebetulan seorang gadis cantik dengan kalung salib. Aku yakin dia pasti seorang Koptik, tetapi pengalamanku di Midan Tahrir membuatku berpikir dua kali sebelum melakukan pembicaraan dengannya. Padahal, aku sudah sangat tergoda untuk melakukannya.

Marcus…..Guideku di Karnak Temple

Perjalananku di Mesir membawaku ke salah satu kota paling tua di Mesir, Luxor.  Karnak Temple yang masih berdiri megah di kota ini menjadi salah satu tujuanku selama berada di kota ini. Ketika sedang asyik berjalanan menuju pintu masuk ke dalam kuil Karnak, seorang tua yang berjalan pelan mendatangiku dan mengaku sebagai guide.  Kebetulan aku juga sedang mencari guide yang bisa menjelaskan kepadaku tentang sejarah Karnak Temple. Tapi, melihat kondisi fisiknya yang sudah renta, aku ragu memakainya sebagai guide.  Cara berjalanku yang cepat tak mungkin bisa diimbangi olehnya. Rasa iba yang akhirnya membuatku memakainya sebagai guide.

Tak ada yang kebetulan di muka bumi ini, begitulah kata sebuah kitab suci. Hal tersebut juga terjadi padaku. Tuhan pasti tahu isi hatiku yang ingin ngobrol dengan orang Koptik. Ketika orang tua ini memperkenalkan diri dengan nama Marcus, aku langsung tahu kalau dia seorang Koptik.  Tentu saja aku sangat senang. Untuk pertama kalinya aku bisa ngobrol dengan orang Koptik dan kesempatan untuk  belajar tentang kehidupan mereka pun terbuka.

Marcus menjelaskan banyak hal tentang sejarah Karnak Temple selama hampir setengah jam. Jujur saja, aku tak terlalu tertarik dengan ceritanya tentang kuil ini. Aku lebih suka dia bercerita tentang kehidupannya sebagai minoritas di Mesir. Dengan berbagai cara aku bertanya soal kehidupannya sebagai orang Koptik dan sebagai minoritas di Mesir di sela-sela penjelasannya soal sejarah Kuil Karnak.  Aku berharap besar dia mau berbagi sedikit tentang kehidupannnya sebagai orang Koptik, tetapi usahaku untuk “mewawancarai” Marcus  seperti membentur tembok. Walaupun aku berusaha keras membuka pembicaraan soal Koptik, dia  selalu mengalihkan pembicaraan kembali ke soal Karnak Temple.  Di akhir percakapanku dengannya, hanya sedikit yang bisa kutahu tentang kehidupan pribadi Marcus. Dia hanya memberitahuku bahwa istrinya seorang penganut Katolik dan  semua orang Mesir bersaudara.  Selebihnya, dia hanya mengucapkan selamat tinggal dan meminta tambahan 5 EP lagi dari harga 20 EP yang sudah disepakati. Karena merasa kasihan dengan kondisinya yang sudah tua dan renta, aku tidak berkeberatan memberi tambahan 5 EP.

Sebelum berlalu dariku, aku sempat membujuk Marcus untuk terakhir kalinya supaya dia mau membuka sedikit informasi soal kehidupan orang Koptik. Tapi, Marcus tetap tak mau bicara soal itu. Dia hanya berkata bahwa tak ada yang perlu diketahui soal orang Koptik karena semua orang Mesir bersaudara. Aku lalu duduk di salah satu sudut Karnak Temple sambil melihatnya berlalu. Berbagai pertanyaan muncul dalam kepalaku, terutama soal ketertutupannya.  Seperti ada ketakutan untuk berbicara. Aku memang mendengar rumor kalau kehidupan orang Koptik di Mesir selalu dilanda ketidakpastian. Penganiayaan dan ketidakadilan secara hukum mereka alami sebagai minoritas di Mesir. Mungkin hal terseubt yang membuat Marcus takut berbicara.

Satu hal yang menarik dari ucapan Marcus adalah kalimat semua orang Mesir bersaudara. Dia sampai menyebutkan dua kali kalimat tersebut kepadaku. Kata-kata tersebut persis sama dengan ucapan pemilik guestshouse tempat aku menginap di Luxor yang kebetulan adalah seorang Nubia, suku minoritas lain di Mesir………”Semua orang Mesir bersaudara.”

Pengalaman-Pengalamanku lainnya di Mesir:

Gara-Gara Tampang Arab

Elephantine Island Kampung Orang Nubia

Perjalanan Di Mesir Dalam Gambar

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi
Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting

About these ads