Luang Prabang……Eksotisme Baru Indocina


Aku sudah beberapa kali berencana ke Laos, tetapi baru kesampian pergi kesana Desember 2010 yang lalu. Tak seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya, aku pergi bersama istriku kali ini. Kami memang berencana menjelajahi Indocina setelah pernikahan kami. Salah satu alasanku singgah di Laos adalah Luang Prabang, kota tua yang sempat menjadi pusat peradaban Laos.

Kami memasuki Laos melalui perbatasan Thailand-Laos di Nongkhai. Satu hal yang langsung kusadari ketika memasuki negara ini adalah lebih mahalnya harga-harga dibanding negara-negara Asia Tenggara lainnya….:-p. Vientiane, ibukota Laos tak jauh dari perbatasan. Kota ini besarnya tak lebih daripada sebuah kota kabupaten di Indonesia, tetapi kebersihan dan tata kotanya jauh melebihi kota pemenang adipura di Indonesia….:-p. Aku dan istriku tak bertahan lama disini dan langsung meneruskan perjalananku ke Luang Prabang. Untuk pergi kesana, kami tak punya pilihan lain kecuali naik bus dari Vientiane. Ada dua jadwal keberangkatan, pagi dan malam. Karena tak ingin tidur di dalam bus, kami memilih jadwal pagi yang sedikit kami sesali di akhir perjalanan. Kami merasa sedikit tertipu dengan “iklan” perusahaan bus yang mengatakan bahwa perjalanan dari Vientiane ke Luang Prabang hanya  memakan waktu 8 jam. Kenyataannya, bus yang kami tumpangi baru tiba di Luang Prabang setelah 12 jam perjalanan yang melelahkan.

National Museum Luang Prabang

Setelah Siem Reap dengan Angkor Wat-nya  mengalami “tourist booming”, Luang Prabang menjadi pilihan alternatif bagi para traveler terutama yang berasal dari negara Barat untuk menikmati sedikit ketenangan dan juga eksotisme Indocina. Kota ini memang belum terlalu dijamah oleh turisme. Akses yang sedikit sulit mungkin menjadi salah satu alasannya, sehingga orang-orang yang datang kesini setidaknya punya “sense of adventure”. Luang Prabang bukanlah kota kecil seperti Siem Reap yang punya  situs-situs kuno berupa kompleks kuil Angkor yang menjadi atraksi turisme yang menarik. Vati Xieng Temple dan Pak Ou Caves  yang cukup terkenal di Luang Prabang sebagai situs yang banyak dikunjungi turis bukanlah “tandingan” Angkor Wat yang megah itu.  Aku lebih cenderung menilai Luang Prabang sebagai sebuah kota peristirahatan yang menawarkan “udara segar”.  Lokasi Luang Prabang yang berada di dataran tinggi dan dikelilingi oleh gunung serta persis berada di pinggiran sungai Mekong membuat kota kecil ini memang cocok sebagai tempat untuk menenangkan pikiran sambil menikmati sedikit petualangan. Kebanyakan traveler yang datang kesini memang memilih melakukan trekking sambil menyusuri desa-desa beberapa suku minoritas yang ada disekitar Luang Prabang ataupun naik perahu di Sungai Mekong.

Luang Prabang bagiku bukanlah tempat yang tepat memacu adrenalin. Kota kecil ini bisa dikatakan sangat aman dan jauh dari hiruk pikuk sebuah kota turis yang biasanya dipenuhi oleh penipu, kriminal, maupun oportunis yang memanfaatkan kesempatan. Attitude orang Laos yang low profile dan ramah membuat semua urusan lebih mudah jika dibandingkan kalau berurusan dengan orang Vietnam atau Kamboja.  Tak ada jeritan minta uang tips yang besar seperti yang pernah kualami di Vietnam. Urusan jual beli barang kerajinan di pasar malam Luang Prabang juga tak serumit di kota-kota turis pada umumnya. Tawar-menawar biasanya berlangsung sebentar saja sebelum terjadi kesepakatan harga. Pedagang-pedagang disini memang belum se-oportunis pedagang kerajinan di kota-kota turis lain di Indocina.

Vat Xieng Temple, Luang Prabang

Mekong River Sunset

Travel ke sebuah negara pasti tak terlepas dari urusan kuliner. Untuk urusan yang satu ini Luang Prabang menurutku agak sedikit “rasialis” karena sebagian besar restoran dan kafe bernuansa Barat. Walaupun begitu aku bisa memakluminya. Sebagian besar traveler yang datang kesini memang orang bule. Ada juga sebagian kecil restoran yang berani menjual makanan-makanan tradisional Laos dengan kemasan yang lebih mahal. Tak ketinggalan restoran China dan juga India yang ikut memeriahkan suasana kuliner di kota ini. Banyak pilihan untuk menikmati kuliner. Tapi, aku dan istriku lebih suka mencari makanan khas Laos murah meriah yang ditawarkan oleh “restoran-restoran kelas emperan”. Bukannya ingin terlalu menghemat, kami hanya ingin merasakan “keaslian” makanan khas Laos. Makanan-makanan khas Laos yang dijual di restoran biasanya sudah disesuaikan dengan “lidah internasional”.  Kebanyakan dari warung-warung makanan pinggir jalan ini menjual noodle soup sebagai menu utamanya, murah dan enak.  Tentu saja kami tak hanya makan noodle soup selama berada di kota ini. Salah satu warung favorit kami adalah sebuah warung makan di pinggir sungai Mekong yang menjual “sinbad”, makanan yang menggabungkan seafood panggang dan sup  dalam satu wadah.

Sinbad, makanan khas Luang Prabang

Quang Xi Waterfall

Kota Luang Prabang terus berbenah untuk menyambut turis/traveler yang akan terus berdatangan ke kota ini. Kafe-kafe, penginapan, travel agent, dan restoran-restoran bermunculan seperti jamur di musim hujan di setiap sudut kota Luang Prabang untuk memenuhi kebutuhan para traveler. Gedung-gedung di sepanjang jalan-jalan Luang Prabang telah berfungsi dari rumah menjadi tempat-tempat yang kusebutkan diatas. Setelah Siem Reap yang sebelumnya menjadi tujuan utama para traveler bule ini menjadi sangat turistik dan komersial, Luang Prabang memang menjadi alternatif tempat eksotis yang baru di Asia Tenggara. Aku yakin tak ada traveler yang mau Luang Prabang menjadi Siem Reap kedua yang dipenuhi oleh bus-bus turis, walaupun hal itu mungkin sia-sia saja. Tak lama lagi kota ini akan seramai Siem Reap. Dan, para traveler kembali harus mencari tempat destinasi yang baru….………

Copyright:  Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Baru
Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting