Ada Preman Terminal Juga Di Yordania


Badai salju telah tiga hari menenggelamkan kota Amman, Yordania (Jordan). Selama tiga hari tersebut juga aku tidak bisa kemana-mana. Aku sempat keluar dari penginapan di hari kedua, kota Amman benar-benar mati dan tinggi salju sampai mencapai 1 meter.  Amman benar-benar “shutdown” gara-gara badai salju selama tiga hari ini. Semua kantor pemerintah dan swasta serta transportasi tidak bekerja. Pemerintah kota ini tak cukup siap dengan badai salju yang parah. Sembilan tahun sebelumnya tepat pada awal musim dingin di akhir Desember 1999, aku pernah datang ke kota ini. Saat itu tak ada salju sedikitpun yang turun. Suhu udara juga tak terlalu dingin, hanya berkisar 6°C. Pemanasan global memang membuat musim di dunia jadi amburadul. Negara-negara gurun pasir di Timur-Tengah pun tak luput oleh badai salju jadinya. Wajar saja mereka tak siap menerima limpahan salju yang begitu banyak.

Hari ke-empat badai salju mereda dan salju mulai mencair. Aku dan temanku asal Irlandia bernama Eouin tak menyia-nyiakan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan ke Petra walaupun kami berdua tak punya ide soal tranportasi yang akan membawa kami kesana. Kami menyewa taxi yang menaikkan ongkos dua kali lipat menuju terminal bus antar kota bagian Utara kota Amman dengan harapan bisa mendapatkan bus ke Petra disana.  Tak ada pilihan bagi kami berdua karena bus dan tranportasi publik lainnya di Amman belum ada yang beroperasi.

Tiba di terminal bus antar kota, kami bertemu dengan empat orang traveler dari Jerman. Mereka juga punya tujuan yang sama dengan kami, Petra. Aku melihat mereka berdiri di antrian bersama orang-orang lokal. Di sekitar mereka ada beberapa orang yang sepertinya “punya kekuasaan” di terminal ini. Mereka berteriak-teriak mengatur para calon penumpang dan bus yang akan berangkat.

Udara yang dingin membuat salah seorang traveler Jerman membuat api di sebuah drum yang tergeletak tak jauh dari tempat kami berdiri. Para traveler Jerman dan beberapa orang lokal langsung bergabung untuk menghangatkan badan di depan drum. Aku dan Eouin memilih untuk berkeliling di sekitar terminal untuk bertanya soal bus jurusan Petra ke beberapa “orang terminal” yang berada disitu. Tak berapa lama kemudian, aku mendengar teriakan dan bentakan dari beberapa orang yang tidak suka dengan api yang dibuat oleh si traveler Jerman. Aku melihat para “preman terminal” yang tadi mengatur bus berusaha memadamkan api di dalam drum. Mereka berusaha menendang drum tetapi usaha mereka dihalangi oleh orang-orang lokal yang ikut menikmati hangatnya api. Terjadilah cekcok mulut antara “preman” dengan orang-orang lokal sedangkan traveler Jerman cepat-cepat menyingkir.

Perselisihan tidak berlanjut ke bentrokan fisik setelah orang yang tadi ngobrol dengan aku dan Euoin turun tangan. Para jagoan terminal yang mau memadamkan api tadi mau menurut dengannya. Sepertinya dia adalah pemimpin preman di terminal ini. Dia juga yang memanggil salah satu supir bus jurusan Petra untuk bekerja. Padahal, tak satupun bus jurusan Petra beroperasi hari itu. Dia mengatakan kepada kami dank e-empat traveler Jerman bahwa kami tak perlu khawatir soal bus. “Bus will come,” katanya meyakinkan kami. Dan, memang benar bus yang dia janjikan benar-benar datang.

Fenomena preman terminal tadinya aku pikir hanya terjadi di Indonesia. Rupanya, di negara Timur-Tengah seperti Yordania juga ada preman terminal walaupun mereka tak segalak preman-preman terminal di Indonesia. Menjadi preman mungkin masih menjadi salah satu cara yang paling mudah mendapatkan uang…….