Rasta…….Sebuah Jalan Kehidupan


Sebelum berkelana ke Afrika aku tak banyak tahu soal Rasta, sebuah aliran kepercayaan yang banyak diminati orang di Afrika Timur dan juga Karibia. Gerakan Rasta ini pertama kali muncul di Jamaica sekitar tahuna 1930-an. Para penganut Rasta ini mempercayai salah satu Kaisar Ethiopia Sellasie sebagai perwujudan Tuhan di muka bumi. Entah bagaimana para kaum Rasta menetapkan Sellasie sebagai perwujudan Tuhan, akupun tidka tahu. Kaum Rasta juga percaya bahwa Afrika adalah asal-muasal manusia dan peradabannya. Kalau secara Science dalam acara National Geography yang berjudul Finding Adams, memang dibuktikan bahwa DNA manusia tertua ada di Afrika. Soal kebenaran hakikinya itu milik Tuhan, cuma Dia yang tahu.

Pertemuan pertamaku dengan kaum Rasta terjadi di hari pertamaku berada di Dar Es Salaam, Tanzania. Aku keliling kota Dar yang sedang sepi karena bertepatan dengan hari minggu. Di jalan-jalan yang kulalui hanya ada aku dan para Rasta yang menjual souvenir sekaligus ganja. Sialnya, menurut informasi para Rasta yang berkeliaran di jalan-jalan menjual souvenir ini sering bekerja sama dengan polisi untuk menjebak turis yang mau beli ganja. Aku pun tak mau dekat-dekat dengan mereka jadinya.

Keakraban dengan Rasta mulai terjalin ketika aku dalam perjalananku dengan kereta api dari Dar Es Salaam ke Mbeya di Tanzania. Aku dan Tim teman perjalananku di Tanzania dan Malawi satu kamar dengan dua orang Zambia yang masih bersaudara, Ronald dan abang iparnya Geoffrey. Geoffrey adalah penganut Rasta, terlihat dari rambut gimbalnya.  Di jam-jam pertama aku berada dalam kereta, aku ngobrol banyak dengan Geoff sampai pada saat dia bilang, “I need to find marijuana for my ritual”. Masalahnya, dia lupa bawa ganja ketika masuk dalam kereta. Padahal tak sulit mendapatkan ganja di Tanzania. Dia kemudian keluar dari kamar untuk mencari ganja tapi dia balik ke kamar dengan sebotol bir sambil berkata, “I think beer is ok to fly”.  Tak ada ganja, bir pun jadi….:-p.

Tim dan Geoffrey, si Rasta….

Geoff  menjelaskan padaku tentang pentingnya ritual menghisap ganja bagi kaum Rasta. Menurutnya, ganja adalah cara tercepat untuk masuk ke dalam keadaan “trance” (kerasukan). Dalam keadaan trance, para penganut Rasta akan lebih mudah berhubungan dengan dunia Roh. Yang agak kacau, Geoffrey tidak bisa trance walaupun minum banyak bir. Dia malah mabuk nggak karuan sampai tidur dengan bir di tangan. Sarapan pagipun dia minum bir. Dan, setiap kali dia melihatku dia akan selalu berkata, “I am still in ritual, John.” Setelah itu dia akan menyanyikan lagu……”Johny be good”. Aku hanya tertawa saja melihat ulahnya. Walaupun mabuk, Geoffrey tidak rusuh kayak orang-orang mabok biasanya.

Di Malawi, tepatnya Nkhata Bay yang persis terletak di salah satu sisi Danau Malawi, aku bertemu dengan seorang rasta bernama Simon. Di menjadi “artis” yang menghibur penghuni penginapan kami. Sarah, wanita Inggris pemilik penginapan memang berusaha menghadirkan warna-warna lokal di penginapannya. Simon menyanyikan lagu-lagu reggae ciptaannya. Bukan tidak menghargai kerja kerasnya, tetapi nada-nada monoton yang keluar dari gitanya dengan kord C, F, G terus menerus membuatku sedikit bosan. Simon sedikit kagum ketika aku memainkan gitar milik penginapan dengan kord-kord yang lebih variatif. Aku bukan mau “show off” (dikit sih ada…..:-p),  tetapi hanya sekedar menunjukkan kepadanya supaya lebih variatif memainkan kord-kord gitar supaya lagunya tidak membosankan. Simon aku rasa adalah Rasta yang paling humble dari semua teman-teman Rastaku yang lain di Afrika ini. Dia punya satu orang istri dan dua orang anak yang harus dia hidupi. Bernyanyi dari lagu-lagu ciptaanya yang kebanyakan berbicara tentang kemanusiaan adalah caranya memenuhi kebutuhan hidupnya dan juga memberi pesan kepada dunia tentang perdamaian.

Eddy adalah Rasta terakhir yang menjadi temanku di Afrika. Aku bertemu dia di penginapan kami di Arusha karena dia memang salah satu staff penginapan. Karenanya setiap hari aku bertemu dengannya. Dia sangat humble dan baik hati. Banyak pertolongan yang dia berikan kepadaku selama seminggu aku berada di Arusha. Tak heran ketika aku berjalan dengannya di jalan-jalan Arusha, orang-orang disana acap kali menyapanya. Aku bertanya kepadanya kenapa banyak sekali orang yang mengenalnya. Eddy memberitahuku bahwa oranng-orang Afrika mengenal Rasta sebagai orang-orang pencinta damai.

Aku banyak belajar soal filosofi Rasta dari Eddy, tentang ritual-ritualnya dan juga filosofi  hidupnya. Bagi Eddy, Rasta adalah sebuah jalan kehidupan. Dengan menjadi seorang Rasta, dia merasa hidupnya  jauh lebih damai. Aku rasa di tengah-tengah masyarakat Afrika yang terkenal dengan kekerasan, perang, kemiskinan, dan kelaparan, perlu orang-orang yang berpikiran seperti Eddy. Walaupun Eddy seorang pencinta damai, Eddy juga suka melakukan petualangan seks bebas. Sudah berapa tamu wanita penginapan yang menjadi “korban kasih sayangnya”. Menurutnya, seks bukanlah sebuah dosa tetapi lebih kepada pengungkapan rasa cinta kasih. Aku terus terang tidak tahu apakah yang dikatannya itu berasal dari filosofi Rasta atau pendapat pribadinya. Maklumlah, kalau urusan seks semua orang pasti mencari-cari alasan untuk melegalkan perbuatan mereka. Nobody’s perfect anyway……..

Copyright : Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting